Jelang Idul Adha 2026, Stok BBM dan LPG di Jateng-DIY Dipastikan Aman
Jateng
Bintang
21 Mei 2026
SEMARANG (Jatengreport.com) – PT Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Tengah (RJBT) memastikan stok bahan bakar minyak (BBM) dan LPG aman menjelang libur panjang Hari Raya Idul Adha 2026.
Masyarakat diminta tidak panik dan tetap tenang dalam memenuhi kebutuhan energi selama momentum libur.
Pertamina menyebut ketahanan stok BBM dan LPG di wilayah Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) berada dalam kondisi aman untuk mengantisipasi potensi lonjakan konsumsi masyarakat.
Area Manager Communication, Relations & CSR PT Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Tengah, Taufiq Kurniawan, mengatakan stok sejumlah komoditas energi saat ini berada pada level yang mencukupi bahkan jauh di atas kebutuhan konsumsi harian.
"Mengenai ketahanan stok, dapat kami sampaikan bahwa saat ini untuk produk Biosolar stoknya berada di angka 110.757 kilo liter (kl). Jika dibandingkan dengan konsumsi harian, maka ketahanan stoknya mencapai 18 kali lipat dari konsumsi normal," ujar Taufiq di Semarang, Rabu 20 Mei 2026.
Selain Biosolar, stok Pertamax tercatat mencapai 84.300 kl atau setara 18 kali lipat konsumsi normal harian.
Produk Dex memiliki ketahanan stok hingga 47 kali lipat, Pertalite mencapai 14 kali lipat, sementara LPG berada pada level empat kali lipat konsumsi normal.
Taufiq menegaskan masyarakat tidak perlu mengkhawatirkan pasokan LPG, khususnya di wilayah Jateng-DIY, karena Pertamina mendapat dukungan suplai dari daerah lain.
"Khusus LPG di wilayah Jateng-DIY, meskipun hitungan stok di depo lokal berkisar 4 kali lipat, masyarakat tidak perlu khawatir. Kami mendapatkan dukungan pasokan (perbantuan) dari wilayah Gresik (Jawa Timur) dan Balongan (Jawa Barat). Jadi stok cadangannya sangat aman," tegasnya.
Sementara itu, Pertamina belum menjadikan tren konsumsi BBM sepanjang Mei 2026 sebagai indikator utama untuk membaca pola kebutuhan energi masyarakat.
Tingginya jumlah hari libur dan momentum long weekend dinilai membuat pola konsumsi belum stabil.
Pada Mei 2026, jumlah hari kerja aktif tercatat hanya 16 hari, sedangkan hari libur mencapai 15 hari. Kondisi itu disebut mendorong tingginya mobilitas masyarakat.
"Bulan Mei ini pergerakan orang sangat tinggi karena banyak liburan. Jadi parameternya belum ideal. Kemungkinan pergerakan konsumsi yang lebih normal baru bisa kita lihat dan jadikan parameter pada bulan Juni nanti," tandasnya.***
tag: berita