Mata Tak Pernah Ribut, INSTO Dry Eyes Mendengar Isyaratnya

images

FOTO ISTIMEWA : Lia (28) menggunakan tetes mata Insto Dry Eyes untuk membantu menjaga kelembapan dan kenyamanan mata.

Nasional

Bintang

07 Jan 2026


Oleh :Bintang Diega Pratama
 

SEMARANG - Pagi di Kota Semarang selalu dimulai dengan ritme yang sama bagi Lia (28). Deru kendaraan bersahut-sahutan, udara bercampur debu menyapa wajahnya sejak ia memutar kunci sepeda motor.

Dari rumah menuju kantor, hampir satu jam perjalanan harus ia tempuh setiap hari. Panas, hujan, dan kemacetan seolah menjadi paket lengkap yang tak terpisahkan dari rutinitasnya.

Sebagai karyawan swasta, Lia dituntut untuk selalu sigap. Usianya masih tergolong muda, namun tanggung jawab hidupnya tak ringan. Ia menjadi salah satu tulang punggung keluarga, membuat hari-harinya lebih banyak dihabiskan di luar rumah ketimbang beristirahat. Waktu terasa habis di jalanan, di balik meja kerja, dan di depan layar.

Tanpa disadari, ada satu bagian tubuh yang bekerja paling keras namun kerap luput dari perhatian yaitu mata.

Sinyal Kecil yang Kerap Diabaikan

Awalnya Lia tak menganggap serius keluhan yang ia rasakan. Mata terasa sepet, perih, dan cepat lelah. Sesekali seperti ada ganjalan, seolah pasir halus terselip di balik kelopak.

Ia mengira itu hanya dampak kelelahan setelah bekerja seharian.

“Biasanya saya biarkan saja. Saya pikir itu hal biasa karena capek,” ujar Lia, Rabu (7/1).

Namun, gejala tersebut datang berulang setiap hari menatap layar ponsel dan komputer, ditambah paparan angin, debu, serta polusi selama perjalanan, membuat kondisi matanya semakin tidak nyaman.

Situasi ini diperparah oleh kebiasaan menggunakan kacamata minus sejak masa kuliah, yang menuntut mata bekerja lebih keras untuk fokus.

Tanpa ia sadari, Lia mengalami mata kering, kondisi yang sering dianggap sepele oleh banyak orang. Padahal, mata sepet, perih, dan lelah merupakan tanda-tanda awal yang seharusnya dikenali sejak dini.

Mata kering bukan hanya soal rasa tidak nyaman jika dibiarkan, kondisi ini dapat mengganggu konsentrasi, menurunkan produktivitas, bahkan memengaruhi kualitas hidup.

Sayangnya, masih banyak masyarakat yang baru menyadari pentingnya kesehatan mata ketika keluhan sudah terasa berat.

Polusi Udara dan Risiko yang Mengintai

Tantangan Lia menjaga kesehatan mata tak hanya datang dari rutinitas kerja dan penggunaan gawai. Lingkungan tempat ia tinggal turut memberi tekanan.

Kota Semarang, dengan mobilitas tinggi dan kepadatan kendaraan, belakangan menghadapi persoalan kualitas udara.

Dinas Kesehatan Kota Semarang menyebutkan bahwa kualitas udara di Kota Atlas rata-rata berada pada kategori kuning hingga oranye atau tidak sehat. Kondisi ini menuntut masyarakat untuk lebih berhati-hati saat beraktivitas di luar ruangan, terutama kelompok sensitif.

“Kelompok sensitif seperti anak kecil, orang tua, dan mereka yang memiliki riwayat penyakit asma atau gangguan paru disarankan menggunakan masker saat bepergian,” ujar Kepala Dinkes Kota Semarang, beberapa waktu lalu.

Data dari laman IQAir menunjukkan indeks kualitas udara (AQI) di Semarang sempat menyentuh angka 142 atau masuk kategori oranye. Angka tersebut kemudian turun ke kisaran 120, 100, hingga 88, namun tetap mencerminkan adanya paparan polusi yang perlu diwaspadai.

Debu dan partikel halus di udara tidak hanya berdampak pada pernapasan, tetapi juga dapat mengiritasi mata. Paparan polusi yang terus-menerus berpotensi memicu mata kering, terutama bagi mereka yang banyak beraktivitas di luar ruangan seperti Lia.

