Riak Kritik Menggema, Lamipak Menjaga Susu Tak Gagal Menyapa Bangsa
Nasional
Bintang
09 Mar 2026
Oleh : Bintang Diega Pratama
SEMARANG - Pagi belum sepenuhnya terang ketika aktivitas di dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di salah satu Kota Semarang mulai bergeliat. Panci besar mengepul, timbangan bahan makanan bergerak cepat, dan deretan kotak susu tersusun rapi di meja distribusi.
Di tengah kesibukan itu, Nita seorang ahli gizi yang bertugas di dapur tersebut, berdiri sambil memeriksa daftar komposisi menu.
Ia tidak sekadar menghitung porsi makanan melainkan juga sedang menghitung masa depan.
“Yang kami jaga bukan hanya rasa kenyang anak-anak, tapi kualitas gizinya,” katanya pelan, Minggu (8/3).
Bagi Nita, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bukan sekadar program pemerintah. Program ini adalah garis pertahanan pertama untuk memastikan anak-anak Indonesia tumbuh sehat, kuat, dan cerdas.
Namun beberapa waktu terakhir, program ini justru kerap disorot.
Di Antara Niat Baik dan Polemik
Berbagai pemberitaan negatif muncul di ruang publik. Sebagian mengkritik distribusi makanan dari dapur penyedia yang dinilai kurang optimal. Sebagian lain bahkan langsung menyasar kebijakan pemerintah.
Bagi Nita, kritik tentu diperlukan. Tetapi ia menyayangkan jika narasi yang berkembang justru mengaburkan tujuan besar program ini.
“Programnya sangat baik. Yang perlu diperbaiki adalah pengelolaan di lapangan. Jangan sampai niat meningkatkan gizi anak malah tenggelam oleh polemik,” ujarnya.
FOTO ISTIMEWA : Contoh menu makan bergizi saat Ramadan: kurma, kacang-kacangan, buah salak, dan susu Ultra Milk sebagai sumber energi dan nutrisi saat berbuka puasa.
Di dapur kecil tempatnya bekerja, setiap paket makanan disiapkan dengan standar gizi yang ketat.
Ada karbohidrat, protein, sayuran, buah, dan satu komponen penting yang tidak boleh hilang: susu.
“Kalau bicara pertumbuhan anak, susu itu salah satu fondasi nutrisi,” kata Nita.
Ramadan Mengubah Pola, Bukan Tujuan
Memasuki bulan Ramadan, tantangan baru muncul. Banyak anak menjalankan puasa sehingga pola distribusi makanan berubah.
Paket makanan yang biasanya dikonsumsi di sekolah kini sering disiapkan dalam bentuk menu kering agar bisa dibawa pulang.
Bagi dapur SPPG, perubahan ini tidak sederhana. Makanan harus tetap aman, bergizi, dan tahan hingga waktu berbuka.
Di tengah dinamika tersebut, susu justru menjadi elemen yang semakin penting.
“Susu itu fleksibel. Anak bisa minum saat sahur atau berbuka. Kandungan nutrisinya tetap lengkap,” jelas Nita.
Di meja distribusi, kotak-kotak susu dalam kemasan aseptik disusun sebagai bagian dari paket MBG hari itu.
Alarm Konsumsi Susu Indonesia
Di balik segelas susu yang diterima anak-anak sekolah, sebenarnya ada persoalan besar yang sedang dihadapi Indonesia.
Data dari Badan Pusat Statistik menunjukkan konsumsi susu masyarakat Indonesia masih sangat rendah, hanya sekitar 16,3 kilogram per kapita per tahun.
Angka ini jauh tertinggal dibanding negara-negara tetangga di Asia Tenggara.
Di Thailand, konsumsi susu mencapai sekitar 33 kilogram per kapita per tahun. Di Malaysia, mencapai 50,9 kilogram.
Sementara di Singapura, konsumsinya bahkan jauh lebih tinggi. Bagi para ahli gizi, perbedaan ini bukan sekadar angka statistik.
Ini adalah gambaran tentang masa depan kualitas sumber daya manusia.
“Kalau konsumsi susu rendah, dampaknya bisa panjang mulai dari pertumbuhan tulang, daya tahan tubuh, sampai perkembangan otak,” kata Nita.
