Dulu Bertanya ke Sesama, Kini Gen Z Tahu Arah Lebih Dulu di Travoy
Nasional
Bintang
11 Apr 2026
Oleh : Bintang Diega Pratama
Perjalanan ke luar kota hari ini bukan lagi soal berpindah tempat, tapi telah berubah menjadi bagian dari gaya hidup dan cara orang merayakan merawat diri bahkan menemukan kembali makna sederhana dari rutinitas yang padat.
Bagi Lia (28), seorang pekerja kantoran asal Semarang, perjalanan bukan lagi pelarian, tapi pilihan sadar untuk tetap “waras” di tengah ritme kerja yang nyaris tak memberi ruang.
“Aku memang sering pergi ke luar kota. Biar nggak jenuh, cari suasana baru,” katanya, saat dijumpai tim Jatengreport.com, Jumat (10/4).
Yogyakarta jadi salah satu tujuan yang paling sering ia datangi, kota itu bahkan sudah seperti halaman belakang yang terlalu familiar untuk disebut asing, tapi selalu punya alasan untuk dikunjungi lagi.
Namun, di balik rutinitas itu ada satu hal yang dulu kerap mengganggunya adalah ketidakpastian di jalan.
“Dulu paling bingung kalau sudah masuk tol Kartasura, mau keluar Prambanan. Itu macet atau nggak, benar-benar nebak,” ujarnya.
Ketidakpastian itu kini pelan-pelan hilang, bukan karena jalanan selalu lancar tapi karena Lia kini punya kendali atas perjalanannya.
Di tangannya, sebuah aplikasi bernama Travoy menjadi teman perjalanan yang nyaris tak tergantikan.
Lewat fitur CCTV real-time, Lia bisa melihat langsung kondisi lalu lintas di titik-titik krusial. Bukan sekadar indikator warna di peta, tapi visual nyata yang memberinya gambaran situasi di depan.
FOTO ISTIMEWA : Fitur navigasi yang tersedia dalam aplikasi tersebut membantu Lia memperoleh informasi rute secara akurat, sehingga perjalanan menjadi lebih terarah, aman, dan efisien.
“Sekarang enak, bisa cek dulu. Jadi lebih siap,” katanya.
Bagi generasi yang tumbuh bersama teknologi kepastian adalah sebuah kenyamanan. Dan Travoy, tanpa banyak disadari banyak menghadirkan itu dalam bentuk yang paling praktis.
Tak hanya memantau lalu lintas, Lia juga sesekali menggunakan aplikasi tersebut untuk mengisi saldo e-toll. Semua dalam satu genggaman, tanpa perlu berpindah aplikasi.
“Lebih simpel saja,” ucapnya.
Lia adalah potret kecil dari perubahan besar yang sedang dibangun oleh PT Jasa Marga (Persero) Tbk. Jalan tol tak lagi hanya soal beton, aspal, dan gerbang pembayaran.
Ia berkembang menjadi ekosistem layanan yang terintegrasi untuk menghubungkan fisik dan digital dalam satu pengalaman perjalanan.
Direktur Utama Jasa Marga, Rivan A. Purwantono, menyebut penguatan aplikasi Travoy sebagai langkah strategis untuk mendekatkan layanan kepada pengguna.
“Pada periode Nataru 2025/2026, Jasa Marga sukses melayani 5,8 juta kendaraan yang melintas di ruas tol Jasa Marga Group. Pada periode tersebut, pemanfaatan aplikasi Travoy meningkat signifikan dari sekitar 800 ribu menjadi 1,2 juta pengguna. Tingginya tingkat pemanfaatan ini membantu pengguna memperoleh informasi lalu lintas secara mandiri, sehingga potensi kepadatan, termasuk pada puncak arus balik 4 Januari 2026, dapat dikelola dengan lebih baik dan lancar,” ujar Rivan, dalam keterengan persnya, belum lama ini.
Lonjakan tersebut tidak sekadar angka, melainkan mencerminkan perubahan perilaku pengguna jalan. Masyarakat kini lebih aktif dalam merencanakan perjalanan, mencari informasi, serta mengantisipasi potensi hambatan di jalan tol.
Fitur-fitur Travoy seperti CCTV real-time, informasi lalu lintas terkini, estimasi tarif tol, hingga layanan derek online dirancang untuk membuat perjalanan lebih transparan dan terencana.
Bahkan, informasi rest area pun kini bisa diakses dengan mudah untuk memberi pilihan, bukan sekadar berhenti karena terpaksa.
Di sisi lain, tujuan seperti Yogyakarta terus menyedot arus kendaraan dalam jumlah besar. Data Kepolisian yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2025 mencatat jumlah kendaraan di provinsi tersebut mencapai 3,43 juta unit melonjak hampir 47 persen dibandingkan satu dekade sebelumnya.
Angka itu statistik itu adalah cerminan mobilitas yang makin padat, jalan yang makin sibuk, dan risiko kemacetan yang semakin nyata.
Dalam situasi seperti ini, informasi menjadi sama pentingnya dengan infrastruktur.
Dan di sinilah Travoy memainkan peran yang lebih besar dari sekadar aplikasi: ia menjadi alat navigasi yang memberi rasa tenang.
Bagi Lia, perubahan tersebut terasa nyata, sekarang ia tidak lagi hanya berharap pada perjalanan berjalan lancar, melainkan mampu memperkirakan kondisi, mengantisipasi potensi hambatan, serta menyesuaikan keputusan selama perjalanan berlangsung.
Tak ada lagi momen cemas menebak kondisi di depan dan Tak ada lagi rasa terjebak tanpa informasi.
“Yang penting kita tahu duluan,” katanya.
Travoy mungkin tidak secara langsung mengurangi jumlah kendaraan di jalan maupun menghapus kemacetan sepenuhnya. Namun, aplikasi ini menghadirkan hal yang lebih esensial bagi pengguna, yakni kendali dalam merencanakan dan mengelola perjalanan.
Dan di tengah lalu lintas yang semakin kompleks, kendali itulah yang membuat perjalanan terasa lebih manusiawi agar lebih tenang, lebih pasti, dan pada akhirnya, lebih berarti.(***)
tag: berita, Jasa Marga, Travoy apps, travoy rest