Menabung Rasa Aman, BPJS Ketenagakerjaan Menjadi Nafas Ketenangan

images

FOTO ISTIMEWA : Lia bersama rekan-rekan kerjanya di sebuah bank swasta di Semarang menunjukkan bukti kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan, sebagai wujud komitmen perusahaan dalam menjamin perlindungan dan masa depan para pekerja.

Nasional

Bintang

26 Nov 2025


Oleh : Bintang Diega Pratama

Di ruang kerja sebuah bank swasta di pusat Kota Semarang, Lia menatap layar komputernya sambil menunggu sistem memproses data nasabah.

Hari itu terlihat seperti hari biasa datang tepat waktu, menyapa rekan kerja, lalu fokus pada tumpukan laporan.

Namun di balik rutinitas itu, Lia membawa pandangan baru tentang profesinya, bekerja tidak lagi sekadar mencari penghasilan, tetapi perjalanan panjang menuju masa depan yang harus dijaga.

Perlindungan melalui BPJS Ketenagakerjaan menjadi bagian dari perjalanan itu.

Seperti banyak pekerja lain, Lia dulu menganggap kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan hanya formalitas. Potongan iuran tercetak di slip gaji, tetapi manfaatnya tidak langsung ia rasakan.

“Dulu saya pikir BPJS itu hanya administrasi, cuma kewajiban perusahaan. Baru setelah ada sosialisasi, saya sadar ternyata perlindungan ini tidak main-main,” kata Lia, saat dijumpai jurnalis jatengreport.com, Selasa (25/11).

Sosialisasi itu membuka matanya. Program seperti Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK), Jaminan Hari Tua (JHT), Jaminan Pensiun (JP), dan Jaminan Kematian (JKM) bukan sekadar istilah teknis, tetapi perlindungan nyata yang menjangkau seluruh perjalanan pekerja mulai dari hari pertama bekerja hingga masa pensiun.

Risiko Benar-benar Datang

Kesadaran itu semakin kuat setelah rekan kerjanya, Dimas, mengalami kecelakaan sepulang lembur. Malam itu hujan, jalanan licin, dan sebuah kendaraan menyalip tanpa memperhatikan jarak.

“Motor saya jatuh, kaki langsung sakit sekali. Saya pikir akan habis banyak uang buat biaya pengobatan,” ujar Dimas.

Namun kenyataannya berbeda. Seluruh biaya perawatan ditanggung penuh melalui JKK. Bahkan saat ia tidak bisa masuk kerja selama dua minggu, ia tetap menerima santunan upah selama masa pemulihan.

“Di situ baru kerasa. BPJS itu bukan teori. Itu penyelamat,” katanya.

Bagi Lia dan rekan-rekannya, kejadian itu mengubah sikap mereka terhadap perlindungan sosial. Risiko kerja tidak hanya terjadi di pabrik atau lapangan.

Pekerja bank pun bisa mengalami kecelakaan dalam perjalanan dinas atau pulang kerja.

Rekan lainnya, Rani, pernah mengalami kelelahan berat akibat tekanan kerja di frontliner. Ia sempat dirawat beberapa hari dan harus istirahat total.

“Waktu itu saya takut kehilangan pekerjaan,” kenangnya.

Program JKK kembali memberi bukti. Selama proses perawatan, Rani mendapat perlindungan medis tanpa biaya tambahan. Kondisinya bisa pulih tanpa harus menguras tabungan.

“Saya nggak kebayang kalau harus bayar semua sendiri,” katanya.

Pengalaman itu menciptakan kesadaran bahwa risiko kesehatan tidak selalu muncul dalam bentuk kecelakaan, tetapi juga tekanan fisik dan mental dalam pekerjaan sehari-hari.

JHT Menumbuhkan Harapan

Jika JKK melindungi pekerja dari risiko hari ini, maka JHT bagi Lia adalah harapan yang menunggu di masa depan.

 

Suatu siang, Lia membuka aplikasi BPJS Ketenagakerjaan di ponselnya. Ia terkejut melihat saldo yang terus bertambah.

“Ternyata nilainya lumayan. Padahal rasanya setiap bulan cuma dipotong sedikit,” ujarnya sambil tertawa kecil.

