SEVA Menabur Jalan untuk Langkah Pertama Anak Bungsu

images

FOTO ISTIMEWA : Ilustrasi Dukungan SEVA membantunya meraih kemudahan dalam perencanaan biaya pendidikan dan kebutuhan harian secara lebih teratur dan aman.

Nasional

Bintang

29 Nov 2025


SEMARANG (Jatengreport.com) — Di banyak keluarga Indonesia, anak bungsu sering mendapat label yang paling dimanja, namun bagi Jessica (20) label itu tak pernah berlaku.

Sejak kecil, ia justru tumbuh dalam kesadaran bahwa dirinya adalah yang terakhir yang berarti menikmati sisa tenaga, perhatian, dan rezeki orang tuanya yang sudah lebih dulu habis terbagi untuk kedua kakaknya.

Kini, ketika sang ayah telah pensiun dari pekerjaannya sebagai buruh pabrik dan ibunya hanya menjalankan usaha kecil di kampung halaman mereka di Jawa Tengah, kondisi ekonomi keluarga jauh dari kata stabil.

Namun ada satu hal yang tak pernah surut keinginan kuat kedua orang tuanya agar semua anak mereka, tanpa terkecuali, bisa mendapatkan pendidikan setinggi mungkin.

Jessica menjadi saksi nyata bagaimana tekad itu terus menyala, bahkan ketika kemampuan finansial keluarga justru meredup.

Ayah Jessica, memasuki masa pensiun pada akhir 2023 setelah puluhan tahun bekerja, tabungan dan uang pensiun yang diterima tidaklah besar.

Sebagiannya telah digunakan untuk membantu biaya kuliah dan awal bekerja kedua kakak Jessica. Sisanya digunakan untuk kebutuhan hidup sehari-hari di kampung.

Ketika pengumuman kelulusan SMA datang, Jessica menyodorkan hasil kelulusannya kepada kedua orang tuanya dengan campuran rasa bangga dan ragu.

Dirinya diterima di salah satu universitas negeri di Kota Semarang dengan jurusan Manajemen Bisnis jurusan yang sejak lama ia impikan. Tapi ada satu pertanyaan besar yang menghantui keluarga kecil itu bisakah ia benar-benar melanjutkan kuliah?

Biaya daftar ulang, uang kuliah per semester, biaya kos, hingga transportasi jauh melampaui kemampuan keluarga. Gaji pensiunan ayahnya bahkan belum cukup untuk menutupi kebutuhan bulanan rumah, apalagi menanggung biaya kuliah anak.

Namun Ayah dan istrinya tetap berpegang pada satu tekad.

“Selama masih ada jalan, anak kami harus kuliah. Derajat hidup itu berubah dari ilmu, bukan dari banyaknya harta," ujar sang ayah, saat Jessica bercerita, Jumat (28/11).

Itulah keyakinan sederhana yang terus mendorong mereka mencari solusi.

Jessica sadar betul bahwa kondisi orang tuanya tidak sama seperti ketika kedua kakaknya berkuliah. Ia bahkan sempat menawarkan diri untuk menunda kuliah selama setahun, sambil bekerja terlebih dahulu. Namun orang tuanya menolak.

“Kamu belajar saja, Nak. Soal biaya, biar Bapak dan Ibu usahakan. Kamu cukup bertahan dan jangan menyerah," kata sang ayah.

Ucapan itu membuat Jessica menitikkan air mata. Di satu sisi ia bahagia karena orang tuanya begitu yakin padanya. Namun di sisi lain ia takut menjadi beban.

“Saya anak bungsu, tapi justru merasa paling berat. Takut mengecewakan, takut menambah kesulitan orang tua,” ujarnya.

Berbulan-bulan ia hidup dalam dilema antara menjaga mimpi atau menerima realitas bahwa kemampuan finansial keluarga tidak memungkinkan.

Hingga pada awal 2024, muncul satu kesempatan yang mengubah arah hidupnya.

Mengenal SEVA

Di suatu malam, saat menonton berita di media sosial, ayah Jessica mendengar tentang SEVA Member of Astra, platform finansial yang menyediakan layanan pembiayaan untuk berbagai kebutuhan.

Mulanya, ia hanya mencatat nama platform itu dalam hati tanpa berani terlalu berharap.

Bagi seseorang yang telah memasuki masa pensiun, dunia digital, finansial, dan pengajuan online terdengar seperti hal rumit yang penuh persyaratan.

Namun demi masa depan anak terakhirnya, ia mencoba mencari tahu lebih banyak.
Jessica menceritakan bahwa ayahnya menghabiskan dua malam untuk membaca informasi melalui ponsel lamanya.

“Ayah bilang, kalau ini bisa bantu kamu kuliah, Bapak mau coba,” kenang Jessica.

 

Dengan bimbingan adiknya yang tinggal di kota, keluarga itu akhirnya mencoba mendaftarkan pengajuan pembiayaan lewat SEVA.

