Helm Terpasang Polusi Menghampiri, INSTO Dry Eyes Jaga Mata Tetap Berfungsi

images

FOTO ISTIMEWA : Yaqin pengemudi ojek daring menunjukkan produk INSTO Dry Eyes di sela aktivitas berkendara. Paparan angin, debu, dan polusi jalanan membuat perawatan kesehatan mata menjadi kebutuhan penting.

Nasional

Bintang

14 Jan 2026


Oleh : Bintang Diega Paratama

SEMARANG - Tidak ada tombol jeda di mata Yaqin, sejak matahari terbit hingga langit kota Semarang berubah jingga lalu gelap, penglihatannya terus bekerja tanpa kompromi.

Menyusuri aspal panas, membaca peta digital di layar ponsel, menebak gerak kendaraan di persimpangan padat, hingga menembus silau lampu mobil saat malam datang.

Di balik helm yang melekat berjam-jam, mata Yaqin menjadi saksi dari satu kenyataan yang jarang dibicarakan yaitu perjuangan mencari nafkah yang diam-diam menggerus kesehatan.

Yaqin, pengemudi ojek daring pengantar makanan, sudah hampir dua tahun menggantungkan hidupnya di jalanan kota. Pagi hari ia mulai menyalakan mesin, berharap pesanan pertama segera masuk.

Siang ia berjibaku dengan terik matahari dan asap knalpot. Malam hari, ia tetap melaju, mengejar target dan kebutuhan rumah. Jarak jauh bukan lagi hal asing, begitu pula rasa lelah. Namun ada satu bagian tubuh yang kerap ia abaikan yaitu matanya.

“Capek itu biasa, Yang penting bisa pulang bawa uang” ujar Yaqin suatu sore, Rabu (14/1).

Kalimat itu mencerminkan cara banyak pekerja sektor informal bertahan. Kesehatan sering kali berada di urutan belakang, kalah oleh tuntutan kebutuhan harian. 

Yaqin meneteskan cairan tetes mata di balik helm sebelum kembali melanjutkan perjalanan. Di tengah paparan debu, asap kendaraan, dan aktivitas di jalanan kota, langkah sederhana ini menjadi upaya menjaga kesehatan mata agar tetap prima saat bekerja.

Bagi Yaqin, mata yang terasa sepet dan perih awalnya dianggap hal remeh. Terlalu kecil untuk dikeluhkan, terlalu biasa untuk diperhatikan.

Setiap hari, mata Yaqin terpapar kombinasi yang berat seperti sinar ultraviolet, debu jalanan, asap kendaraan bermotor, dan hembusan angin kering saat berkendara.

Belum lagi intensitas menatap layar ponsel untuk memantau pesanan dan navigasi. Awalnya hanya rasa tidak nyaman. Lama-kelamaan, mata menjadi merah, kering, dan cepat lelah.

Namun seperti banyak pekerja lainnya, Yaqin memilih menunda kepedulian.

“Saya pikir nanti juga hilang sendiri,” katanya, mengulang alasan yang kerap terdengar sederhana, tapi berbahaya.

Penundaan itu nyaris menjadi kebiasaan. Hingga suatu hari, ia mulai merasakan fokus penglihatannya berkurang. Mata terasa berat, pandangan cepat buram, terutama setelah berkendara seharian.

Pada profesi seperti Yaqin, kehilangan fokus bukan perkara sepele. Satu detik lengah di jalan bisa berarti kecelakaan, bukan hanya bagi dirinya, tetapi juga pengguna jalan lain.

Kesadaran itu justru datang dari rumah.
Istri Yaqin, yang lebih dulu menyadari perubahan kecil, mulai memperhatikan kebiasaan suaminya. Mata yang sering berkedip, wajah yang cepat letih sepulang kerja, hingga keluhan perih yang makin sering muncul.

Dari pengamatan sederhana itulah, Yaqin akhirnya mulai memahami bahwa mata bukan sekadar alat melihat, melainkan penentu apakah ia bisa bekerja dengan aman dan kembali pulang dengan selamat.

“Kalau kamu nggak jaga mata, gimana mau kerja?” ujar sang istri, mengingatkan.

Kalimat sederhana itu mengubah cara pandang Yaqin. Ia mulai menyadari bahwa menjaga mata sama pentingnya dengan memastikan rem motor berfungsi atau ban tidak gundul sebelum berangkat.