INSTO dan Kampanye Bebas Mata SePeLe

Di tengah kondisi tersebut, kesadaran akan pentingnya mengenali gejala mata kering menjadi semakin relevan. INSTO, merek tetes mata dari Combiphar, melalui produk INSTO Dry Eyes, meluncurkan kampanye “Bebas Mata SePeLe”.

Kampanye ini mengajak masyarakat untuk lebih peka terhadap tiga gejala mata kering yang sering disepelekan, yakni mata SEpet, PErih, dan LElah (SePeLe).

Direktur PT Combiphar, Weitarsa Hendarto, menegaskan bahwa kampanye ini lahir dari komitmen jangka panjang INSTO terhadap kesehatan mata masyarakat Indonesia.

“Sebagai pemimpin pasar kategori tetes mata yang telah dipercaya lebih dari 50 tahun, INSTO berkomitmen meningkatkan kesadaran masyarakat. Rendahnya pemahaman tentang mata kering mendorong kami menghadirkan kampanye ‘Bebas Mata SePeLe’ agar gejala awal bisa dikenali dan ditangani sejak dini,” ujarnya, baru-baru ini di Jakarta.

Pesan ini sejalan dengan pengalaman Lia. Gejala yang semula ia anggap remeh justru menjadi sinyal penting bahwa matanya membutuhkan perhatian lebih.

Teman Lama yang Kembali Menolong

Di tengah kesibukan dan keluhan yang mulai terasa mengganggu, Lia kembali pada sesuatu yang sudah lama ia kenal. Sebuah botol kecil obat tetes mata yang dulu selalu tersedia di rumahnya.

Lia memperlihatkan tetes mata Insto Dry Eyes beserta kemasannya, produk yang digunakan untuk membantu meredakan keluhan mata kering.

“INSTO itu sudah ada sejak saya kecil. Dulu ibu selalu menyimpannya di lemari obat,” kenangnya.

Nama INSTO begitu familiar di telinganya, seolah tak terpisahkan dari memori masa kecil. Kini, INSTO Dry Eyes kembali menjadi solusi untuk meredakan mata kering yang ia alami. Praktis dan mudah dibawa, botol kecil itu selalu siap sedia di dalam tasnya.

INSTO Dry Eyes membantu memberikan kelembapan pada mata, meredakan rasa sepet, perih, dan lelah akibat paparan debu, angin, polusi, serta penggunaan gawai dalam waktu lama.

Bagi Lia, manfaatnya terasa nyata. Matanya kembali segar, dan aktivitas pun bisa dilanjutkan tanpa terganggu rasa tidak nyaman.

Belajar Lebih Peduli pada Mata

Pengalaman tersebut membuat Lia lebih peka terhadap kondisi matanya. Ia mulai menyadari bahwa menjaga kesehatan mata bukan perkara sepele, terlebih di era digital dan lingkungan perkotaan yang penuh tantangan.

Mengenali tanda-tanda awal mata kering menjadi langkah penting untuk mencegah kondisi yang lebih serius.

Menjaga Penglihatan, Menjaga Kualitas Hidup

Bagi Lia, INSTO bukan sekadar obat tetes mata. Ia menjadi bagian kecil namun berarti dalam keseharian yang penuh tuntutan. Sebuah pengingat bahwa di tengah kesibukan dan tanggung jawab, kesehatan diri tetap harus dijaga.

“Mata itu jendela untuk menjalani hidup. Kalau tidak dijaga, semua terasa lebih berat,” katanya.

Kisah Lia mencerminkan realitas banyak generasi muda di perkotaan. Usia produktif sering kali membuat kesehatan dianggap nomor sekian. Padahal, menjaga mata sejak dini adalah investasi jangka panjang.

Di tengah paparan polusi, mobilitas tinggi, dan penggunaan layar yang tak terelakkan, kepedulian terhadap kesehatan mata menjadi semakin penting.

INSTO hadir sebagai upaya mendorong masyarakat agar lebih sadar, lebih peduli, dan tidak lagi menganggap mata kering sebagai hal sepele.

Karena mata yang sehat bukan hanya tentang melihat, tetapi tentang menjalani hidup dengan lebih nyaman, fokus, dan berkualitas.***

tag: berita, INSTO Dry Eyes, Bebas Mata SePeLe, INSTO


BERITA TERKAIT