Rumah Subsidi, Rasa Bergengsi : Vivace E Schneider Electric Menjaga Mimpi Tetap Prestise
Nasional
Bintang
20 Mei 2026
Oleh: Bintang Diega Pratama
Sore itu, Wahyuni (29) baru saja tiba di rumah selepas bekerja di salah satu bank swasta di Kota Semarang. Langkahnya pelan memasuki rumah mungil yang masih ia cicil.
Tangannya refleks menekan saklar lampu di ruang tamu dan seketika cahaya menyala, memperlihatkan ruang sederhana yang tertata rapi dengan nuansa modern minimalis.
Tak ada kemewahan berlebihan dan tidak pula interior mahal bak rumah di kawasan elite.
Namun bagi Wahyuni, rumah itu adalah pencapaian besar dari buah perjuangan seorang perempuan perantau yang delapan tahun lalu meninggalkan Sumatra demi kehidupan yang lebih baik di Kota Atlas.
Dulu, kata Wahyuni, hidupnya akrab dengan kamar kos. Berpindah dari satu tempat ke tempat lain menjadi bagian dari rutinitas hidup di kota rantau. Hingga satu titik, ia mulai berpikir realistis soal masa depan.
“Daripada saya bayar kos terus, mending saya nyicil rumah,” ujar Wahyuni, saat menceritakannya kepada Jurnalis Jatengreport.com, Selasa (19/5).
Pilihan itu tentu bukan perkara mudah. Cicilan bulanan harus dihadapi, kebutuhan hidup tetap berjalan, sementara impian memiliki hunian nyaman membutuhkan pengorbanan lebih dari sekadar keberanian mengambil KPR.
“Alhamdulillah sekarang sudah bisa beli rumah walaupun masih nyicil,” katanya.
Tetapi bagi Wahyuni, membeli rumah ternyata baru langkah pertama. Perjuangan sesungguhnya dimulai ketika ia ingin mengubah rumah subsidi itu menjadi tempat tinggal yang terasa nyaman dipandang, aman dihuni, sekaligus memiliki sentuhan elegan layaknya rumah modern.
Sedikit demi sedikit, hasil jerih payahnya mulai berubah menjadi detail nyata.
“Beberapa bulan terakhir baru bisa nyicil dikit-dikit merapikan rumah supaya terlihat lebih elegan dan modern,” tuturnya.
Ia mulai belajar memahami dunia yang sebelumnya terasa asing: interior rumah.
Wahyuni menggunakan fasilitas Vivace E di ruang tamu untuk mengisi daya ponsel, menghadirkan kenyamanan dengan sentuhan desain modern dan elegan.
Mulai dari memilih sofa yang sesuai karakter ruangan, menentukan pencahayaan agar rumah terasa hangat, menyesuaikan warna cat dinding, hingga menghadirkan dekorasi yang membuat rumah tampak lebih hidup.
Namun ada satu hal yang menurutnya sering dianggap sepele, padahal justru menentukan kesan rumah secara keseluruhan, yaitu saklar dan stopkontak.
“Awalnya saya juga enggak kepikiran. Tapi ternyata detail kecil itu ngaruh banget ke tampilan rumah,” katanya.
Kesadaran itu muncul setelah Wahyuni mulai memahami bahwa rumah modern bukan hanya soal furnitur mahal, melainkan harmoni setiap detail yang ada di dalam ruangan.
Bahkan benda yang hampir setiap hari disentuh seperti saklar lampu pun, menurutnya, punya pengaruh terhadap kenyamanan visual.
Pilihan Wahyuni akhirnya jatuh pada lini saklar dan stopkontak Vivace E dari Schneider Electric.
Keputusan itu bukan tanpa alasan.
Ia mengaku familiar dengan merek tersebut karena sejak lama digunakan di rumah orang tuanya.
“Di rumah orang tua saya memang sudah pakai Schneider Electric, jadi saya cukup percaya,” ujarnya.
Beberapa minggu lalu, ketika mulai merapikan interior rumah, ia memutuskan memesan saklar dan stopkontak Schneider Electric Vivace E.
