23 Aug 2026 | Jawa Tengah
Jatengreport
Lifestyle

IKEA Indonesia dan Danilla Hadirkan Ruang Candramawa

Aldianza Fatria 21 Agt 2026
IKEA Indonesia dan Danilla Hadirkan Ruang Candramawa

TANGERANG (Jatengreport.com) — IKEA Indonesia bersama musisi dan penulis lagu Danilla menghadirkan Ruang Candramawa, sebuah roomset yang terinspirasi dari cara Danilla menjalani kehidupan sehari-hari dan proses kreatifnya, Jumat (21/8)

Mengambil inspirasi dari album terbaru Danilla, Candramawa, ruang ini dirancang untuk menunjukkan bagaimana satu ruang dapat mengikuti beragam aktivitas penggunanya. Ruang Candramawa diluncurkan pada Kamis, 20 Agustus 2026 di IKEA Alam Sutera, dan juga dapat ditemukan di IKEA Kota Baru Parahyangan serta IKEA Ciputra World Surabaya.

Alih-alih membuat replika rumah atau studio Danilla, IKEA melihat lebih dekat bagaimana Danilla menjalani proses membuat Candramawa. Dalam prosesnya, Danilla tidak selalu berada di depan alat musik atau bekerja secara monoton. Ada waktu untuk mendengarkan teman-temannya berkreasi, berbincang, mencari ide, atau sekadar berhenti sejenak.

Pengamatan tersebut kemudian menjadi salah satu dasar rancangan Ruang Candramawa.

“Dari awal kami memang tidak ingin membuat replika kamar atau studionya Danilla. Kami ingin memahami bagaimana beliau dan teman-temannya menjalani proses pembuatan musik. Dari situ, kami melihat bahwa prosesnya tidak selalu berlangsung linear dan monoton. Ada banyak interaksi, percobaan, dan perubahan di sepanjang proses tersebut, dan hal itu yang kemudian kami bawa ke dalam Ruang Candramawa,” ujar Alfinda Krista Rahardyana, Interior Design Leader IKEA Indonesia.

Inspirasi Ruang Candramawa berangkat dari album terbaru Danilla, Candramawa, yang dirilis pada 5 Juni 2026. Terdiri dari delapan lagu dengan durasi 30 menit, album ini membawa cerita tentang pengalaman, kehilangan, dan bagaimana seseorang berdamai dengan hal-hal yang tidak selalu bisa diubah.

Bagi IKEA, memahami cerita di balik album tersebut menjadi bagian penting untuk melihat seperti apa kehidupan sehari-hari Danilla selama proses pembuatan albumnya, termasuk kebiasaan dan momen-momen yang membentuk cara dia berkarya.

Dalam proses menggarap Candramawa, Danilla bekerja bersama dua musisi sekaligus produser musik Lafa Pratomo dan Otta Tarrega dalam sesi khusus yang ketiganya lakukan bersama secara intens. Ketiganya mengembangkan lagu secara bersama-sama dengan banyak ruang untuk mencoba, mendengarkan, dan memberi respons satu sama lain.

“Prosesnya memang banyak terjadi lewat interaksi kami bertiga. Misalnya saat aku mencoba bagian vokal, Lafa dan Otta bisa langsung memberikan respons, begitu juga ketika mereka sedang mencoba bagian gitar atau keys. Dari situ kami bisa saling mengembangkan dan mengubah sesuatu sampai terasa pas. Mungkin itu juga yang aku suka dari Ruang Candramawa, karena ruangnya nggak terasa seperti dibuat untuk satu kegiatan saja. Ada ruang untuk bekerja, ngobrol, mencoba sesuatu, atau sekadar duduk dan melihat ke mana prosesnya berjalan,” kata Danilla, Musisi & Creative Collaborator.

Dinamika tersebut kemudian menjadi salah satu dasar IKEA dalam merancang Ruang Candramawa. Alih-alih menjadikannya studio musik khusus, IKEA membentuk ruang dengan area yang memiliki karakter berbeda, sehingga aktivitas yang membutuhkan fokus dapat berlangsung berdampingan dengan momen untuk berbincang, berkumpul, atau beristirahat.

Palet warna monokrom, pencahayaan berlapis, material bertekstur, serta elemen personal kemudian menyatukan area-area tersebut sebagai satu ruang yang utuh.

“Kolaborasi ini menarik untuk kami karena pada akhirnya kami tidak hanya mengambil inspirasi dari karya Danilla, tetapi juga dari cara dia menjalani proses kreatifnya. Kami ingin membawa perspektif tersebut ke dalam ruang yang tetap dekat dengan kehidupan sehari-hari banyak orang, sehingga pengunjung bisa melihat kemungkinan lain dari ruang yang mereka miliki,” ujar Muhammad Taufiqurrakhman, Country Marketing Manager IKEA Indonesia.

Melalui Ruang Candramawa, IKEA Indonesia dan Danilla menghadirkan interpretasi atas proses kreatif yang melatarbelakangi lahirnya album Candramawa. Berangkat dari kolaborasi yang Danilla dan teman-temannya lakukan selama proses pembuatan musik, IKEA menerjemahkannya ke dalam ruang yang memiliki area dan suasana berbeda, namun tetap terasa sebagai satu kesatuan.

Kolaborasi ini mempertemukan cerita personal dan proses kreatif Danilla dengan perspektif IKEA mengenai bagaimana ruang dapat menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Ruang Candramawa dapat dikunjungi di IKEA Alam Sutera, IKEA Kota Baru Parahyangan, dan IKEA Ciputra World Surabaya.