Yaqin menunjukkan INSTO Dry Eyes di sela aktivitasnya di jalanan Kota Semarang. Paparan debu, angin, dan polusi selama berjam-jam berkendara membuat kesehatan mata menjadi kebutuhan penting bagi pekerja sektor transportasi.

Dari sana, ia mulai mencari cara untuk melindungi penglihatannya di tengah kondisi kerja yang keras.

Di jalanan yang penuh polusi, solusi sering kali harus sederhana dan praktis. Bagi Yaqin, INSTO Dry Eyes menjadi bagian dari rutinitas hariannya. Bukan sebagai penyelamat instan, melainkan sebagai bentuk perlindungan kecil yang konsisten.

Tetes mata ini membantu menjaga kelembapan mata yang kering akibat paparan udara dan debu, meredakan rasa perih, serta mengurangi kelelahan mata tiga keluhan yang paling sering ia rasakan selama bekerja. Efeknya tidak berlebihan, tetapi cukup terasa.

“Setelah pakai, mata jadi lebih nyaman. Fokus juga lebih enak,” katanya singkat.

Kenyamanan itu memiliki dampak besar. Di tengah lalu lintas Semarang yang padat dan dinamis, penglihatan yang jernih adalah modal utama. Kota ini terus tumbuh, begitu pula kepadatan kendaraan di jalannya.

Berdasarkan data yang dilansir dari jatengpikiranrakyat, jumlah kendaraan bermotor di Jawa Tengah hingga April 2025 mencapai 21.760.374 unit. Dari jumlah tersebut, 19.321.052 unit adalah sepeda motor menjadi kontributor utama kepadatan dan polusi udara perkotaan.

Angka-angka itu bukan sekadar statistik. Ia menjelaskan realitas yang dihadapi Yaqin dan jutaan pekerja jalanan lainnya setiap hari. Polusi meningkat, waktu di jalan bertambah, dan beban pada mata pun kian berat.

Ironisnya, gangguan mata kering masih sering dianggap sepele. Mata sepet, perih, dan lelah kerap dipandang sebagai kelelahan biasa, bukan sinyal awal gangguan kesehatan. Padahal, jika dibiarkan, kondisi ini dapat memengaruhi produktivitas, konsentrasi, bahkan keselamatan.

Melihat rendahnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan mata, INSTO merek tetes mata dari Combiphar meluncurkan kampanye edukasi bertajuk “Bebas Mata SePeLe”.

Kampanye ini mengajak masyarakat untuk lebih peka terhadap tiga gejala mata kering yang kerap diabaikan yaitu SEpet, PErih, dan LElah.

“Sebagai pemimpin pasar kategori tetes mata yang telah dipercaya lebih dari 50 tahun di Indonesia, INSTO memiliki komitmen besar terhadap kesehatan mata masyarakat. Kampanye ini kami hadirkan untuk mendorong penanganan mata kering sejak dini,” ujar Weitarsa Hendarto, Direktur PT Combiphar, dalam keterangan resminya, belum lama ini.

Bagi Yaqin, pesan itu bukan sekadar slogan. Ia adalah pengingat bahwa menjaga mata bukanlah bentuk kemewahan, melainkan kebutuhan dasar.

Sama seperti mengisi bahan bakar atau mengenakan helm, merawat mata adalah bagian dari upaya bertahan di jalan.

Kini, di sela-sela kesibukan mengejar pesanan, Yaqin lebih peka pada tubuhnya sendiri. Ia belajar berhenti sejenak, memberi perhatian pada matanya yang bekerja tanpa henti.

INSTO Dry Eyes menjadi bagian kecil dari rutinitas besar membantu matanya tetap nyaman, fokus terjaga, dan perjalanan terasa lebih aman.

Di tengah polusi kota dan cuaca yang tak menentu, mata Yaqin mungkin tak pernah berteriak. Ia hanya memberi sinyal halus, yang mudah diabaikan. Namun dari kisahnya, kita belajar untuk lebih peka.

Karena bagi para pekerja jalanan seperti Yaqin, penglihatan yang terjaga bukan hanya soal kenyamanan. Ia adalah tentang keselamatan, tentang tanggung jawab, dan tentang keluarga yang menunggu di rumah menanti seorang ayah pulang dengan selamat, setelah seharian matanya bekerja tanpa jeda.***

tag: berita, INSTO Dry Eyes, INSTO Dry Eyes, Jaga Mata, SEPELE


BERITA TERKAIT