DPRD Jateng Minta Solo Raya Bangun Ekosistem Pariwisata Berkelanjutan

images

Jateng

Tim Jateng Report

30 Mei 2026


BOYOLALI (Jatengreport.com) – Ketua DPRD Jawa Tengah Sumanto mendorong pembangunan kawasan aglomerasi Subosukawonosraten diarahkan pada pengembangan pariwisata yang berkualitas dan berkelanjutan. Potensi besar yang dimiliki wilayah Solo Raya dinilai perlu dikelola secara terintegrasi agar mampu menjadi motor pertumbuhan ekonomi baru di Jawa Tengah.

Hal tersebut disampaikan Sumanto di hadapan Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi dan para kepala daerah se-Solo Raya dalam Rembug Pembangunan Provinsi Jawa Tengah 2026 di Pendopo Gedhe Kabupaten Boyolali, Selasa (26/5/2026).

“Pembangunan kawasan Subosukawonosraten harus diarahkan pada pengembangan pariwisata berkualitas dan berkelanjutan yang berbasis budaya lokal, pelestarian lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat,” kata Sumanto.

Menurutnya, pengembangan sektor pariwisata di kawasan yang meliputi Surakarta, Boyolali, Sukoharjo, Karanganyar, Wonogiri, Sragen, dan Klaten selama ini masih berjalan secara parsial. Padahal, konektivitas dan sinergi antardaerah menjadi kunci untuk membangun daya saing kawasan yang kuat.

Sumanto menilai setiap daerah memiliki potensi yang saling melengkapi. Karanganyar dikenal dengan wisata alam dan budayanya, Boyolali berkembang sebagai destinasi wisata pegunungan, sementara Wonogiri memiliki kekayaan wisata alam yang dapat menjadi daya tarik kawasan secara keseluruhan.

 

Ia menambahkan, pengembangan pariwisata perlu didukung oleh pembangunan infrastruktur, promosi digital, serta peningkatan kapasitas masyarakat agar manfaat ekonomi dapat dirasakan secara luas.

Optimisme tersebut didukung data Pemerintah Provinsi Jawa Tengah yang menunjukkan tren positif sektor pariwisata. Jumlah kunjungan wisatawan meningkat dari sekitar 46 juta orang pada 2022 menjadi lebih dari 74 juta wisatawan pada 2025. Kontribusi sektor pariwisata terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jawa Tengah juga terus meningkat.

“Pariwisata dan ekonomi kreatif memiliki efek pengganda yang besar terhadap pertumbuhan ekonomi daerah, penciptaan lapangan kerja, serta penguatan UMKM,” ujarnya.

Sementara itu, Gubernur Ahmad Luthfi menegaskan pentingnya sinergi seluruh daerah dalam menjaga posisi Jawa Tengah sebagai lumbung pangan nasional.

“Jawa Tengah tetap menjadi lumbung pangan nasional. Pada 2025, kita menghasilkan 9,1 juta ton gabah kering dan 15,6 persen di antaranya untuk memenuhi kebutuhan nasional,” kata Luthfi.

Untuk mendukung ketahanan pangan, gubernur meminta pemerintah daerah memetakan wilayah rawan kekeringan, sumber air, kebutuhan irigasi, serta infrastruktur pendukung pertanian.

Sejumlah kepala daerah juga menyampaikan kondisi ketahanan pangan di wilayah masing-masing. Bupati Sragen Sigit Pamungkas menyebut daerahnya masih mencatat surplus produksi beras. Hal serupa disampaikan Bupati Wonogiri Setyo Sukarno yang melaporkan program pembangunan 1.000 sumur pantek dalam lima tahun untuk mendukung ketersediaan air bagi sektor pertanian.

Adapun Bupati Boyolali Agus Irawan mengusulkan penguatan jaringan irigasi guna meningkatkan produktivitas pertanian di kawasan Merapi-Merbabu. Sementara itu, Wakil Bupati Sukoharjo Eko Sapto melaporkan kondisi pangan daerahnya aman dengan surplus beras mencapai sekitar 114 ribu ton pada 2025.

Rembug Pembangunan Provinsi Jawa Tengah 2026 diharapkan menghasilkan kebijakan yang kolaboratif dan implementatif untuk memperkuat sektor pariwisata sekaligus menjaga ketahanan pangan sebagai penopang utama perekonomian daerah.(Adv)

tag: berita


BERITA TERKAIT