Perubahan Iklim dan Biaya Produksi Meningkatkan Ketidakpastian Harga Pangan

images

Nasional

Tim Jateng Report

09 Des 2024


SEMARANG (Jatengreport.com) - Harga komoditas pangan global pada November 2024 mengalami kenaikan meskipun laju kenaikannya mulai melambat.

Komponen utama yang mendorong kenaikan tersebut adalah harga biji-bijian dan sereal, yang tercatat lebih tinggi dibandingkan bulan-bulan sebelumnya. 
Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) melaporkan bahwa harga pangan terus meningkat dalam sembilan dari sepuluh bulan terakhir, didorong oleh cuaca ekstrem di daerah penghasil utama dan kenaikan biaya bahan bakar serta transportasi.

Kenaikan harga pada November tercatat sebesar 0,5 persen, dengan pergerakan harga yang bervariasi pada tiga dari lima subindeks pangan.

Salah satu yang mengalami kenaikan signifikan adalah harga minyak nabati, yang naik sebesar 7,5 persen, mencapai level tertinggi dalam lebih dari dua tahun. 
Hal ini terjadi karena kekhawatiran tentang pasokan global yang terbatas akibat hujan deras di Asia Tenggara dan meningkatnya permintaan impor.

Selain itu, harga produk susu juga mengalami kenaikan tipis sebesar 0,6 persen, yang disebabkan oleh permintaan susu bubuk yang lebih tinggi dan penurunan produksi di Eropa Barat.

Namun, harga biji-bijian dan sereal mengalami penurunan, dengan harga beras turun 4 persen, gandum sedikit menurun, dan harga jagung tetap stabil. Sementara itu, harga jelai dan sorgum juga sedikit turun.

Harga gula pada November turun 2,4 persen dibandingkan bulan Oktober, setelah dua bulan sebelumnya mengalami kenaikan. Demikian pula, harga daging turun sebesar 0,8 persen.

Dwijono Hadi Darwanto, Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM), menjelaskan bahwa penyebab utama kenaikan harga pangan global adalah cuaca yang tidak mendukung pertanian.

“Gejala naiknya harga produk pangan ini selain dipicu karena keterbatasan produk akibat cuaca kurang mendukung, juga ada gejala kenaikan ongkos produksi akibat kenaikan harga raw material dari input produksi,” ungkapnya.

Selain itu, biaya produksi yang meningkat akibat lonjakan harga bahan baku juga memengaruhi harga pangan.

Fluktuasi harga pangan ini berdampak pada ketersediaan pangan global dan daya beli masyarakat, terutama di negara-negara yang sangat bergantung pada impor bahan pangan.

Untuk itu, Dwijono menyarankan pengendalian harga input produksi dan mendukung keberlanjutan tenaga kerja di sektor pertanian untuk menjaga kestabilan harga pangan.

Dia juga menekankan pentingnya perhatian terhadap perubahan iklim dan efisiensi biaya produksi dalam menjaga ketahanan pangan di masa depan.

Sementara itu, I Nengah Muliarta, pengamat pertanian dari Universitas Warmadewa, Bali, mengatakan bahwa kenaikan harga pangan global menjadi tantangan besar bagi banyak negara, termasuk Indonesia.

Meskipun harga biji-bijian dan sereal turun, cuaca ekstrem dan biaya transportasi yang tinggi tetap memengaruhi pasar.

Muliarta menegaskan bahwa Indonesia harus fokus meningkatkan produksi pangan dalam negeri untuk mengurangi ketergantungan pada impor, terutama beras yang harga nya telah melonjak dalam dua tahun terakhir.

Untuk mengatasi tantangan ini, Muliarta menyarankan beberapa langkah, seperti memberikan akses yang lebih baik bagi petani terhadap pupuk, benih unggul, dan alat pertanian modern.

Selain itu, program penyuluhan yang mengajarkan cara mengatasi dampak cuaca ekstrem juga perlu diperkuat. Dalam jangka pendek, perbaikan infrastruktur transportasi dan penyimpanan akan sangat membantu dalam mendistribusikan hasil pertanian secara efisien, serta kebijakan yang melindungi harga komoditas agar tetap stabil bagi petani.

Dengan langkah-langkah ini, diharapkan Indonesia dapat meningkatkan ketahanan pangan dan mengurangi dampak fluktuasi harga pangan global.

tag: jateng



BERITA TERKAIT