Hat Yai, Thailand Selatan (Jatengreport.com) – Metode pembelajaran aktif (Active Learning) menjadi salah satu inovasi yang diperkenalkan mahasiswa Universitas Persatuan Guru Republik Indonesia Semarang (UPGRIS) selama mengikuti Program PPL Internasional dan KKN Internasional di Thailand Selatan.
Pendekatan ini menghadirkan proses belajar yang lebih interaktif, kolaboratif, dan berpusat pada peserta didik sebagai bagian dari implementasi Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) sekaligus penguatan kerja sama internasional bersama Al Hidayah Foundation.
Selama pelaksanaan program di sejumlah sekolah mitra di wilayah Hat Yai, mahasiswa UPGRIS menerapkan berbagai metode pembelajaran aktif yang tidak lagi bertumpu pada ceramah.
Siswa diajak belajar melalui diskusi kelompok, permainan edukatif, presentasi, pemecahan masalah, eksperimen, hingga pembelajaran berbasis proyek.
Beragam aktivitas tersebut mendorong siswa untuk lebih aktif bertanya, berdiskusi, bekerja sama, dan mengemukakan pendapat.
Penerapan Active Learning disesuaikan dengan karakteristik peserta didik serta kebutuhan masing-masing sekolah. Sebelum mengajar, mahasiswa berdiskusi dengan guru pamong untuk menyusun strategi pembelajaran yang selaras dengan kurikulum sekolah dan tetap menghormati budaya belajar di Thailand Selatan.
Kolaborasi ini menciptakan suasana kelas yang dinamis tanpa mengesampingkan nilai-nilai lokal yang telah berkembang.
Rektor UPGRIS, Dr. Sri Suciati, M.Hum., menegaskan bahwa inovasi pembelajaran merupakan salah satu kontribusi nyata yang dapat diberikan mahasiswa dalam program internasional.
"Kami mendorong mahasiswa agar tidak hanya mengajar, tetapi juga membawa inspirasi pembelajaran yang kreatif dan menyenangkan. Active Learning menjadi salah satu pendekatan yang mampu meningkatkan partisipasi siswa sekaligus menunjukkan bahwa kerja sama internasional dapat menghasilkan inovasi yang berdampak langsung pada proses belajar mengajar," ujarnya.
Penerapan Active Learning juga menjadi bagian dari implementasi model IPCSA 5E yang dikembangkan UPGRIS. Pilar Education diwujudkan melalui praktik pembelajaran inovatif yang memperkaya pengalaman belajar siswa.
Pilar Exchange tercermin dalam pertukaran metode mengajar dan pengalaman pedagogis antara mahasiswa UPGRIS dengan para guru di Thailand Selatan.
Sementara itu, aspek Engagement terlihat dari keterlibatan aktif mahasiswa, guru, dan siswa dalam setiap proses pembelajaran. Pilar Empowerment diwujudkan melalui peningkatan kapasitas guru dan sekolah dalam mengembangkan strategi pembelajaran yang lebih partisipatif.
Adapun Employability diperoleh mahasiswa melalui pengalaman merancang pembelajaran kreatif, memimpin kelas multikultural, membangun komunikasi lintas budaya, serta mengelola dinamika pembelajaran di lingkungan internasional.
Kepala UPT Kerja Sama dan Urusan Internasional (KUI) UPGRIS, Dr. Nur Hidayat, M.Hum., menjelaskan bahwa transfer praktik baik dalam pembelajaran menjadi salah satu nilai utama dari program internasional tersebut.
"Melalui kerja sama dengan Al Hidayah Foundation, mahasiswa tidak hanya belajar dari sekolah mitra, tetapi juga berbagi pengalaman dan inovasi pembelajaran yang mereka miliki. Pertukaran seperti inilah yang membuat kerja sama internasional memiliki dampak akademik yang nyata," jelasnya.
Guru di salah satu sekolah mitra di Hat Yai mengakui bahwa pendekatan yang diterapkan mahasiswa UPGRIS menghadirkan suasana baru dalam proses belajar mengajar.
"Siswa menjadi lebih aktif bertanya, berdiskusi, dan berani menyampaikan pendapat. Metode yang digunakan mahasiswa UPGRIS sangat menarik karena mampu membuat pembelajaran menjadi lebih hidup dan menyenangkan. Beberapa strategi tersebut akan kami adaptasi dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah," tuturnya.
Salah seorang mahasiswa peserta PPL Internasional juga mengungkapkan bahwa menerapkan Active Learning di sekolah internasional menjadi pengalaman yang sangat berharga.
"Kami belajar bahwa setiap siswa memiliki cara belajar yang berbeda. Tantangannya adalah bagaimana membuat seluruh siswa terlibat dalam pembelajaran. Ketika melihat mereka antusias mengikuti kegiatan, kami merasa inovasi sederhana dapat memberikan dampak yang besar," ungkapnya.
Program ini semakin memperkuat implementasi MBKM karena memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mengembangkan kompetensi profesional melalui pengalaman belajar di luar negeri.
Selain meningkatkan kemampuan pedagogik, mahasiswa juga mengasah keterampilan komunikasi lintas budaya, bekerja dalam tim internasional, serta memahami praktik pendidikan di negara lain.
Melalui penerapan Active Learning di sekolah-sekolah mitra Al Hidayah Foundation di Hat Yai, Thailand Selatan, UPGRIS kembali menunjukkan bahwa kerja sama internasional tidak hanya menghadirkan mobilitas mahasiswa, tetapi juga menghasilkan inovasi pembelajaran yang memberikan manfaat nyata bagi sekolah mitra. Program PPL Internasional dan KKN Internasional ini menjadi implementasi konkret model IPCSA 5E dalam memperkuat pendidikan internasional, meningkatkan kualitas pembelajaran, serta mencetak lulusan yang profesional, inovatif, dan berdaya saing global.***