Ketua DPRD Jateng Sumanto Ajak Warga Pulihkan Sumber Air Lewat Penanaman Pohon
Jateng
Tim Jateng Report
14 Apr 2026
KARANGANYAR (Jatengreport.com) — Bantaran Sungai Ndelok di Desa Suruh, Kecamatan Tasikmadu, tak seperti biasanya, baru-baru ini.
Pagi yang biasanya sunyi berubah menjadi ruang kebersamaan. Puluhan warga berjalan menyusuri tepian kali, sebagian turun ke aliran air yang dangkal, membawa cangkul dan bibit pohon.
Langkah mereka teratur, sederhana, namun menyimpan tujuan besar: menjaga kehidupan sungai.
Di tengah kegiatan itu, Ketua DPRD Provinsi Jawa Tengah, Sumanto, memimpin langsung gerakan penanaman pohon bertajuk “Merawat Bumi Jogo Kali.”
Warga bersama-sama menggali tanah di sepanjang bantaran, lalu menanam bibit satu per satu di area yang selama ini menjadi penopang pengairan sawah di wilayah Tasikmadu.
Sebanyak 100 bibit pohon ditanam dalam kegiatan tersebut. Jenisnya dipilih bukan tanpa alasan—beringin, randu, dan beringin preh dikenal memiliki daya simpan air yang kuat serta mampu menjaga kestabilan cadangan air tanah.
Kepala Desa Suruh, Gunowo, mengatakan, langkah ini merupakan investasi jangka panjang bagi lingkungan.
Menurutnya, manfaat dari pohon-pohon itu mungkin tidak langsung dirasakan saat ini, namun akan sangat berarti bagi keberlangsungan air di masa depan.
“Supaya air di Kali Ndelok tetap mengalir, terutama saat musim kemarau. Ini bukan untuk sekarang saja, tapi untuk anak cucu kita,” ujarnya.
Kegiatan tersebut tak sekadar menanam pohon. Ia menjadi simbol kepedulian warga terhadap lingkungan yang mulai mengalami tekanan.
Sungai yang dulu menjadi sumber kehidupan, perlahan menghadapi ancaman berkurangnya debit air.
Sumanto menegaskan, kondisi itu tidak bisa dibiarkan. Ia mengingatkan bahwa hilangnya vegetasi di kawasan hulu telah berdampak langsung terhadap keberadaan mata air.
“Dulu di hulu Sungai Ndelok ada mata air yang jernih. Sekarang sudah tidak ada. Itu karena pohon-pohon mulai berkurang. Maka kita harus mulai menanam kembali,” tegasnya.
Sebagai tindak lanjut, dibentuk kelompok sukarelawan dari warga setempat untuk memastikan bibit yang telah ditanam dapat tumbuh dan terawat.
Upaya ini diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, melainkan berlanjut menjadi gerakan bersama yang berkesinambungan.
Dari bantaran sungai yang sederhana itu, warga Suruh menunjukkan bahwa menjaga alam tak selalu dimulai dari langkah besar.
Cukup dengan satu lubang tanah, satu bibit pohon, dan satu kesadaran—bahwa masa depan lingkungan ada di tangan mereka sendiri. (Adv)
tag: berita