Di sinilah peran program MBG menjadi sangat strategis: menjadikan susu sebagai bagian dari konsumsi harian anak-anak Indonesia.
Menjaga Standar: Tidak Ada Kompromi untuk Gizi
Di tingkat kebijakan, pemerintah melalui Badan Gizi Nasional (BGN) menegaskan bahwa kualitas makanan dalam program MBG tidak boleh ditawar.
Mitra dapur diingatkan agar tidak memaksakan penggunaan bahan baku yang sudah dalam kondisi kurang baik.
FOTO ISTIMEWA : Petugas dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) menunjukkan telur dan susu kemasan yang akan disajikan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Jika ditemukan bahan yang tidak layak, distribusi dapat ditunda dan diganti pada hari berikutnya.
“Prinsipnya sederhana: makanan harus aman, bergizi, dan sesuai pagu. Jika ada bahan yang tidak layak, lebih baik diganti daripada dipaksakan. Ini bentuk tanggung jawab kepada masyarakat,” ujar Kepala BGN, Kepala BGN, Dadan Hindayana, baru-baru ini.
Bagi Nita, prinsip tersebut menjadi pegangan penting.
“Anak-anak tidak boleh menjadi korban dari kelalaian distribusi. Gizi itu soal masa depan,” katanya.
Peran Sunyi Sebuah Kemasan
Namun ada satu hal yang sering tidak terlihat dalam percakapan publik yaitu kemasan.
Padahal, bagi produk seperti susu, kemasan adalah penjaga utama kualitas nutrisi.
Teknologi kemasan aseptik memungkinkan susu tetap higienis, aman, dan tahan lama tanpa merusak kandungan gizinya.
Di Indonesia, salah satu produsen kemasan tersebut adalah PT Lami Packaging Indonesia melalui produknya Lamipak.
Kemasan ini dirancang untuk menjaga kualitas susu hingga sampai ke tangan anak-anak penerima program MBG.
Direktur Utama PT Lami Packaging Indonesia, Hongbiao Li, menilai peran susu dalam pembangunan bangsa sering kali diremehkan.
Padahal menurutnya, susu adalah fondasi penting bagi kualitas generasi masa depan.
“Rendahnya konsumsi susu berisiko menghambat ambisi Indonesia menuju masa keemasan 2045,” ujarnya dalam pertemuan dengan awak media di pabrik perusahaan di Cikande, Serang, Banten, belum lama ini.
Ia menegaskan bahwa susu dalam program MBG bukan sekadar pelengkap menu.
“Susu adalah instrumen vital untuk memerangi stunting dan meningkatkan kecerdasan kognitif generasi muda," jelasnya.
Melalui kemasan aseptik seperti Lamipak, distribusi susu dapat dilakukan secara lebih aman, efisien, dan menjangkau lebih banyak anak.
Dari Dapur Sederhana Menuju Indonesia Emas
Menjelang siang, dapur SPPG Semarang mulai sepi. Ratusan paket makanan telah dikirim ke sekolah-sekolah.
Di dalamnya ada nasi, lauk, sayuran, dan kotak susu yang tersimpan rapi dalam kemasan aseptik. Bagi sebagian orang, kotak itu mungkin terlihat sederhana.
Namun bagi Nita, kotak kecil itu adalah simbol harapan. Ia percaya, perbaikan distribusi, pengawasan kualitas, dan dukungan berbagai pihak dari dapur hingga industri kemasan akan membuat program MBG semakin kuat.
“Kalau anak-anak mendapat gizi yang cukup hari ini, maka mereka akan tumbuh menjadi generasi yang lebih sehat, lebih cerdas, dan lebih siap memimpin negeri ini," katanya sambil merapikan meja dapur.
Di balik polemik yang sesekali muncul, pekerjaan sunyi itu terus berlangsung di dapur-dapur kecil, di tangan para ahli gizi.
Dan di dalam segelas susu yang kemasannya menjaga nutrisi tetap utuh.Sebuah langkah sederhana yang diam-diam sedang menyiapkan jalan menuju Indonesia Emas 2045.***
tag: berita, Lamipak, mbg, gizinasional, susu