03 Sep 2026 | Jawa Tengah
Jatengreport
Inisiatif

Detektif Volume : Mengubah Kemasan di Toko Wafi Menjadi Laboratorium Matematika Berbasis TIK Adaptif Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Kelas IV

Eko Purwanto 03 Sep 2026
Detektif Volume : Mengubah Kemasan di Toko Wafi Menjadi Laboratorium Matematika Berbasis TIK Adaptif Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Kelas IV
Oleh : Septi Krisyanti, S.Pd. (Guru SDN 3 Tejorejo)

“Bu, kalau yang ini berapa mililiter?”

Pertanyaan sederhana dari seorang murid kelas IV di Toko Wafi itu justru menjadi tanda bahwa matematika mulai menemukan ruang hidupnya. Bersama teman satu kelompok, murid mencatat ukuran kemasan, membandingkan volume, dan menghitung konversi liter ke mililiter. Mereka tidak sedang berbelanja, tetapi menjalankan misi “Detektif Volume”.

Kegiatan tersebut berawal dari asesmen awal materi pengukuran volume. Dari 19 murid, baru 9 anak atau sekitar 47 persen yang mampu melakukan konversi satuan volume dengan benar. Sebanyak 10 murid lainnya masih kesulitan. Mereka mampu menyebutkan bahwa 1 liter sama dengan 1.000 mililiter, tetapi sering keliru ketika menghadapi soal dengan angka atau bentuk yang berbeda.

Saya kemudian menyadari bahwa persoalannya mungkin bukan semata-mata matematika yang sulit. Konsep liter dan mililiter selama ini lebih sering hadir sebagai angka di papan tulis dan soal latihan. Murid menghafal tangga satuan, tetapi belum sepenuhnya memahami maknanya. Karena itu, pembelajaran saya bawa keluar kelas.

Toko Wafi dipilih karena menyediakan berbagai produk cair dengan ukuran kemasan berbeda. Dalam kelompok, murid mencatat nama produk, volume, satuan, serta hasil konversinya. Mereka membandingkan 600 mililiter dengan 1 liter, menghitung isi dua botol berukuran 600 mililiter, dan mengubah 1,5 liter menjadi mililiter.

Melalui Discovery Learning, murid tidak langsung diberi rumus dan jawaban. Mereka mengamati benda nyata, berdiskusi, menghitung, memeriksa hasil, lalu menyampaikan kesimpulan. Tulisan “1 liter” pada kemasan dihubungkan dengan “1.000 mililiter”. Konsep yang semula abstrak menjadi lebih mudah dipahami karena dapat dilihat dan disentuh.

Kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari implementasi Kapasitas Guru Berkelanjutan (KAPAS GULA), khususnya KAPAS GULA Modul 125 tentang pemanfaatan TIK adaptif dalam pembelajaran. Video animasi digunakan untuk membangun perhatian, sedangkan PowerPoint membantu menampilkan gambar kemasan dan hubungan antarsatuan secara visual. Papan digital interaktif digunakan untuk mencoba konversi dan mendiskusikan jawaban. Murid juga memiliki pengalaman baru mengerjakan soal formatif menggunakan Wayground mode kertas.

Namun, TIK adaptif bukan berarti pembelajaran harus selalu bergantung pada internet atau perangkat digital. Ketika akses terbatas, kegiatan tetap dilaksanakan melalui lembar kerja cetak. Murid yang membutuhkan bantuan visual memperoleh dukungan gambar dan video, sementara murid yang lebih nyaman belajar melalui interaksi mendapat kesempatan bekerja dalam kelompok.

Hasilnya cukup menggembirakan. Murid yang mampu melakukan konversi dengan benar meningkat dari 9 anak (47%) menjadi 17 anak (89%). Rata-rata nilai juga meningkat dari 67,53 menjadi 85,95. Perubahan tersebut menunjukkan perkembangan positif dalam keaktifan dan pemahaman murid.

Pengalaman “Detektif Volume” mengajarkan bahwa sumber belajar tidak selalu harus mahal. Toko kelontong dapat menjadi laboratorium matematika. Pasar dapat menjadi ruang belajar numerasi, sedangkan halaman sekolah dapat dimanfaatkan untuk mempelajari panjang, luas, dan keliling.

Guru tidak harus menjadi ahli teknologi untuk memulai. Video pendek, bahan tayang, lembar kerja digital maupun cetak, serta lingkungan sekitar sudah dapat menjadi bagian dari pembelajaran adaptif.

Pada akhirnya, matematika tidak boleh berhenti pada angka dan rumus. Matematika hadir ketika murid membaca ukuran minuman, menghitung uang, mengukur benda, atau membandingkan sesuatu. Tugas guru adalah membantu murid menemukan bahwa pelajaran di kelas sebenarnya hidup dalam keseharian. Sebab, matematika tidak hanya berada di buku dan papan tulis. Kadang, matematika sedang menunggu untuk ditemukan di rak sebuah toko kelontong.

Berita Terkait