Krisis Sampah, Ferry Wawan Cahyono Siapkan Solusi Ramah Lingkungan
Jateng
Bintang
07 Des 2024
SEMARANG (Jatengreport.com) – Indonesia, khususnya Jawa Tengah, kini tengah menghadapi persoalan lingkungan yang cukup pelik. Krisis sampah yang terus meningkat menjadi salah satu tantangan besar bagi pemerintah daerah dalam menjaga kelestarian alam dan kesehatan masyarakat.
Menyikapi hal ini, Ketua Fraksi Golkar DPRD Jawa Tengah, Ferry Wawan Cahyono, turun tangan dengan menyiapkan solusi-solusi ramah lingkungan yang diharapkan dapat mengatasi permasalahan sampah yang semakin membebani provinsi ini.
Permasalahan sampah di Jawa Tengah sudah menjadi isu yang cukup serius dalam beberapa tahun terakhir.
Volume sampah yang terus meningkat, terutama di kota-kota besar seperti Semarang, Solo, dan Yogyakarta, mengancam kebersihan kota serta mencemari lingkungan.
Di beberapa tempat, sampah menumpuk di sepanjang jalan, sungai, hingga lahan terbuka yang tidak terkelola dengan baik.
Selain itu, kebiasaan masyarakat yang masih kurang sadar akan pentingnya pengelolaan sampah juga menjadi faktor yang memperburuk situasi ini.
Ferry Wawan Cahyono, yang dikenal sebagai sosok yang peduli terhadap isu lingkungan, mengungkapkan keprihatinannya terhadap krisis sampah yang melanda Jawa Tengah.
Menurutnya, masalah ini memerlukan perhatian lebih dan solusi yang lebih konkret dari berbagai pihak, baik pemerintah, masyarakat, maupun sektor swasta.
"Persoalan sampah tidak bisa dibiarkan begitu saja. Kami sebagai wakil rakyat memiliki tanggung jawab untuk mencari solusi terbaik agar kondisi lingkungan di Jawa Tengah tidak semakin parah," ungkap Ferry.
Sebagai bentuk tanggung jawab dan komitmennya terhadap lingkungan, Ferry Wawan Cahyono mengusulkan sejumlah langkah strategis yang dapat diambil oleh pemerintah daerah dalam menangani krisis sampah.
Berikut adalah beberapa solusi yang tengah ia siapkan untuk diterapkan di Jawa Tengah:
Langkah pertama yang diusulkan adalah memperkuat sistem pengelolaan sampah dengan prinsip 3R yang sudah dikenal secara global.
Hal ini mencakup pengurangan sampah yang dihasilkan (reduce), penggunaan kembali barang-barang yang masih bisa dipakai (reuse), dan mendaur ulang sampah (recycle).
Ferry menilai, pendekatan ini dapat mengurangi jumlah sampah yang dibuang ke tempat pembuangan akhir (TPA) dan mengurangi dampak negatifnya terhadap lingkungan.
"Kita harus meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya prinsip 3R, baik melalui edukasi maupun pemberian insentif bagi mereka yang aktif memilah dan mendaur ulang sampah," katanya.
Ferry juga menyarankan agar pemerintah daerah memperbanyak pembangunan fasilitas pengolahan sampah, seperti tempat sampah terpisah di setiap kawasan, fasilitas daur ulang, serta teknologi ramah lingkungan untuk pengelolaan sampah organik dan non-organik.
Menurutnya, tanpa adanya infrastruktur yang memadai, program pengelolaan sampah akan sulit terlaksana dengan efektif.
"Kita perlu fasilitas pengolahan sampah yang ramah lingkungan dan efisien, agar sampah yang dihasilkan dapat diproses dengan baik dan tidak menambah beban di TPA," ujar Ferry.
Solusi lainnya adalah mendorong kolaborasi antara pemerintah dengan sektor swasta, serta melibatkan masyarakat secara langsung dalam pengelolaan sampah.
Ferry menilai bahwa perusahaan-perusahaan besar di Jawa Tengah dapat berkontribusi dengan menyediakan teknologi daur ulang atau berinvestasi dalam pengolahan sampah.
Selain itu, masyarakat juga harus diberdayakan untuk mengelola sampah dari rumah tangga.
"Kami berharap sektor swasta bisa lebih aktif dalam mengurangi sampah plastik dan menginvestasikan teknologi yang ramah lingkungan. Selain itu, peran masyarakat dalam memilah sampah di rumah akan sangat membantu," tambahnya.
Untuk mengurangi sampah yang berakhir di TPA, Ferry mendorong agar diterapkan konsep zero waste atau tanpa sampah.
Hal ini bisa dimulai dengan membuat kebijakan yang mendukung pengurangan sampah sekali pakai, terutama plastik.
Selain itu, penggunaan sampah organik untuk kompos juga dapat membantu mengurangi volume sampah yang masuk ke TPA.
"Kami akan mendorong kebijakan yang lebih ketat mengenai sampah plastik dan juga program penggunaan sampah organik sebagai kompos di tingkat rumah tangga dan perkotaan," ungkap Ferry.
Diharapkan, jika solusi-solusi ini dapat dilaksanakan dengan baik, dampak positifnya akan sangat terasa.
Selain mengurangi pencemaran lingkungan dan mengurangi tumpukan sampah di TPA, upaya ini juga dapat meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga kebersihan dan kelestarian alam.
Tak hanya itu, pengelolaan sampah yang baik dapat membuka lapangan kerja baru di bidang daur ulang dan pengolahan sampah.
Ferry menambahkan, solusi yang ia tawarkan juga sejalan dengan upaya pemerintah pusat yang sedang menggalakkan pengelolaan sampah berbasis circular economy (ekonomi sirkular), di mana sampah dapat diolah dan dimanfaatkan kembali sebagai bahan baku atau produk baru.
Krisis sampah di Jawa Tengah memang memerlukan perhatian serius dan solusi yang berkelanjutan. Ketua Fraksi Golkar DPRD Jawa Tengah, Ferry Wawan Cahyono, telah menyiapkan berbagai langkah strategis yang dapat diterapkan untuk mengatasi masalah ini.
Dengan adanya kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat, serta penerapan prinsip ramah lingkungan, diharapkan Jawa Tengah bisa mengatasi krisis sampah yang semakin memprihatinkan ini.
"Masalah sampah bukan hanya tanggung jawab pemerintah saja, tetapi juga tanggung jawab kita bersama. Kita harus bergerak bersama untuk lingkungan yang lebih baik dan berkelanjutan," pungkas Ferry Wawan Cahyono dengan penuh semangat. (Adv)
tag: berita