Bagi Lia, JHT bukan lagi sekadar angka. Itu adalah modal masa depan modal untuk rencana membuka toko roti kecil atau sekadar jaring pengaman ketika masa kerja telah selesai.

Rekan-rekannya pun merasakan hal serupa. Beberapa mulai merencanakan mimpi kecil: usaha keluarga, rumah kecil di pinggiran kota, atau tabungan pendidikan anak.

Perlindungan untuk Keluarga

Adit, karyawan bagian penagihan, mungkin yang paling merasakan pentingnya JKM.

“Bapak saya dulu bekerja tanpa jaminan apa pun. Waktu beliau meninggal, keluarga kami kesulitan besar,” katanya pelan.

Itulah alasan ia merasa tenang dengan keberadaan JKM. Bagi Adit, perlindungan itu bukan tentang dirinya semata, tetapi tentang keluarganya istri dan dua anaknya yang masih sekolah.

“Kalau terjadi apa-apa sama saya, setidaknya mereka tidak akan kehilangan semuanya,” ujarnya.

Perusahaan Jadikan Hak sebagai Prioritas

Bank tempat mereka bekerja termasuk perusahaan yang disiplin mendaftarkan seluruh karyawan tetap maupun kontrak sebagai peserta aktif BPJS Ketenagakerjaan. Bagi manajemen, hal ini bukan sekadar kepatuhan terhadap UU, tetapi komitmen menjaga kesejahteraan karyawan.

“Kami memahami risiko kerja ada di semua profesi. Perlindungan BPJS adalah hak pekerja yang harus diberikan untuk keamanan mereka,” ujar seorang supervisor HR.

Lingkungan kerja yang peduli ini membuat para karyawan merasa dihargai. Mereka bekerja dengan lebih tenang karena tahu perlindungan itu nyata.

Hak Pekerja Menjadi Jalan Menuju Kesejahteraan

Melalui cerita-cerita sederhana itu, satu hal menjadi jelas: perlindungan pekerja bukan hanya urusan administrasi, tetapi tentang keberlangsungan hidup.

• JKK melindungi dari risiko saat bekerja.
• JKM melindungi keluarga saat musibah datang.
• JHT dan JP memastikan masa tua tidak lagi menjadi kekhawatiran.

Bagi Lia dan rekan-rekannya, kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan telah menjadi bagian dari strategi hidup. Mereka kini lebih sadar merencanakan masa depan dan lebih tenang menjalani hari-hari kerja.

“Kalau hak kita terpenuhi, kita bisa bekerja lebih fokus,Karena kita tahu masa depan sudah punya pegangan," kata Lia.

Di akhir hari, setelah mesin antrian berhenti berbunyi dan lobi bank kembali sunyi, Lia dan rekan-rekannya duduk di pantry sambil menikmati teh hangat. Mereka berbicara soal mimpi mereka mimpi yang dulu terasa jauh, kini mulai terlihat ujungnya.

Dimas ingin membeli rumah kecil di Semarang Barat.

Rani ingin membuka florist saat pensiun.
Adit ingin pulang kampung dan membuka kedai kopi.

Dan Lia ia ingin membuka bakery kecil yang menjual roti buatan tangan.
Mereka tertawa ketika saling menggoda mimpi masing-masing. Tetapi di balik tawa itu ada kesadaran baru hak pekerja adalah fondasi masa depan mereka.

Kisah Lia dan rekan-rekannya membuktikan bahwa BPJS Ketenagakerjaan bukanlah program yang jauh dari realitas pekerja. Perlindungan itu hadir dalam bentuk yang sangat nyata:
• Menolong ketika kecelakaan terjadi,
• menopang saat pekerja sakit,
• memastikan keluarga tetap kuat,
• dan mempersiapkan masa pensiun dengan lebih bermartabat.
Dalam dunia kerja yang penuh tekanan dan ketidakpastian, hadirnya BPJS Ketenagakerjaan membuat para pekerja memiliki pegangan.
Karena pada akhirnya, bekerja bukan hanya tentang hari ini.

Ini tentang masa depan dan perlindungan adalah langkah pertama menuju kehidupan yang lebih baik.***

tag: berita, bpjs ketenagakerjaan


BERITA TERKAIT