Akademisi China Soroti Sido Muncul, Dinilai Layak Jadi Rujukan Internasional
Nasional
Bintang
24 Feb 2026
SURAKARTA (Jatengreport.com) – Industri jamu dan obat bahan alam Indonesia dinilai memiliki potensi besar untuk menjadi rujukan global berbasis riset dan standarisasi. Penilaian tersebut mengemuka dalam The 5th International Conference on Traditional Medicine bertajuk Wellness Approaches in Manage Metabolic Disorder yang digelar di Poltekkes Kemenkes Surakarta, Rabu (11/2/2026).
Forum internasional itu menghadirkan unsur akademisi, pemerintah, dan pelaku industri. Dalam kesempatan tersebut, PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk atau Sido Muncul mendapat sorotan serta pengakuan dari peserta mancanegara.
Direktur Sido Muncul, Irwan Hidayat, mengatakan pengakuan tersebut menjadi pengingat bahwa Indonesia tidak perlu merasa inferior dalam industri herbal global.
“Kita harus percaya diri. Kekayaan alam kita luar biasa. Tinggal bagaimana diolah dengan sungguh-sungguh dan dibuktikan secara ilmiah,” ujar Irwan.
Ia mencontohkan pernyataan Profesor Joseph Jie Yu dari University of Nottingham Ningbo China yang menyebut industri herbal tradisional China perlu belajar dari sistem produksi Sido Muncul setelah melihat langsung proses manufakturnya.
Menurut Irwan, modernisasi jamu harus bertumpu pada standarisasi dan pembuktian ilmiah. Setiap produk, kata dia, wajib memiliki konsistensi antar-batch serta melalui uji keamanan, termasuk uji toksisitas dan uji khasiat.
Produk unggulan Sido Muncul, Tolak Angin, disebutnya telah melalui uji keamanan dan khasiat. “Saya berhati-hati membuat produk dan berusaha membuktikan secara ilmiah bahwa produk yang saya buat tidak melukai siapa pun,” katanya.
Irwan juga menekankan pentingnya kolaborasi dengan dunia kedokteran. Ia menilai dokter bukan pesaing industri jamu, melainkan mitra strategis dalam sistem kesehatan.
“Dokter mendiagnosa penyakit. Industri menawarkan solusi. Sama seperti farmasi, yang penting ada data, ada standarisasi, dan bisa dipertanggungjawabkan,” ujarnya.
Dorongan Ekosistem dan Regulasi
Konsep kolaborasi tersebut sejalan dengan pendekatan triple helix yang didorong pemerintah, yakni sinergi antara perguruan tinggi, industri, dan pemerintah guna mempercepat hilirisasi riset serta membangun ekosistem inovasi obat bahan alam yang berkelanjutan.
Ketua Jurusan Jamu Poltekkes Kemenkes Surakarta, Dr. Apt. Indri Kusuma Dewi, M.Sc, mengatakan pengembangan jamu kini mengedepankan scientific evidence. Mahasiswa tidak hanya mempelajari peracikan empiris, tetapi juga memahami senyawa aktif, target reseptor, hingga uji klinis.
“Jamu harus naik kelas. Tidak cukup hanya turun-temurun. Harus ada pembuktian ilmiah agar bisa masuk dalam sistem pelayanan kesehatan,” ujarnya.
Dari sisi regulasi, Direktur Ketahanan Farmasi dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan RI, Dr. Jeffri Ardiyanto, M.App.Sc, menegaskan pemerintah mendorong kemandirian obat bahan alam melalui berbagai kebijakan, termasuk Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan dan PP Nomor 28 Tahun 2024.
Dalam Pasal 321 UU Kesehatan, ekosistem bahan alam nasional mencakup jamu, obat herbal terstandar, fitofarmaka, serta obat bahan alam inovasi. Pemerintah juga mendorong peningkatan penggunaan produk tersebut di fasilitas pelayanan kesehatan melalui formularium fitofarmaka dan integrasi dalam e-katalog pengadaan.
“Kemandirian bahan baku obat menjadi bagian dari strategi ketahanan farmasi nasional. Saat ini sekitar 90 persen bahan baku obat bahan alam diproduksi di dalam negeri, sisanya masih impor namun diproses di dalam negeri,” jelas Jeffri.
Tantangan Standardisasi dan Investasi
Meski peluang terbuka lebar, tantangan industri jamu nasional dinilai tidak ringan. Standarisasi dan kontinuitas bahan baku masih menjadi persoalan utama. Tanpa kepastian pasar, petani tanaman obat berpotensi beralih ke komoditas lain.
Selain itu, biaya riset, uji praklinik, uji klinik, serta pemenuhan Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik (CPOTB) untuk meningkatkan status menjadi fitofarmaka membutuhkan investasi besar.
Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Jamu (GP Jamu), Stefanus Handoyo Saputro, menilai industri jamu berada di persimpangan antara tradisi dan tuntutan global.
“Kita punya kekuatan di bahan baku dan sejarah panjang penggunaan jamu. Tapi kalau tidak serius di standardisasi, riset, dan tata kelola produksi, sulit bersaing di pasar global,” ujarnya.
Ia menekankan peningkatan kualitas harus dilakukan dari hulu ke hilir, mulai dari budidaya tanaman obat, konsistensi ekstraksi, hingga transparansi klaim manfaat produk.
Dengan dukungan regulasi, kekayaan sumber daya alam, serta modernisasi industri, jamu Indonesia dinilai memiliki peluang memperkuat posisi di pasar global. Tantangannya kini bukan lagi pada potensi, melainkan konsistensi dalam standarisasi, riset, dan keberanian berinvestasi jangka panjang.***
tag: berita