Pesisir dan Pantura Jadi Sorotan AHY dalam Kuliah Umum Kebencanaan di UNDIP
Jateng
Bintang
29 Nov 2025
SEMARANG (Jatengreport.com) – Universitas Diponegoro (UNDIP) menggelar Kuliah Umum bersama Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan RI, Dr. H. Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), di Gedung Prof. Sudarto, Kampus Tembalang, pada Kamis (27/11).
Dalam agenda bertema “Penataan Ruang dan Pembangunan Infrastruktur Adaptif terhadap Bencana”, AHY memaparkan strategi nasional menghadapi krisis iklim dan meningkatnya risiko bencana di Indonesia.
Kegiatan yang bekerja sama dengan ISPASI (Indonesian Spatial Policy & Administration Society) ini dihadiri jajaran kementerian, pemerintah daerah, akademisi, mahasiswa, dan praktisi tata ruang.
Acara juga menjadi penanda diluncurkannya rencana International Conference on Spatial Planning and Infrastructure for Sustainable Development 2026 serta penandatanganan MoU antara UNDIP dan Kemenko Infrastruktur & Pembangunan Kewilayahan.
Rektor UNDIP, Prof. Dr. Suharnomo, S.E., M.Si., menegaskan pentingnya peran kampus dalam pembangunan berkelanjutan.
“Hari ini kita berkumpul dalam agenda yang sangat penting. UNDIP memiliki komitmen kuat untuk menjadi kampus yang bermartabat dan bermanfaat. Sebaik-baiknya manusia adalah yang memberi manfaat bagi banyak orang, dan sebaik-baiknya kampus adalah yang menghasilkan ilmu dan kerja nyata bagi masyarakat,” ujarnya.
Ia memaparkan inovasi UNDIP yang telah dirasakan manfaatnya oleh masyarakat pesisir, khususnya teknologi desalinasi dan solar hybrid untuk daerah terdampak banjir rob, abrasi, dan krisis air bersih.
“Mesin desalinasi UNDIP kini sudah beroperasi di berbagai titik dari Brebes, Pemalang, Pekalongan hingga Jepara dan Demak. Bahkan BNPB telah memesan lima unit untuk mempercepat distribusi air siap minum yang aman pascabencana. Kami ingin memastikan satu desa bisa memperoleh layanan air layak konsumsi melalui teknologi karya UNDIP,” terangnya.
Dalam paparannya, AHY mengajak peserta untuk berempati atas bencana banjir dan longsor yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Ia menegaskan bahwa rangkaian bencana tersebut menjadi pengingat bahwa pembangunan Indonesia harus berorientasi pada ketahanan jangka panjang.
AHY memaparkan tiga agenda besar:
• Membaca dan memahami megatrend global
• Memetakan tantangan kebencanaan Indonesia
• Membangun infrastruktur yang adaptif dan berkelanjutan
Ia menekankan lima megatrend dunia mulai dari tensi geopolitik, urbanisasi masif, hingga krisis iklim yang berdampak langsung terhadap penataan ruang di Indonesia.
“Indonesia berada di Ring of Fire. Karena itu, mitigasi dan kesiapsiagaan adalah bagian dari ketahanan nasional,” tegasnya.
AHY juga menyoroti triple challenge pembangunan nasional: kerawanan geologis, perubahan iklim, dan tekanan sosial-ekonomi.
Ia memberi contoh kondisi Pantura yang menghadapi kombinasi penurunan muka tanah dan naiknya permukaan laut, sehingga membutuhkan pendekatan preventif dan berbasis bukti.
“Biaya rehabilitasi jauh lebih besar daripada investasi mitigasi. Jangan menunggu bencana terjadi baru kita bertindak,” pesannya.
Menutup pemaparannya, AHY menekankan pentingnya green infrastructure, penguatan perlindungan pesisir melalui mangrove, serta smart infrastructure berbasis teknologi geospasial dan IoT. Ia mengundang UNDIP untuk berkolaborasi pada Spatial Infra Conex 2026.
“UNDIP adalah mitra strategis dalam membangun Indonesia Emas 2045. Semoga UNDIP terus melahirkan kader bangsa yang unggul dan menjadi kampus berkelas dunia,” ujarnya.
Ketua ISPASI, Tiyok Prasetyoadi, menegaskan pentingnya perencanaan spasial nasional yang matang, terukur, dan berbasis bukti ilmiah.
Ia juga menyampaikan duka atas bencana yang terjadi di Sumatera.
“ISPASI hadir sebagai organisasi independen yang menjadi ruang dialog strategis antara pemerintah, akademisi, profesional, dan komunitas untuk menjembatani kebutuhan teknis, kajian ilmiah, praktik lapangan, dan kebijakan publik,” ungkapnya.
Ia turut mengajak seluruh pemangku kepentingan menghadiri Spatial Infra Conex 2026 pada 12–13 Mei 2026 di Jakarta.
Dengan terselenggaranya kuliah umum ini, UNDIP kembali menunjukkan konsistensi sebagai perguruan tinggi yang aktif menghadirkan inovasi teknologi, riset multidisipliner, dan kontribusi nyata bagi penanganan perubahan iklim dan mitigasi bencana di Indonesia.
Semangat “UNDIP Bermartabat, UNDIP Bermanfaat” menjadi landasan setiap langkah kampus dalam mendukung pembangunan nasional berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi yang berdampak.***
tag: berita