Kerja Keras Tak Kenal Senja, INSTO Dry Eyes Jadi Andalan Pekerja
Nasional
Bintang
12 Jan 2026
Oleh : Bintang Diega Pratama
SEMARANG - Di sebuah sudut Kota Semarang, di dalam ruangan berpendingin udara yang dipenuhi bunyi ketikan papan tombol, puluhan layar komputer menyala tanpa jeda.
Angka, desain, naskah, dan data berganti cepat di balik monitor. Inilah ruang kerja perusahaan digital sebagai tempat ide-ide lahir, tenggat waktu dikejar, dan produktivitas menjadi tolok ukur utama.
Namun di balik geliat kreativitas dan kecepatan teknologi itu, ada satu organ tubuh yang bekerja paling keras, nyaris tanpa disadari yaitu mata.
Setiap hari, para karyawan di perusahaan ini menghabiskan waktu berjam-jam menatap layar. Cahaya biru memantul langsung ke retina, kontras warna memaksa fokus terus-menerus, dan kedipan mata perlahan berkurang.
Bagi sebagian orang, kondisi ini terasa biasa. Bagi yang lain, ia menjadi awal dari gangguan kesehatan yang kerap dianggap sepele mata kering, perih, hingga kemerahan.
“Kalau sudah sore, rasanya seperti ada pasir di mata,” ujar Sahlil, salah satu karyawan senior di perusahaan tersebut, Senin (12/1).
Rutinitas yang Diam-Diam Menguras Mata
Sahlil bukan karyawan baru, ia telah menghabiskan bertahun-tahun hidupnya di dunia kerja digital. Rutinitasnya hampir tak pernah berubah berangkat pagi, menempuh perjalanan sekitar 30 menit melewati kepadatan lalu lintas dan polusi udara kota, lalu duduk di depan komputer hingga petang.
“Hampir separuh hidup saya dihabiskan di luar rumah dan di depan layar,” katanya pelan.
Ia menyadari betul bahwa pekerjaannya menuntut konsentrasi visual tinggi. Desain, dokumen, dan komunikasi digital membuatnya tak bisa lepas dari monitor.
Waktu istirahat sering kali tersita oleh tenggat pekerjaan. Mata pun dipaksa bekerja lebih keras dari batas wajarnya.
Pengalaman hidup membuat Sahlil paham bahwa kesehatan bukan sesuatu yang bisa ditawar. Ia pernah jatuh dari motor saat berangkat kerja, mengalami cedera, hingga merasakan berbagai keluhan fisik.
Namun, ada satu hal yang baru benar-benar ia sadari belakangan ini yaitu kesehatan mata.
“Dulu saya pikir mata perih atau merah itu biasa. Tinggal tidur, besok juga sembuh,” ujarnya.
Nyatanya, kondisi itu tak selalu hilang dengan sendirinya.
Mata Kering: Ancaman Sunyi Pekerja
Berdasarkan data medis yang dilansir dari laman Alodokter hingga Januari 2026, paparan cahaya biru dan radiasi dari layar komputer masih menjadi salah satu risiko kesehatan utama bagi pekerja digital.
Kondisi ini dikenal sebagai Computer Vision Syndrome (CVS) atau Digital Eye Strain, dan secara global dilaporkan memengaruhi sekitar 69 hingga 90 persen pengguna perangkat digital.
Sebagai langkah pencegahan mata kering saat kerja, perusahaan menyediakan tetes mata INSTO Dry Eyes bagi karyawan yang beraktivitas penuh di depan komputer.
Gejalanya sering kali muncul perlahan seperti mata kering, terasa perih, gatal, merah, hingga pandangan kabur. Karena datang tanpa rasa sakit yang ekstrem, banyak orang memilih mengabaikannya.
Hal inilah yang sempat dialami Sahlil.
“Padahal mata itu aset utama. Kalau penglihatan terganggu, kerja juga ikut terganggu,” katanya.
Kesadaran itu membuatnya mulai lebih memperhatikan pola hidup mulai dari waktu tidur, asupan makanan, hingga cara menjaga kesehatan mata. Di tengah upaya itu, ia kembali pada solusi yang sebenarnya sudah akrab dengannya sejak kecil.
Kembali pada Kebiasaan Lama yang Terbukti
INSTO bukan nama baru bagi Sahlil. Ia mengingat betul bagaimana orang tuanya selalu menyimpan obat tetes mata itu di rumah.
