27 Aug 2026 | Jawa Tengah
Jatengreport
Jateng

Membumikan Konsep Ekosistem Kelas 5 Melalui Kreasi Diorama

Eko Purwanto 27 Agt 2026
Membumikan Konsep Ekosistem Kelas 5 Melalui Kreasi Diorama
Oleh: Festiana Fajar Suryaningsih Sumbawati, S.Pd. (Guru Kelas 5 SDN 2 Lumansari)


Mempelajari materi Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS) di kelas 5 sekolah dasar sering kali menghadirkan tantangan tersendiri. Salah satunya adalah materi ekosistem. Ketika siswa hanya membaca buku teks mengenai hubungan rantai makanan, jaring-jaring makanan, atau keseimbangan lingkungan, konsep-konsep tersebut kerap berhenti sebagai hafalan teoritis tanpa makna mendalam.


Padahal, memahami ekosistem adalah fondasi penting untuk membentuk kesadaran lingkungan sejak dini. Siswa perlu menyadari bahwa kelangsungan hidup setiap makhluk hidup saling bergantung satu sama lain. Untuk menjembatani pemahaman abstrak tersebut menjadi pengalaman belajar yang nyata, pendekatan berbasis karya seperti pembuatan diorama hadir sebagai media pembelajaran yang sangat relevan.


Diorama miniatur tiga dimensi yang menggambarkan suatu pemandangan atau adegan bukan sekadar proyek kerajinan tangan di kelas. Pembelajaran berbasis proyek (Project-Based Learning) dengan membuat diorama ekosistem merupakan proses olah pikir yang memadukan sains, kreativitas, dan kolaborasi.

 
Dalam praktik pembelajaran IPAS kelas 5, aktivitas membuat diorama ekosistem (seperti ekosistem hutan, laut, atau sawah) memberikan dampak positif yang nyata bagi perkembangan siswa:

  1. Transformasi Konsep Abstrak Menjadi Konkrit 
    Saat membuat diorama, siswa tidak sekadar menghafal siapa memakan siapa. Mereka secara langsung memetakan peran produsen, konsumen, dan pengurai melalui susunan miniatur fisik. Interaksi taktil dan visual ini membantu siswa memahami konsep hubungan antarmakhluk hidup secara logis dan permanen.

  2. Melatih Pembelajaran Kolaboratif dan Problem Solving
    Proyek pembuatan diorama yang dikerjakan secara berkelompok menuntut siswa untuk berdiskusi, membagi tugas, dan menyepakati rancangan bersama. Ketika ada kendala—misalnya memilih bahan yang tepat untuk mewakili miniatur pohon atau hewan—siswa dilatih untuk memecahkan masalah secara bersama-sama.

  3. Menumbuhkan Kepedulian Lingkungan Berbasis Upcycling
    Penggunaan bahan-bahan bekas seperti kardus bekas, ranting kering, plastik bekas, atau kertas daur ulang dalam pembuatan diorama memberikan pesan moral tambahan. Siswa diajarkan bahwa menjaga ekosistem dapat dimulai dari langkah kecil, yaitu memanfaatkan kembali barang-barang di sekitar mereka.

  4. Wadah Wadah Pembelajaran Inklusif dan Inovatif
    Setiap anak memiliki gaya belajar yang berbeda. Pembelajaran berbasis karya fisik memberi kesempatan bagi siswa kinestetik dan visual untuk bersinar dan menunjukkan pemahamannya secara percaya diri, tanpa terbatas pada ujian tertulis belaka.


Mengajarkan sains di sekolah dasar bukanlah tentang seberapa banyak istilah latin atau definisi yang mampu dihafal anak. Lebih dari itu, ini tentang bagaimana mengajak siswa mengalami proses belajar itu sendiri. Lewat diorama sederhana di meja kelas, kita sedang mengajak siswa kelas 5 belajar menjaga rahasia keseimbangan alam yang sesungguhnya.

Berita Terkait