SEMARANG (Jatengreport.com) — Pameran Monumen Ingatan: Risalah Kota bersama Hysteria Artlab menggelar workshop kaligrafi Mandarin dalam sesi Having Fun Artlab di Cafe Edmund, Kota Semarang, Selasa (28/7/2026).
Workshop tersebut mengajak peserta mempelajari aksara Han tradisional sebagai upaya mengenali tulisan pada makam Tionghoa (bong pay), yang menjadi fokus riset dalam proyek tersebut.
Fasilitator workshop, Philipus Dellian Agus Raharjo atau Pipo, mengatakan penggunaan aksara Han tradisional dipilih karena sebagian besar inskripsi pada bong pay masih menggunakan bentuk aksara tersebut. Menurutnya, kemampuan membaca aksara tradisional dapat membantu masyarakat memahami informasi yang tersimpan pada makam Tionghoa.
"Harapannya, karena tulisan pada bong pay menggunakan aksara tradisional, melalui workshop ini semakin banyak orang yang belajar menulis aksara tradisional. Paling tidak, dengan menghafal bentuk-bentuk karakternya, mereka bisa mulai membaca isi tulisan pada bong pay," ujarnya.

Pipo telah menekuni seni kaligrafi selama sekitar 20 tahun. Ketertarikannya berawal dari mempelajari bahasa Jepang sebelum kemudian mendalami bahasa Mandarin dan seni kaligrafi. Sebagai seorang taphophile yang memiliki ketertarikan terhadap situs pemakaman, ia juga aktif mempelajari bong pay yang menjadi bagian dari riset Monumen Ingatan: Risalah Kota.
Selama workshop, peserta tidak hanya berlatih menulis karakter Han menggunakan mao bi atau kuas kaligrafi, tetapi juga mempelajari sejarah perkembangan aksara Han, aturan urutan goresan, teknik mengatur tekanan kuas, hingga posisi jari saat memegang kuas.
Salah seorang peserta, Angle, mengaku tertarik mengikuti workshop karena ingin mempelajari kaligrafi Mandarin. Menurutnya, menulis menggunakan mao bi memberikan pengalaman yang berbeda dibandingkan dengan menulis menggunakan pulpen.
"Pengalaman ini sangat menarik karena ternyata menggunakan mao bi menjadi tantangan tersendiri. Ada teknik mengatur tekanan saat menggoreskan kuas agar hasil tulisannya sesuai," kata Angle.
Peserta lainnya, Tiwi, mengaku baru mengetahui bahwa setiap karakter Han memiliki aturan dan filosofi dalam proses penulisannya.
"Aku kira menulis Mandarin seperti menulis biasa, yang penting bentuknya sama. Ternyata setiap karakter punya aturan urutan goresan, dan urutan itu juga memiliki makna tersendiri," ujarnya.
Workshop yang berlangsung sekitar dua jam tersebut berlangsung secara interaktif. Peserta aktif berdiskusi dan mempraktikkan teknik penulisan kaligrafi sebagai bagian dari upaya memperkenalkan budaya Tionghoa sekaligus mendukung pemahaman masyarakat terhadap peninggalan sejarah berupa bong pay di Kota Semarang.