Berbasis Riset Ilmiah, Sido Muncul Mantapkan Mutu Produk di Usia ke-75

images

Nasional

Tim Jateng Report

22 Jan 2026


JAKARTA (Jatengreport.com) — PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk bersiap menyongsong usia ke-75 tahun pada November 2026. Memasuki usia matang tersebut, produsen jamu legendaris ini menegaskan komitmennya menjaga mutu dan keamanan produk melalui riset ilmiah berkelanjutan, sebagai fondasi utama mempertahankan kepercayaan konsumen lintas generasi.

Berawal dari usaha jamu rumahan yang dirintis Rahkmat Sulistio di Yogyakarta pada 1930, Sido Muncul berkembang dari racikan jamu tradisional menjadi perusahaan jamu dan obat herbal berskala nasional. Tonggak penting inovasi perusahaan terjadi pada 1992, saat meluncurkan Tolak Angin cair siap minum dalam kemasan sachet—produk yang kemudian merevolusi cara konsumsi jamu menjadi lebih praktis, higienis, dan modern.

Direktur PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk, Dr. (H.C.) Irwan Hidayat, mengatakan sejak awal pihaknya tidak ingin sekadar memproduksi jamu berbasis warisan resep tradisional, tetapi mengembangkan produk herbal yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

“Sebagai perusahaan terbuka, kami memastikan setiap produk yang dipasarkan memiliki dasar penelitian yang kuat, baik dari sisi keamanan maupun khasiat,” ujar Irwan dalam Paparan Uji Khasiat dan Toksisitas Tolak Angin di Jakarta, Selasa (20/1/2026).

Uji Ilmiah Sejak Dua Dekade Lalu

Irwan mengungkapkan, sejak tahun 2000 Sido Muncul telah melakukan uji toksisitas dan uji khasiat terhadap produk-produknya—langkah yang pada masanya tergolong maju bagi industri jamu di Indonesia.

“Tolak Angin merupakan pionir produk jamu yang diuji secara ilmiah. Kami tidak berpatokan pada opini, melainkan pada data hasil riset,” katanya.

Pengujian ilmiah tersebut dilakukan melalui kerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (UNDIP) serta Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Riset mencakup uji mutu bahan baku herbal, uji pra-klinis, uji khasiat, hingga uji toksisitas untuk memastikan keamanan penggunaan jangka panjang.

“Hasil uji toksisitas menunjukkan Tolak Angin tidak bersifat toksik, tidak merusak ginjal, hati, pankreas, serta tidak mengganggu hormon pria maupun wanita, selama digunakan sesuai anjuran,” jelas Irwan.

Aman untuk Penggunaan Jangka Panjang

Peneliti Tolak Angin dari Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, Dr. apt. Ipang Djunarko, S.Si., M.Sc., menjelaskan uji toksisitas subkronis dilakukan selama 90 hari pada tikus jantan dan betina dengan berbagai tingkatan dosis, termasuk dosis tinggi setara konsumsi sembilan sachet per hari.

“Pengujian meliputi pengamatan klinis, uji darah, uji kimia klinik, serta pemeriksaan histologi pada organ-organ vital,” kata Ipang.

Hasilnya, tidak ditemukan kematian maupun perubahan signifikan pada organ vital hewan uji. Fungsi ginjal dan hati juga tetap normal.

Peneliti lainnya, apt. Phebe Hendra, Ph.D., menambahkan bahwa durasi uji 90 hari pada hewan setara dengan sekitar delapan tahun penggunaan pada manusia.

“Hasil ini menunjukkan Tolak Angin relatif aman untuk penggunaan jangka panjang, bahkan pada dosis jauh lebih tinggi dari anjuran,” ujarnya.

Khasiat Teruji, Naik Level

Selain uji keamanan, Tolak Angin juga melalui uji khasiat yang dilakukan tim Fakultas Kedokteran UNDIP. Peneliti UNDIP, Dr. dr. Neni Susilaningsih, M.Si., menjelaskan pemberian Tolak Angin cair selama satu minggu terbukti meningkatkan respons imun.

“Terjadi peningkatan jumlah limfosit T serta sitokin seperti interferon dan interleukin, tanpa memengaruhi fungsi ginjal dan hati,” ungkapnya.

Menurut Neni, hasil uji toksisitas dan khasiat tersebut menjadi syarat penting dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), sehingga Tolak Angin dapat naik kelas dari jamu menjadi obat herbal terstandar.

Riset sebagai Bentuk Pertanggungjawaban Publik

Komisaris Independen Sido Muncul, DR. Dr. Adib Khumaidi, Sp.OT., menegaskan bahwa riset ilmiah merupakan bentuk tanggung jawab perusahaan kepada masyarakat.

“Scientifically proven berarti seluruh proses produksi berbasis akademik dan profesional, bukan sekadar klaim,” ujarnya.

Meski masih berada pada kategori obat herbal terstandar, Adib menekankan aspek keamanan tetap menjadi prioritas utama. Komitmen tersebut juga diwujudkan melalui kolaborasi riset dengan berbagai institusi pendidikan, sejalan dengan UU Kesehatan Nomor 17 Tahun 2023 tentang pengembangan obat bahan alam.

Apresiasi Publik dan Akademisi

Brand Ambassador Tolak Angin, Andy F. Noya, menilai keterbukaan Sido Muncul dalam memaparkan riset ke forum akademik menjadi bukti keseriusan perusahaan.

“Semua dijelaskan berbasis data. Jika ada yang meragukan, silakan membantah dengan kajian ilmiah, bukan asumsi,” tegasnya.

Sementara itu, Prof. Rhenald Kasali, Ph.D., menilai Sido Muncul berhasil membawa jamu ke level industri modern tanpa meninggalkan akar tradisional.

“Sido Muncul memodernisasi jamu hingga memenuhi standar industri farmasi dan dapat diterima komunitas akademik,” katanya.

Direktur Marketing Sido Muncul, Maria Reviani Hidayat, menambahkan bahwa edukasi publik mengenai keamanan dan mutu produk herbal menjadi semakin penting, khususnya bagi generasi muda di tengah derasnya arus informasi.

“Melalui paparan ilmiah ini, kami ingin menghadirkan informasi yang kredibel agar konsumen dapat memilih produk secara cerdas,” ujarnya.

Saat ini, Tolak Angin hadir dalam berbagai varian, mulai dari cair, serbuk, tablet, kapsul, hingga varian flu, batuk, dan anak—sebagai bagian dari inovasi berkelanjutan Sido Muncul dalam menjawab kebutuhan masyarakat modern.

tag: berita


BERITA TERKAIT