Begitu terpasang, kesan rumahnya langsung berubah.
“Bentuknya elegan, seperti di rumah-rumah mahal,” katanya sambil tertawa kecil.
Menurutnya, desain Vivace E terasa menyatu dengan konsep interior rumah yang ia bangun. Garis desainnya tampak modern, bersih, dan cocok berpadu dengan warna dinding serta pencahayaan ruangan.
“Tampilannya nyambung sama interior dan cat dinding rumah saya, jadi kesannya lebih elegan,” ucapnya.
Di tengah tren hunian modern saat ini, estetika memang bukan lagi kebutuhan sekunder.
Rumah, terutama bagi generasi muda produktif, perlahan berubah menjadi representasi gaya hidup. Tidak sedikit pemilik rumah yang rela menghabiskan waktu mencari furnitur, lampu, hingga ornamen kecil demi menciptakan suasana yang nyaman dan estetik.
Namun Wahyuni menegaskan, baginya urusan rumah tidak berhenti pada tampilan.
Keamanan justru menjadi alasan utama.
Sebelum membeli, ia sempat membaca informasi mengenai spesifikasi produk Vivace E.
Ia mengetahui bahwa saklar dan stopkontak tersebut menggunakan material polycarbonate (PC) yang lebih tahan panas dan memiliki karakter flame retardant atau lebih sulit terbakar.
Bagi Wahyuni, informasi itu terasa penting sebab persoalan kelistrikan rumah sering kali dianggap remeh sampai musibah datang.
“Mengingat sekarang banyak kejadian korsleting listrik sampai bikin rumah kebakaran, saya jadi merasa lebih aman,” katanya.
Data dari Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan menunjukkan sekitar 66,7 persen kasus kebakaran di Indonesia dipicu korsleting listrik. Bahkan di kawasan perkotaan, hampir dua pertiga kasus kebakaran berkaitan dengan persoalan sistem kelistrikan rumah.
Angka tersebut menjadi pengingat bahwa keamanan rumah tidak hanya bergantung pada bangunan, tetapi juga kualitas komponen kecil di dalamnya.
Hal sederhana seperti saklar dan stopkontak ternyata dapat menjadi bagian penting dalam meminimalkan risiko.
Selain keamanan, pengalaman penggunaan sehari-hari juga menjadi nilai tambah tersendiri bagi Wahyuni.
“Tekannya nyaman dan enggak keras dipakai sehari-hari,” ujarnya.
Bagi penghuni rumah, pengalaman kecil seperti menyalakan lampu atau menggunakan stopkontak memang tampak sederhana.
Namun ketika dilakukan berkali-kali setiap hari, kenyamanan itu perlahan menjadi bagian dari kualitas hidup.
President Director Schneider Electric Indonesia & Timor-Leste, Martin Setiawan, mengatakan kebutuhan hunian masyarakat kini berkembang jauh lebih kompleks.
“Konsumen tidak lagi memilih antara desain atau keamanan, mereka menginginkan keduanya dalam satu solusi yang seimbang,” ujar Martin, belum lama ini.
Menurutnya, meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kualitas ruang tinggal membuat kebutuhan akan solusi kelistrikan yang aman sekaligus estetis semakin relevan.
Melalui Vivace E, Schneider Electric menghadirkan saklar dan stopkontak yang dirancang tidak hanya modern secara desain, tetapi juga relevan dengan kebutuhan homeowner masa kini.
Produk ini tersedia di berbagai platform e-commerce dan distributor resmi di Indonesia mulai kisaran harga Rp30 ribuan.
Bagi Wahyuni, rumah subsidi yang dulu hanya sekadar tempat pulang kini perlahan berubah menjadi rumah impian versinya sendiri.
Tidak harus besar dan tidak harus mahal, yang penting nyaman, aman, dan terasa “rumah”.
Karena ternyata, kesan elegan sebuah hunian kadang bukan lahir dari chandelier mewah atau sofa mahal melainkan dari perhatian pada detail kecil yang sering tak terlihat, namun setiap hari hadir menemani hidup penghuninya.***
tag: berita, vivace e, Schneider Electric