Generasi Nunduk Tak Suka Menunggu, Travoy Apps Bikin Perjalanan Lebih Laju

images

FOTO ILUSTRASI: Eci menunjukkan aplikasi Travoy di telepon genggam sebagai solusi digital pendukung perjalanan di jalan tol.

Nasional

Bintang

21 Apr 2026


Oleh : Bintang Diega Pratama

Di kursi penumpang sebuah mobil berwarna putih yang melaju dari Jakarta menuju Semarang, tangan kanan Eci (24) tak lepas dari telepon genggamnya.

Sesekali ia menunduk, membuka layar, memeriksa peta digital, mengecek kondisi lalu lintas, lalu memberi arahan kepada ayahnya yang sedang menyetir.

“Pak, nanti rest area depan cukup padat. Kita lanjut ke rest area berikutnya saja. Masih aman,” ujarnya, saat menceritakan perjalanannya kala itu.

Ayahnya mengangguk, pemandangan seperti itu kini menjadi wajah baru perjalanan mudik di Indonesia. Jika dulu peta kertas, bertanya arah, atau sekadar mengandalkan firasat menjadi teman setia pemudik, kini generasi baru membawa kebiasaan berbeda.

Mereka dikenal sebagai generasi nunduk istilah populer bagi anak muda yang akrab dengan layar gawai. Namun di balik kebiasaan menatap ponsel itu, tersimpan peran penting: memastikan perjalanan lebih efisien, nyaman, dan bebas hambatan.

Fenomena itu bukan tanpa dasar. Berdasarkan Survei APJII: Profil Internet Indonesia 2025, jumlah pengguna internet di Indonesia pada semester pertama 2025 mencapai 229.428.417 jiwa.

Dari angka tersebut, Generasi Z menjadi kelompok paling aktif menggunakan internet dengan kontribusi 25,54 persen, disusul generasi milenial 25,17 persen, dan Gen Alpha 23,19 persen.

Data tersebut memperlihatkan bahwa generasi muda Indonesia tumbuh dalam ekosistem serba digital. Mereka terbiasa menyelesaikan banyak hal melalui layar ponsel, termasuk saat merencanakan perjalanan mudik.

Di sinilah Travoy Apps, platform digital milik Jasa Marga, menemukan relevansinya. Bagi banyak pengguna, Travoy bukan sekadar aplikasi, tetapi teman seperjalanan.

Mudik selalu punya cerita. Ia bukan hanya perpindahan dari kota ke kampung halaman, melainkan perjalanan rindu orang tua, aroma masakan rumah, suara takbir di desa, hingga pelukan hangat keluarga yang lama tak bersua.

Namun di balik romantisme itu, ada tantangan klasik yang nyaris selalu muncul setiap tahun yaitu kemacetan, kebingungan mencari rest area, saldo uang elektronik habis di gerbang tol, hingga salah mengambil jalur.

Bagi generasi muda yang tumbuh bersama teknologi, persoalan itu tak lagi harus diterima sebagai nasib tahunan.

Mereka memilih solusi, Travoy hadir menjawab kebutuhan tersebut melalui fitur pemantauan lalu lintas real-time, informasi tarif tol, lokasi rest area, pengisian saldo uang elektronik, CCTV jalan tol, hingga navigasi perjalanan. Dengan satu aplikasi, banyak kerepotan dapat dihindari.

Direktur Utama Jasa Marga, Rivan A. Purwantono, menyampaikan bahwa penguatan aplikasi Travoy ditujukan sebagai kanal utama peningkatan customer engagement sebagaimana telah berhasil diterapkan pada periode Natal 2025 dan Tahun Baru 2026.

