Belajar dari RS Mata Jatim, DPRD Jateng Siapkan Arah Baru Layanan Spesialis
Jateng
Tim Jateng Report
15 Apr 2026
SURABAYA (Jatengreport.com) — Upaya memperkuat layanan kesehatan mata di Jawa Tengah mulai diarahkan lebih serius.
Komisi C DPRD Provinsi Jawa Tengah menengok langsung praktik pengelolaan di Rumah Sakit Mata Masyarakat (RSMM) Provinsi Jawa Timur, Selasa (14/4/2026), guna merumuskan kebijakan yang lebih adaptif dan berkelanjutan.
Kunjungan kerja itu tak sekadar seremonial. Di ruang diskusi RSMM Surabaya, rombongan Komisi C menggali detail penetapan retribusi, pola tata kelola layanan, hingga strategi pengembangan rumah sakit spesialis mata yang telah lebih dulu berjalan di Jawa Timur.
Ketua Komisi C DPRD Jateng, Bambang Haryanto Baharuddin, menegaskan bahwa pengalaman RSMM menjadi referensi penting, terutama dalam menyusun regulasi daerah yang berpihak pada peningkatan kualitas layanan kesehatan.
“Penetapan retribusi dan tata kelola layanan di sini bisa menjadi masukan konkret dalam penyusunan perda di Jateng. Apalagi kami juga tengah merencanakan pengembangan rumah sakit mata baru,” ujarnya.
Menurut Bambang, keberhasilan RSMM tidak hanya terletak pada aspek layanan medis, tetapi juga pada konsistensi pengelolaan yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat, mulai dari layanan dasar hingga spesialistik.
Sementara itu, Kepala Bagian Tata Usaha RSMM Provinsi Jatim, Wahyutie Erie Prastiwi, menjelaskan bahwa RSMM memiliki perjalanan panjang sebelum menjadi rumah sakit khusus.
Berawal dari Balai Kesehatan Mata Masyarakat, institusi tersebut bertransformasi menjadi rumah sakit milik Pemprov Jatim yang kini berstandar nasional.
“RSMM berperan sebagai jembatan layanan, dari tingkat dasar hingga spesialistik mata. Fokus kami juga menekan angka kebutaan, khususnya akibat katarak,” jelasnya.
Ia menambahkan, RSMM saat ini menjadi satu-satunya rumah sakit mata milik pemerintah provinsi di Jawa Timur.
Pihaknya terus mendorong peningkatan mutu layanan agar mampu bersaing di level internasional.
Tak hanya itu, inovasi juga menjadi kunci. RSMM menghadirkan berbagai skema keringanan biaya layanan, termasuk program diskon pada momen tertentu yang diajukan melalui pemerintah provinsi.
Di sisi lain, jejaring kerja sama dengan berbagai pihak—termasuk perusahaan asuransi—terus diperluas demi membuka akses layanan yang lebih luas bagi masyarakat.
Direktur Rumah Sakit Mata Daerah Soepardjo Roestam, Wahyu Handoyo, yang turut dalam rombongan, melihat sejumlah praktik di RSMM berpotensi diterapkan di Jawa Tengah.
“Kami melihat banyak hal yang bisa diadopsi, mulai dari kerja sama layanan hingga inovasi pembiayaan. Ini penting untuk meningkatkan kualitas pelayanan di rumah sakit kami,” ungkapnya.
Dalam diskusi tersebut juga mengemuka isu penyesuaian tarif retribusi dan komposisi pendapatan antara pasien BPJS dan pasien umum.
Pihak RSMM bersama Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Provinsi Jatim menyebut penyesuaian tarif telah beberapa kali dilakukan dan kini masih dalam tahap evaluasi di Kementerian Dalam Negeri.
Ke depan, RSMM tidak berhenti pada layanan spesialis mata. Rumah sakit ini juga tengah merancang pengembangan layanan baru di luar bidang tersebut, seperti layanan pencernaan dan bedah, dengan mempertimbangkan kebutuhan masyarakat serta kapasitas institusi.
Langkah Komisi C DPRD Jateng ini menjadi sinyal bahwa penguatan layanan kesehatan, khususnya spesialis mata, tengah dipersiapkan lebih matang—tidak hanya dari sisi infrastruktur, tetapi juga regulasi dan skema pembiayaan yang berkelanjutan. (Adv)
tag: berita