Mengira Kiamat Kecil Datang, BPJS Ketenagakerjaan Diam-diam Mengalirkan Harapan

images

FOTO ISTIMEWA : Irma pemilik usaha fotokopi di Kendal, menunjukkan BPJS Ketenagakerjaan yang menjadi penopang penting untuk merubah hidupnya.

Nasional

Bintang

21 Nov 2025


Oleh : Bintang Diega Pratama

Di banyak keluarga, pernikahan sering kali dipandang sebagai fase kehidupan yang penuh tanggung jawab dan tekanan ekonomi.

Tetapi bagi Rusdi (32) dan Irma (29), pasangan muda asal Kendal, pernikahan justru menjadi titik balik untuk memulai sesuatu yang sama sekali baru berwirausaha dari nol, meninggalkan zona nyaman pekerjaan lama, dan bergantung sepenuhnya pada tabungan Jaminan Hari Tua (JHT) BPJS Ketenagakerjaan untuk membangun masa depan.

Keputusan itu bukanlah keputusan kecil, sebagai pasangan yang telah menghabiskan hampir delapan tahun bekerja di sebuah kantor swasta di Semarang, mereka sebenarnya sedang berada di jalur karier menjanjikan.

Namun kondisi keluarga, terutama kebutuhan orang tua, memaksa mereka untuk mengambil keputusan yang mengubah hidup.

Di sinilah cerita itu dimulai, tentang keberanian tentang hidup yang harus dipilih ulang, dan tentang bagaimana program sosial seperti JHT dapat benar-benar menjadi penopang masa depan ketika situasi berubah.

Cinta Rusdi dan Irma tumbuh perlahan dari lorong-lorong kantor tempat mereka bekerja.

Selama bertahun-tahun mereka saling mengenal, saling mendukung dalam pekerjaan, hingga akhirnya memutuskan untuk menikah.

Mereka bekerja di bidang administrasi dan operasional, memiliki penghasilan tetap, dan menjalani rutinitas yang stabil. Namun, hubungan mereka diuji ketika ayah Rusdi mengalami kondisi kesehatan yang membutuhkan pendampingan intensif.

Rusdi, sebagai anak, dihadapkan pada situasi sulit yang tetap bekerja dan berada jauh dari orang tua, atau pulang ke Kendal untuk menemani dan merawat ayahnya.

“Waktu itu saya galau sekali,Karier lagi bagus-bagusnya, tapi orang tua jelas lebih penting,"  kenang Rusdi, saat bercerita dengan Jurnalis Jatengreport.com, di Kendal, Kamis (20/11).

Keputusan akhirnya diambil, Rusdi mengajukan resign dan tak lama kemudian Irma menyusul.

Mereka menikah sederhana di kampung, lalu memulai kehidupan baru sebagai pasangan suami istri yang harus memikirkan pekerjaan, penghasilan, dan masa depan dari nol.

Bagi banyak orang, pulang kampung setelah lama bekerja di kota bisa terasa seperti kemunduran.

Tapi bagi Rusdi dan Irma, kepulangan itu adalah titik awal dari sesuatu yang mereka bangun sendiri.

JHT Menjadi Satu-satunya Tabungan

Setelah menikah, pasangan ini menghadapi kenyataan pahit. Di kampung, lapangan kerja tidak semudah di kota.

Mereka mencari peluang, mencoba melamar di beberapa tempat, tetapi hasilnya nihil. Kondisi tersebut membuat mereka menyadari bahwa mereka harus mencari alternatif lain untuk bertahan.

Di tengah kebingungan, ada satu hal yang mereka miliki yaitu tabungan Jaminan Hari Tua (JHT) BPJS Ketenagakerjaan, hasil potongan rutin selama mereka bekerja hampir delapan tahun.

Rusdi tengah mengelola usaha fotokopi miliknya, Berkat BPJS Ketenagakerjaan manfaat program tersebut, ia dapat mengembangkan usahanya dengan lebih tenang dan terjamin.

“Waktu cek saldo JHT, kami benar-benar merasa bersyukur, Rasanya seperti diberi kesempatan kedua,"kata Irma.

Saldo JHT itulah yang kemudian menjadi modal awal mereka. Meski jumlahnya tidak sangat besar, tetapi cukup untuk memulai usaha kecil.

Keputusan itu tidak mereka ambil terburu-buru, mereka berdiskusi berhari-hari, menimbang risiko dan kemungkinan.

Rusdi pun mulai mempelajari kondisi sekitar kampung mereka. Hingga akhirnya ia menemukan satu peluang, tidak ada usaha fotokopi di desa mereka.

Fotokopi Menjadikan Peluang Usaha

Ide membuka fotokopi muncul sederhana ketika kebutuhan masyarakat desa untuk menggandakan dokumen, mengurus administrasi, hingga mencetak berkas sekolah cukup tinggi.

Selama ini, warga harus pergi ke kecamatan atau bahkan ke kota terdekat, padahal ongkos dan waktu tidak sedikit.

Ketika JHT cair, mereka langsung membelanjakannya, seperti menyewa sebuah tempat kecil di pinggir jalan utama desa, membeli satu unit mesin fotokopi ukuran sedang, membeli printer, meja, kursi, rak, dan kebutuhan operasional lain.