“Sejak kecil, kalau mata merah atau perih, orang tua saya selalu bilang, ‘Pakai INSTO’,” kenangnya.
Kini, bertahun-tahun kemudian, kebiasaan itu kembali menjadi bagian dari kesehariannya. INSTO Dry Eyes ia gunakan ketika mata mulai terasa kering dan tidak nyaman akibat paparan layar komputer yang intens.
Menurut Sahlil, penggunaan obat tetes mata bukan soal mengobati semata, tetapi bagian dari langkah pencegahan agar mata tidak mengalami iritasi yang lebih parah.
“Kerja saya sangat bergantung pada penglihatan. Jadi lebih baik dicegah sejak awal,” ujarnya.
Kepedulian yang Hadir dari Lingkungan Kerja
Apa yang dilakukan Sahlil ternyata tidak berdiri sendiri. Di perusahaan tempatnya bekerja, isu kesehatan dan keselamatan kerja mulai mendapat perhatian lebih serius. Salah satunya terlihat dari isi kotak P3K yang tersedia di area kantor.
Selain perlengkapan medis dasar, INSTO Dry Eyes menjadi salah satu item yang selalu tersedia. Bukan kebetulan, melainkan bagian dari kebijakan perusahaan untuk mendukung kesehatan karyawan, terutama yang berkaitan langsung dengan risiko pekerjaan.
Setiap dua bulan sekali, pihak perusahaan melakukan pengecekan isi kotak P3K. Obat-obatan yang mendekati masa kedaluwarsa segera diganti dengan yang baru. Langkah ini mungkin terlihat sederhana, namun dampaknya nyata.
“Setidaknya kami merasa diperhatikan,” kata Sahlil.
Kepedulian semacam ini mencerminkan pemahaman bahwa kesehatan karyawan berkorelasi langsung dengan produktivitas perusahaan.
Karyawan yang sehat akan bekerja lebih fokus, minim gangguan, dan memiliki kualitas kerja yang lebih baik.
Rendahnya Literasi Mata Kering
GM Eye Care Combiphar, Farah Feddia, mengungkapkan bahwa rendahnya kesadaran masyarakat terhadap kondisi mata kering masih menjadi tantangan besar di Indonesia.
“Empat dari sepuluh orang mengalami mata kering, tetapi setengahnya tidak menyadari kondisi tersebut. Ini menjadi alarm bagi kami bahwa edukasi harus diperluas,” ujar Farah, baru-baru ini.
Menurutnya, banyak orang baru menyadari pentingnya kesehatan mata ketika gangguan sudah terasa cukup parah.
Padahal, langkah pencegahan bisa dilakukan sejak dini dengan kebiasaan sederhana—mengistirahatkan mata, mengurangi paparan layar berlebihan, dan menggunakan solusi yang tepat.
Melalui INSTO Dry Eyes, Combiphar berupaya membantu masyarakat tetap produktif dengan memberikan solusi yang berfungsi sebagai “air mata buatan”.
Produk ini membantu melumasi dan melembapkan mata kering, meredakan iritasi, rasa gatal, perih, serta sensasi mengganjal akibat berkurangnya produksi air mata alami. INSTO Dry Eyes juga dapat digunakan untuk melumasi mata palsu atau lensa kontak keras.
Di Balik Layar, Ada Mata yang Perlu Dijaga
Di ruang kerja yang sama, layar komputer tetap menyala. Deadline tetap datang silih berganti. Namun kini, ada kesadaran baru yang tumbuh bahwa menjaga kesehatan mata adalah bagian dari menjaga kualitas hidup.
Bagi Sahlil, perubahan ini terasa nyata. Ia tak lagi menunggu mata terasa sangat perih untuk bertindak. Ia mulai lebih peduli pada tanda-tanda kecil yang dulu kerap diabaikan.
“Mata itu tidak pernah berteriak, tapi memberi sinyal,” katanya.
Di era digital, ketika hampir semua aktivitas bergantung pada layar, kesehatan mata menjadi isu yang tak bisa dipisahkan dari produktivitas. Apa yang dilakukan perusahaan digital di Semarang ini mungkin terlihat sederhana, namun menjadi contoh bahwa kepedulian bisa dimulai dari hal-hal kecil.
Sebab pada akhirnya, di balik setiap layar yang menyala, ada mata yang bekerja tanpa henti. Menjaganya bukan hanya soal kenyamanan, tetapi tentang memastikan manusia di balik teknologi tetap sehat, fokus, dan bahagia.***
tag: berita, INSTO Dry Eyes