Yang membuat mereka terkejut bukanlah lamanya proses, melainkan justru betapa cepat dan mudahnya layanan itu dijalankan.

Proses Pengajuan yang Memecah Kekhawatiran

Menurut cerita Jessica yang didapat dari ayahnya, proses pengajuan SEVA benar-benar mematahkan stigma bahwa mengajukan pembiayaan itu ribet, membutuhkan dokumen setumpuk, atau memakan waktu berhari-hari.

“Ayah bilang, semua tinggal mengikuti petunjuk. Cepat, jelas, tidak membuat bingung,” ujar Jessica.

Dalam waktu yang relatif singkat, permohonan itu disetujui. Dana segar langsung bisa digunakan untuk membayar kebutuhan awal perkuliahannya seperti biaya daftar ulang universitas, pembayaran semester pertama, pembelian kebutuhan kuliah seperti laptop dan buku, biaya uang muka tempat kos, pengeluaran dasar di bulan-bulan awal.

Lebih dari sekadar dana, yang diterima keluarga Jessica adalah rasa lega sesuatu yang selama berbulan-bulan sulit mereka dapatkan.

“Ayah bilang, waktu melihat pengajuan disetujui, beliau sampai menghela napas berkali-kali. Katanya akhirnya ada jalan,” kisah Jessica.

Menjadi Mahasiswa, Menjadi Harapan

Dengan bantuan pembiayaan melalui SEVA, Jessica resmi memulai kuliahnya di Semarang.

Ia merantau, tinggal di kos sederhana, dan menjalani kehidupannya sebagai mahasiswa baru dengan semangat yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Rutinitas baru ini mengajarkannya banyak hal seperti belajar mandiri, mengatur keuangan ketat, mengerjakan tugas sambil mencari kerja sampingan, menjadi tulang punggung harapan keluarga.

Jessica sadar, tak semua orang memiliki privilege untuk melanjutkan pendidikan tinggi. Maka setiap mata kuliah, setiap tugas, setiap presentasi adalah bentuk syukurnya.

“Kadang saya lelah, tapi saya selalu ingat perjuangan Ayah dan Ibu. Saya ingin pembiayaan dari SEVA ini benar-benar menjadi jalan menuju hidup yang lebih baik," ucap Jessica.

Layanan Keuangan Bernyawa

SEVA bukan sekadar platform finansial. Ia hadir sebagai penghubung antara harapan dan kenyataan.

Kemudahan yang diberikan SEVA mulai dari proses pengajuan, transparansi biaya, hingga kecepatan pencairan hingga memberikan keluarga sederhana seperti milik Jessica kesempatan untuk menyelamatkan mimpi pendidikan anak mereka tanpa terjerat proses yang melelahkan.

Dari seluruh mahasiswa, 55% berasal dari kelompok ekonomi paling atas, sementara hanya 2,6% yang berasal dari kelompok ekonomi bawah, padahal kesetaraan akses terhadap perguruan tinggi adalah salah satu cara paling efektif untuk keluar dari kemiskinan dan mengurangi ketimpangan ekonomi.

Bagi keluarga kecil ini, SEVA memberi arti baru, pembiayaan tidak selalu menakutkan. Ia bisa menjadi jembatan ketika masa depan anak sedang dipertaruhkan.

Sekarang, Jessica duduk di semester kedua. Ia mengambil mata kuliah tambahan, aktif dalam organisasi kampus, serta sering mengikuti kegiatan sosial untuk menambah pengalaman.

Ia juga mulai bekerja paruh waktu sebagai admin freelance untuk menambah uang saku dan membantu meringankan cicilan pembiayaan.

“Saya ingin Ayah dan Ibu tahu kalau pengorbanan mereka tidak sia-sia. Saya akan balas semuanya," ujar Jessica.

Kakak-kakaknya pun bangga, dan ikut membantu sebisanya. Tidak ada lagi rasa bahwa Jessica hanya “kebagian sisa”, justru ia kini menjadi pusat perhatian dan harapan baru keluarga.

Mimpi yang Tak Lagi Tertunda

Ketika ditanya apa impian terbesarnya setelah lulus nanti, Jessica tidak butuh waktu lama menjawab.

“Saya ingin bisa berdiri di depan Ayah dan Ibu, memberikan ijazah saya, dan bilang: Terima kasih sudah mempercayai saya," tegasnya.

Ia juga berharap suatu hari bisa membantu adik-adik lain yang mengalami keterbatasan seperti dirinya.

“Saya ingin jadi bukti bahwa anak dari keluarga sederhana pun bisa maju asal diberi kesempatan," tandasnya.

Dan berkat SEVA Member of Astra, sisa itu justru menjadi jalan yang terang menuju masa depan yang lebih cerah.***

tag: berita, SEVA


BERITA TERKAIT