“Kalau bukan dari JHT, kami mungkin tidak akan punya modal sama sekali,” kata Rusdi.

Pada hari pertama membuka usaha, mereka hanya menerima dua pelanggan.

Hari berikutnya tiga pelanggan. Selama sebulan, mereka lebih sering duduk menunggu daripada benar-benar menghitung uang masuk.

Namun mereka tidak menyerah, Irma membuat spanduk sederhana, Rusdi mendatangi kantor desa untuk menawarkan layanan, dan mereka mulai aktif menyebarkan informasi melalui grup WhatsApp warga.

Perlahan usaha mereka dikenal, anak sekolah datang untuk print tugas, ibu rumah tangga datang untuk menggandakan berkas PKK, perangkat desa datang untuk mencetak laporan.

JHT dalam Perspektif Lebih Luas

Kisah Rusdi dan Irma hanyalah satu dari sekian banyak cerita bagaimana JHT dapat menjadi penopang nyata bagi pekerja ketika hidup memaksa mereka mengubah jalan.

Data terbaru BPJS Ketenagakerjaan menunjukkan besarnya peran program ini bagi jutaan pekerja. Hingga akhir kuartal I-2025:
• 40.196.096 peserta aktif terdaftar,
• 26.094.749 adalah pekerja penerima upah,
• 9.219.509 pekerja informal atau BPU,
• dan 4.881.838 dari sektor jasa konstruksi.

Deputi Komunikasi BPJS Ketenagakerjaan, Oni Marbun, menegaskan bahwa program ini semakin penting bagi pekerja informal yang tidak memiliki jaminan masa depan seperti pekerja formal.

“Dalam kondisi ekonomi saat ini, BPJS Ketenagakerjaan terus melakukan sosialisasi masif kepada pekerja informal (BPU) terkait manfaat program BPJS Ketenagakerjaan,” ujarnya, belum lama ini.

JHT sering dipersepsikan sebagai dana pensiun yang hanya berguna ketika seseorang memasuki usia non-produktif.

Namun faktanya, seperti dalam kasus Rusdi dan Irma, JHT bisa menjadi jembatan untuk memulai hidup baru, membangun usaha, atau menyelamatkan kondisi keuangan saat krisis.

Usaha Kecil yang Mulai Menghidupi

Dua tahun setelah pertama kali membuka usaha, fotokopi yang mereka dirikan kini menjadi salah satu usaha kecil paling ramai di desa mereka.

Pendapatannya memang tidak langsung besar, tetapi cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga dan menabung sedikit demi sedikit.

Setiap pagi, Rusdi membuka pintu kios sebelum pukul delapan. Sementara Irma mengurus administrasi, keuangan, dan melayani pelanggan ketika kios ramai.

“Dulu kami berpikir masa depan kami ditentukan kantor. Sekarang kami sadar, masa depan juga bisa kami bangun sendiri,” kata Irma sambil tersenyum.

Keberhasilan kecil ini juga membuka peluang baru. Mereka mulai menambah layanan seperti ketik surat dan administrasi, print foto ukuran kecil, jualan alat tulis sekolah, bahkan jasa desain sederhana.

Semua itu berkembang dari modal awal yang bersumber dari tabungan JHT.

Dalam perspektif lebih luas, cerita Rusdi dan Irma menggambarkan esensi dari program jaminan sosial seperti memberikan rasa aman, terutama di tengah kondisi ekonomi yang tidak menentu.

JHT bukan hanya saldo di aplikasi BPJSTKU, Ia adalah wujud nyata dari upaya negara melindungi masa depan pekerja.

Program ini memberikan kepastian ketika pekerjaan hilang, ketika kondisi keluarga berubah, atau ketika seseorang butuh memulai kehidupan baru tanpa modal.

Dalam konteks pekerja informal, keberadaan JHT juga semakin penting. Di Indonesia, jutaan pekerja bergantung pada pendapatan harian atau usaha kecil yang rentan terhadap perubahan ekonomi.

Dengan memiliki JHT, pekerja mendapatkan jaring pengaman yang bisa digunakan di masa sulit.

Kisah Rusdi dan Irma menunjukkan bahwa Jaminan Hari Tua bukan semata-mata fasilitas pensiun.

Ia bisa menjadi alat membangun masa depan, modal usaha, penyelamat di masa krisis, dan bahkan jembatan untuk memulai hidup dari lembaran baru.

Bagi mereka, JHT adalah alasan mengapa mereka masih bisa bertahan ketika hidup memaksa untuk berpindah arah.

Ia menjadi nafas baru, memberi ruang bagi mimpi yang sebelumnya tidak terpikirkan.

Kini, seiring usaha mereka terus berkembang, Rusdi dan Irma memiliki harapan baru. Dan semua itu dimulai dari satu keputusan penting mencairkan JHT untuk membangun masa depan sendiri.

Di tengah berbagai tantangan ekonomi, kisah ini menjadi pengingat bahwa program jaminan sosial seperti BPJS Ketenagakerjaan bukan sekadar kewajiban administrasi, tetapi penopang nyata bagi jutaan keluarga untuk terus melangkah.***

tag: berita, bpjs ketenagakerjaan


BERITA TERKAIT