JAKARTA (Jatengreport.com) — Lanskap investasi global tengah memasuki fase baru yang ditandai dengan meningkatnya kompleksitas ketidakpastian. Arah suku bunga global, tensi geopolitik, pergeseran rantai pasok, hingga tekanan fiskal di berbagai negara terus membentuk ulang peta risiko dan peluang di pasar keuangan.
Bagi investor institusi, tantangan kini tidak hanya membaca perubahan, tetapi juga menerjemahkannya menjadi strategi investasi yang mampu menjaga ketahanan portofolio sekaligus menangkap peluang pertumbuhan di tengah volatilitas pasar.
Merespons dinamika tersebut, Bank DBS Indonesia menggelar DBS Institutional Investor Forum 2026 di Jakarta, Rabu (29/7/2026). Dalam sesi diskusi panel bertajuk “Economic, Industry and Regional Outlook”, sejumlah pakar DBS Group membahas prospek ekonomi global dan Indonesia, arah pasar keuangan, serta strategi investasi yang relevan bagi investor institusi.
Senior Economist DBS Bank, Radhika Rao, menyampaikan bahwa Indonesia masih memiliki ruang untuk menjaga stabilitas ekonomi, didukung oleh kebijakan suku bunga yang antisipatif serta komitmen menjaga stabilitas fiskal.
“Disiplin fiskal akan tetap menjadi penopang utama, dengan defisit dijaga di bawah 3% dari PDB dan belanja negara yang semakin diarahkan ke sektor-sektor produktif. Namun, risiko inflasi tetap perlu dipantau secara cermat, mengingat potensi tekanan dari penyesuaian harga bahan bakar, gangguan terkait cuaca seperti El Niño, serta volatilitas harga minyak global, yang seluruhnya dapat meningkatkan biaya subsidi dan membatasi ruang fiskal. Pada akhirnya, kepercayaan investor akan bergantung pada konsistensi dan kredibilitas arah kebijakan, termasuk perkembangan terkait peringkat kredit negara, hasil tinjauan MSCI, penunjukan Gubernur Bank Indonesia berikutnya, serta keberlanjutan momentum reformasi institusional,” ujar Radhika.
Pasar Saham Indonesia: Mengubah Volatilitas Menjadi Peluang
Head of Research Indonesia DBS Group Research, William Simadiputra, menyoroti tingginya volatilitas pasar sejak awal tahun. Sentimen investor turut dipengaruhi eskalasi geopolitik di Timur Tengah, termasuk Selat Hormuz sebagai jalur penting distribusi energi global.
“Kekhawatiran inflasi ini turut tercermin di pasar ekuitas Indonesia, karena investor terus melakukan asesmen terhadap berbagai risiko dan membaca sinyal dari indikator pasar. Dari sisi strategi portofolio, kami tetap overweight pada sektor energi dan komoditas yang dipandang sebagai salah satu sektor investasi prioritas, mengingat ketahanan energi global berperan penting secara jangka panjang. Selain itu, kami juga fokus mencari perusahaan dengan fundamental yang kuat, mengingat tren suku bunga yang masih tinggi membuat pasar semakin selektif. Meski menghadapi berbagai tantangan, nilai positif diberikan oleh lembaga pemeringkat internasional dengan tetap mempertahankan status investment grade Indonesia," ujar William.
Head of Global Financial Markets PT Bank DBS Indonesia, Ronny Setiawan, menambahkan pentingnya strategi alokasi aset yang adaptif di tengah dinamika pasar.
“Di tengah volatilitas pasar, tantangan bagi investor institusi bukan sekedar mengelola risiko, tetapi juga menentukan kapan harus bersikap defensif dan kapan mulai menangkap peluang. Karena itu, strategi alokasi aset perlu tetap disiplin namun cukup fleksibel untuk menyesuaikan diri dengan perubahan kondisi pasar. Dengan pendekatan tersebut, investor dapat membangun ketahanan portofolio sekaligus memanfaatkan peluang yang muncul di setiap fase siklus ekonomi,” kata Ronny.
Para narasumber optimistis peluang pertumbuhan masih terbuka, namun kemampuan membaca arah kebijakan dan mengelola risiko akan menjadi faktor pembeda bagi investor dalam beberapa tahun ke depan.
Melalui DBS Institutional Investor Forum 2026, Bank DBS Indonesia menegaskan posisinya sebagai mitra tepercaya bagi investor institusi sekaligus penyedia analisis pasar dan solusi treasury korporasi. Komitmen tersebut juga tercermin dari berbagai pengakuan internasional, seperti Best Bank for Sustainable Finance dari The Asset dan World’s Best Corporate Bank dari Global Finance.