“Pada periode Nataru 2025/2026, Jasa Marga sukses melayani 5,8 juta kendaraan yang melintas di ruas tol Jasa Marga Group. Pada periode tersebut, pemanfaatan aplikasi Travoy meningkat signifikan dari sekitar 800 ribu menjadi 1,2 juta pengguna. Tingginya tingkat pemanfaatan ini membantu pengguna memperoleh informasi lalu lintas secara mandiri, sehingga potensi kepadatan, termasuk pada puncak arus balik 4 Januari 2026, dapat dikelola dengan lebih baik dan lancar,” ujar Rivan, belum lama ini.

Pernyataan itu menegaskan bahwa kehadiran aplikasi digital bukan sekadar pelengkap layanan, melainkan bagian penting dalam manajemen lalu lintas modern.

Eci adalah representasi banyak Gen Z hari ini. Ia terbiasa melakukan segala hal lewat ponsel seperti memesan makanan, membeli tiket, membayar tagihan, hingga merencanakan perjalanan mudik keluarga.

“Kalau ada aplikasi yang bikin gampang, kenapa harus ribet?” katanya sambil tertawa.

Sebelum berangkat, ia sudah membuka Travoy. Ia menghitung estimasi waktu tempuh, melihat titik rawan kepadatan, memilih rest area yang tidak terlalu padat, dan memastikan saldo e-toll keluarga cukup.

Hasilnya, perjalanan lebih tenang, tidak ada drama putar balik karena salah keluar gerbang tol. Tidak ada kepanikan saat saldo kartu kurang. Tidak ada perdebatan soal berhenti makan di mana.

Bagi generasi yang menghargai efisiensi waktu, aplikasi seperti Travoy menjadi kebutuhan, bukan lagi pilihan.

Keunggulan Travoy tak hanya terasa saat mudik lintas provinsi. Perjalanan pendek antarkota pun kini menjadi lebih mudah.

Mereka yang bepergian dari Semarang ke Solo, Bandung ke Jakarta, atau Surabaya ke Malang dapat memanfaatkan aplikasi ini untuk memantau kondisi jalan, memilih jalur terbaik, dan memperkirakan waktu tiba.

Dalam konteks mobilitas modern, kepastian waktu menjadi hal penting. Keterlambatan satu jam bisa berarti rapat terlewat, agenda tertunda, atau waktu bersama keluarga berkurang.

Travoy menjawab kebutuhan itu dengan informasi yang relevan dan cepat. Perjalanan pendek tak perlu repot dan perjalanan panjang tak perlu panik.

Di tengah derasnya arus kendaraan mudik, Travoy memberi lebih dari sekadar data jalan raya. Ia memberi ruang agar pemudik bisa fokus pada hal yang lebih penting menikmati perjalanan.

Seorang ibu dapat lebih tenang mengurus anak di kursi belakang. Sopir bisa berkonsentrasi menyetir. Penumpang dapat bercengkerama tanpa terus-menerus cemas memikirkan arah.

Teknologi, pada akhirnya, bukan sekadar kecanggihan. Ia berguna ketika mampu menghadirkan ketenangan.

Dan ketenangan itulah yang membuat perjalanan menjadi penuh arti. Karena mudik bukan hanya tentang berapa kilometer ditempuh, tetapi bagaimana setiap kilometer dilalui dengan nyaman.

Di tengah perjalanan, Eci menutup aplikasi sejenak. Jalan mulai lengang. Matahari sore menyinari hamparan sawah di kejauhan.

Ibunya membuka bekal dari rumah. Ayahnya tersenyum kecil sambil tetap fokus mengemudi.

“Kalau begini, mudik jadi enak ya,” kata sang ibu.
Eci hanya mengangguk.

Bagi generasi yang tumbuh bersama internet, teknologi bukan lagi barang mewah, melainkan bagian dari keseharian. Ketika kebiasaan digital itu bertemu kebutuhan perjalanan, lahirlah pengalaman mudik yang lebih praktis dan manusiawi.

Travoy menjadi salah satu bentuk itu.
Asisten digital yang tak banyak bicara, tetapi membuat perjalanan lebih lancar.***

tag: berita, Jasa Marga, Travoy apps, travoy rest, travoy


BERITA TERKAIT