26 Jul 2026 | Jawa Tengah
Jatengreport
Jateng

UPGRIS Lakukan Needs Assessment untuk Dukung Pemulihan Pendidikan Pascabanjir di Hat Yai

Bintang 18 Jan 2026
UPGRIS Lakukan Needs Assessment untuk Dukung Pemulihan Pendidikan Pascabanjir di Hat Yai

Hat Yai, Thailand Selatan (Jatengreport.com) – Universitas Persatuan Guru Republik Indonesia Semarang (UPGRIS) menunjukkan komitmennya dalam membangun kerja sama internasional yang berdampak nyata melalui pelaksanaan needs assessment atau pemetaan kebutuhan di sejumlah sekolah mitra di Hat Yai, Thailand Selatan.

Kegiatan ini menjadi tahapan awal sebelum mahasiswa melaksanakan Program Pengenalan Lapangan (PPL) Internasional dan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Internasional sebagai implementasi Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) sekaligus penguatan pendidikan internasional.

Berkolaborasi dengan Al Hidayah Foundation, tim UPGRIS melakukan observasi terhadap sekolah-sekolah yang terdampak banjir beberapa waktu lalu. Selain meninjau kondisi sarana dan prasarana pembelajaran, dosen pembimbing bersama mahasiswa juga berdialog dengan kepala sekolah, guru, serta masyarakat sekitar untuk mengidentifikasi kebutuhan paling mendesak dalam proses pemulihan pendidikan.

Pendekatan tersebut menjadi ciri khas pelaksanaan program internasional UPGRIS. Sebelum menjalankan kegiatan pengabdian maupun praktik mengajar, mahasiswa terlebih dahulu memahami kondisi nyata di lapangan sehingga setiap program yang dirancang benar-benar sesuai dengan kebutuhan mitra.

Hasil pemetaan menunjukkan bahwa sejumlah sekolah masih membutuhkan dukungan dalam penataan ruang belajar, penguatan motivasi belajar siswa, penyediaan media pembelajaran sederhana, pengembangan kegiatan literasi, serta pendampingan pembelajaran yang mampu mengembalikan semangat peserta didik pascabencana. Temuan tersebut kemudian menjadi dasar penyusunan program PPL Internasional dan KKN Internasional selama mahasiswa berada di Thailand Selatan.

Rektor UPGRIS, Dr. Sri Suciati, M.Hum., menegaskan bahwa keberhasilan kerja sama internasional tidak diukur dari banyaknya kegiatan yang dilaksanakan, melainkan dari sejauh mana program tersebut memberikan manfaat nyata bagi masyarakat mitra.

"UPGRIS selalu menempatkan kebutuhan mitra sebagai prioritas utama. Oleh karena itu, needs assessment menjadi langkah penting agar setiap program internasional memiliki dampak yang relevan, terukur, dan berkelanjutan. Kami ingin kehadiran mahasiswa benar-benar membantu proses pemulihan pendidikan sekaligus memperkuat hubungan baik dengan mitra internasional," ujarnya.

Pelaksanaan pemetaan kebutuhan ini juga selaras dengan konsep IPCSA 5E yang menjadi kerangka pelaksanaan berbagai program internasional UPGRIS. Pada aspek Education, mahasiswa mempelajari secara langsung sistem pendidikan di negara mitra. Aspek Exchange diwujudkan melalui pertukaran pengetahuan dan pengalaman antara sivitas akademika UPGRIS dengan para guru di Thailand Selatan.

Sementara itu, aspek Engagement tercermin dari keterlibatan aktif seluruh pemangku kepentingan dalam menyusun program sesuai kebutuhan sekolah. Aspek Empowerment diwujudkan melalui berbagai kegiatan yang dirancang untuk memperkuat kapasitas sekolah dan masyarakat pascabencana.

Adapun aspek Employability diperoleh mahasiswa melalui pengalaman menyusun program berbasis data, bekerja dalam tim lintas budaya, berkomunikasi dengan mitra internasional, serta mengembangkan kemampuan problem solving yang menjadi kompetensi penting di dunia kerja global.

Kepala UPT Kerja Sama dan Urusan Internasional (KUI) UPGRIS, Dr. Nur Hidayat, M.Hum., menjelaskan bahwa pendekatan berbasis kebutuhan merupakan prinsip utama dalam setiap program internasional yang dikembangkan UPGRIS.

"Kami tidak datang membawa program yang sudah jadi, tetapi memulai dengan mendengarkan kebutuhan mitra. Pendekatan seperti ini menciptakan hubungan yang lebih kuat dan menjadikan kerja sama internasional sebagai proses saling belajar sekaligus saling menguatkan," jelasnya.

Apresiasi juga datang dari guru salah satu sekolah mitra Al Hidayah Foundation. Menurutnya, pendekatan yang dilakukan UPGRIS membuat sekolah merasa dihargai karena setiap program diawali dengan dialog dan identifikasi kebutuhan.

"Kami merasa dihargai karena tim UPGRIS terlebih dahulu berdiskusi dengan para guru mengenai kondisi sekolah. Program yang disusun benar-benar sesuai dengan kebutuhan kami setelah banjir sehingga manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh guru maupun siswa," ungkapnya.

Bagi mahasiswa, proses needs assessment menjadi pengalaman berharga yang tidak selalu diperoleh di ruang kuliah. Mereka belajar melakukan observasi, mengidentifikasi permasalahan, menentukan skala prioritas, hingga merancang solusi bersama masyarakat dan sekolah mitra. 

Pengalaman tersebut sekaligus memperkuat implementasi MBKM yang menekankan pembelajaran berbasis pengalaman nyata.

Melalui kegiatan ini, UPGRIS kembali menegaskan bahwa kerja sama internasional bukan sekadar menghadirkan mobilitas mahasiswa ke luar negeri, tetapi membangun kolaborasi yang berbasis kebutuhan, berorientasi pada dampak, dan berkelanjutan. 

Bersama Al Hidayah Foundation, pelaksanaan PPL Internasional dan KKN Internasional di Hat Yai menjadi contoh nyata bagaimana internasionalisasi pendidikan dapat berkontribusi dalam pemulihan sekolah pascabencana, memperkuat jejaring pendidikan internasional, serta mengimplementasikan nilai-nilai IPCSA 5E pada setiap tahapan kegiatan.***

-
Bagikan

Berita Terkait