Tentang Danilla

Danilla mulai dikenal luas melalui album debutnya, Telisik, yang dirilis pada 2014. Sejak itu, ia terus mengembangkan karakter musikalnya lewat Lintasan Waktu (2017) dan POP SEBLAY (2022), dengan pendekatan yang tidak terlalu terpaku pada satu genre dan selalu memberi ruang untuk bereksperimen.

POP SEBLAY, misalnya, menjadi album yang memberi Danilla, Lafa Pratomo, dan Otta Tarrega kebebasan untuk mengeksplorasi arah yang berbeda tanpa terlalu banyak batasan dalam proses kreatif.

Pada 2026, Danilla kembali dengan album penuh terbarunya, Candramawa. Dirilis pada 5 Juni 2026, album ini menjadi babak baru dalam perjalanan musikalnya dan berisi delapan lagu dengan durasi 30 menit.

Berbeda dari pendekatan POP SEBLAY yang lebih eksploratif dan playful, Candramawa membawa sisi yang lebih reflektif. Album ini berbicara tentang berbagai sisi kehidupan, termasuk kenangan, luka, ketakutan, kehilangan, dan proses belajar menerima hal-hal yang tidak bisa diubah.

Dalam beberapa kesempatan, Danilla juga menjelaskan bahwa Candramawa berkaitan dengan fase melepaskan dan berdamai dengan berbagai hal dalam hidup. Album dengan epitet album ke-3A ini nyaris menjadi karya terakhirnya setelah ia sempat mempertimbangkan untuk berhenti bermusik, sebelum dukungan dari orang-orang terdekat dan pendengarnya membuatnya kembali melihat alasan untuk terus berkarya.

Tentang Lafa Pratomo

Lafa Pratomo adalah musisi, penulis lagu, arranger, dan produser yang sudah menjadi bagian dari perjalanan kreatif Danilla sejak Telisik. Kolaborasi keduanya berlanjut melalui Lintasan Waktu, POP SEBLAY, hingga karya-karya terbaru Danilla.

Hubungan kreatif mereka bukan sekadar soal produksi. Dalam proses POP SEBLAY, misalnya, Lafa berperan sebagai salah satu pihak yang membantu menjaga arah album ketika ide Danilla dan Otta berkembang ke berbagai kemungkinan.

Danilla bahkan menyebut Lafa sebagai semacam “gatekeeper” yang membantu menjaga agar eksplorasi tersebut tetap menemukan bentuk yang tepat.

Untuk Candramawa, Lafa kembali menjadi salah satu produser bersama Danilla dan Otta Tarrega. Dalam proses kreatif album ini, perannya kembali berada pada titik temu antara ide, penulisan, aransemen, dan bagaimana sebuah gagasan musikal akhirnya menjadi karya yang utuh.

Tentang Otta Tarrega

Otta Tarrega adalah musisi, penulis lagu, arranger, dan produser musik yang telah lama bekerja bersama Danilla. Ia terlibat dalam POP SEBLAY dan karya-karya setelahnya, termasuk sebagai bagian dari tim yang membantu membentuk warna musik Danilla.

Dalam proses kreatif bersama Danilla dan Lafa, Otta dikenal membawa pendekatan yang lebih bebas terhadap eksplorasi musik. Saat mengerjakan POP SEBLAY, misalnya, Otta menggambarkan proses mereka sebagai kerja bersama tanpa terlalu banyak membatasi satu sama lain, memberi ruang bagi masing-masing untuk mencoba berbagai ide dan kemungkinan.

Untuk Candramawa, Otta kembali menjadi salah satu produser bersama Danilla dan Lafa. Ketiganya menjadi inti dari proses musikal album ini, sementara beberapa lagu juga melibatkan kolaborator lain seperti Bilal Indrajaya, hara, dan Sandrayati.

Tentang Album Candramawa

Dirilis pada 5 Juni 2026, Candramawa merupakan album penuh terbaru Danilla yang berisi delapan lagu dengan durasi sekitar 30 menit. Album ini diproduseri oleh Danilla Riyadi, Lafa Pratomo, dan Otta Tarrega, dengan kolaborasi vokal dari Bilal Indrajaya, hara, dan Sandrayati.

Album ini membawa tema tentang berbagai sisi kehidupan manusia; terang dan gelap, bahagia dan luka, kehilangan, ketakutan, hingga proses menerima dan berdamai dengan masa lalu.

Proses pembuatan album Candramawa berlangsung dalam rentang 2024–2025, dengan sebagian proses produksi dilakukan di Bantul, Yogyakarta. Danilla menjelaskan bahwa keputusan untuk bekerja di Bantul salah satunya berkaitan dengan kebutuhan untuk memiliki lingkungan yang lebih tenang dan biaya hidup yang memungkinkan tim membawa orang-orang yang mereka butuhkan selama proses kreatif.

Menariknya, ruang dan cara mendengarkan juga menjadi bagian dari cerita album ini. Sebelum perilisan digital, Danilla sempat mengajak sebagian pendengarnya untuk mendengarkan Candramawa dalam keadaan lebih tenang, tanpa distraksi.

Delapan lagu dalam Candramawa adalah: Pertunjukan Terakhir · Prasangka (feat. Bilal Indrajaya) · Kata Siapa · Anaking · Cinta Pertama · Lembar Biru · Dasawarsa · Setitik (feat. hara & Sandrayati).

Salah satu single yang menjadi bagian dari perjalanan menuju album adalah “Pertunjukan Terakhir”, lagu tentang kehilangan yang ditulis bersama Otta dan Lafa.

Lagu ini mengambil sudut pandang yang berbeda terhadap kematian: bukan semata tentang duka dari mereka yang ditinggalkan, tetapi tentang seseorang yang telah pergi dan bagaimana cerita hidupnya akhirnya sampai pada penutupnya.

Bagikan

Berita Terkait