Meracik Rezeki, Menyulam Negeri: BTN Dorong UMKM Terbang Tinggi
Jateng
Bintang
20 Feb 2026
Oleh : Bintang Diega Pratama
Bukan sekadar panganan, di Semarang bakmi Jowo adalah penanda identitas. Bara api yang menyala di bawah wajan besi seperti merawat ingatan kolektif tentang rasa, tentang rumah, tentang kota yang tak pernah benar-benar tidur.
Sepi, bagi warung legendaris ini, adalah kata yang jarang menemukan alamatnya.
Namun kini, di antara kepulan asap dan bunyi spatula yang ritmis, ada hal baru yang ikut ditulis yaity transformasi transaksi.
Kuliner sebagai Ekonomi Kota
Berdasarkan rilis yang dimuat dalam laman resmi Universitas Airlangga, sebanyak 35 persen wisatawan memilih destinasi berdasarkan keunikan makanan khas atau wisata gastronomi.
Artinya, kuliner bukan sekadar pelengkap perjalanan, melainkan alasan utama orang datang.
Lebih jauh lagi, subsektor kuliner tercatat sebagai penyumbang terbesar dalam ekonomi kreatif nasional melampaui fashion dan kriya.
Di meja-meja makan sederhana itulah, denyut ekonomi berdesir paling deras.
Dari satu porsi bakmi, rantai nilai bergerak pedagang bahan baku, pekerja dapur, hingga penyedia jasa parkir.
FOTO ISTIMEWA : Seorang juru masak mengenakan Atribut “bale by btn” yang melekat di tengah aktivitas memasak di lapak Bakmi Jowo.
Ketika transaksi berlangsung cepat dan efisien, perputaran ekonomi pun semakin lincah.
Digitalisasi di Meja Rakyat
Di warung bakmi Jowo ini, perubahan itu hadir melalui Balé by BTN. Fitur QRIS memungkinkan pelanggan membayar hanya dengan satu kali pindai.
Praktis, aman, dan tercatat secara digital.
Jessica (20), pelanggan setia, mengaku mulai rutin menggunakan aplikasi tersebut.
“Awalnya tertarik karena ada reward Rp20 ribu untuk pengguna baru. Setelah coba, ternyata lebih cepat. Nggak perlu repot cari uang kecil,” ujarnya, Jumat (20/2).
Ia juga memanfaatkan promo cashback hingga 30 persen untuk transaksi kuliner dan supermarket (Bale 3S).
“Lumayan sekali. Makan tetap, tapi bisa lebih hemat. Ada notifikasi langsung juga, jadi rasanya aman,” katanya.
Bagi pedagang, sistem pembayaran digital membantu pencatatan arus kas menjadi lebih tertib. Risiko uang palsu menurun, waktu antre berkurang, dan pelayanan terasa lebih sigap.
Komitmen yang Bertaut dengan Akar Rumput
Kepala Divisi Small Medium Enterprise Banking BTN, Bramantyo Tri Adi Nugroho, menegaskan sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) merupakan penopang perekonomian nasional yang bergerak langsung dari lapisan akar rumput.
Menurutnya, pemberdayaan UMKM bukan semata urusan pembiayaan.
“Hal ini menjadi wujud nyata komitmen BTN mendukung Asta Cita Presiden RI Prabowo Subianto yang menjadikan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sebagai motor pemberdayaan dan pembiayaan UMKM,” ujarnya.
Ia menambahkan, dukungan terhadap UMKM bukan hanya mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi juga mencetak lapangan kerja, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, serta memperkuat ketahanan ekonomi nasional.
Di titik inilah layanan terintegrasi BTN menemukan maknanya, dari pembiayaan perumahan, digitalisasi transaksi, hingga dukungan konkret bagi pelaku usaha kuliner.
Menjahit Dampak, Menyajikan Harapan
Bakmi Jowo di Semarang tetap dimasak dengan cara lama seperti arang, wajan, dan resep turun-temurun. Namun cara membayarnya telah beranjak ke masa depan.
Di meja kayu yang sederhana itu, teknologi dan tradisi tidak saling meniadakan mereka berkelindan.
Dan di antara suapan terakhir yang hangat, komitmen itu terasa nyata bahwa ketika bank tak hanya hadir di ruang-ruang formal, melainkan juga di denyut keseharian rakyat.
Dari wajan ke layar gawai, dari rasa ke transaksi, Bank Tabungan Negara sedang menyulam dampak sosialnya pelan, terukur, dan berpihak pada mereka yang menggerakkan ekonomi dari akar rumput.***
tag: berita, btn, 76tahunbtn, anugerahjurnalistikdanfotobtn