Mengukir Takdir Bersama BTN, Menautkan Harap pada Rumah Impian

images

FOTO ISTIMEWA : Lia menunjukkan kunci hunian impiannya yang berhasil diwujudkan bersama Bank Tabungan Negara (BTN), menggambarkan kehidupan dengan memiliki rumah impian.

Jateng

Bintang

20 Feb 2026


Oleh : Bintang Diega Pratama

Di usia 24 tahun, ketika sebagian besar teman sebayanya masih sibuk berpindah dari satu kamar kos ke kamar kos lain, Lia justru menandatangani akad kredit rumah pertamanya di Perumahan Payon Meteseh 2, Kecamatan Boja, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah.

Bukan rumah warisan keluarga, bukan pula hadiah pernikahan. Rumah itu ia dapatkan melalui skema KPR subsidi bersama PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN).

Bagi Lia karyawan swasta di Kota Semarang, keputusan itu bukan langkah impulsif. Sejak duduk di bangku kuliah di salah satu perguruan tinggi swasta di Semarang, ia telah terbiasa dengan pesan sederhana dari orang tuanya yaitu investasi adalah cara bertahan hidup di masa depan.

Emas ia kumpulkan sedikit demi sedikit. Platform saham digital pun ia pelajari.

“Daripada uang habis untuk gaya hidup, lebih baik dikunci dalam bentuk aset,” begitu prinsip yang ia pegang.

Dua bulan setelah lulus kuliah, Lia langsung bekerja sesuai bidangnya. Gaji pertamanya bukan untuk membeli gawai baru atau liburan, melainkan untuk menghitung simulasi cicilan rumah.

Sebagai perantau dari keluarga sederhana, ia sadar tak punya warisan atau sokongan aset keluarga.

“Kalau terus ngekos, uangnya hilang begitu saja. Tidak ada wujudnya,” kata lia saat dijumpai Jurnalis Jatengreport.com, Kamis (19/2).

Baginya, rumah adalah investasi paling masuk akal. Harga tanah, menurut keyakinannya, hampir selalu naik signifikan dari tahun ke tahun. Dengan logika sederhana itu, langkahnya tertuju ke BTN—bank yang namanya kerap ia dengar dari teman-temannya.

Keunggulan suku bunga tetap (flat), uang muka yang ringan, serta cicilan yang terjangkau menjadi pertimbangan utama.

Proses demi proses pengajuan ia jalani mulai dari melengkapi dokumen, survei lapangan, hingga akhirnya akad kredit diteken.

Di usia 24 tahun, Lia resmi memiliki rumah subsidi yang nyaman dan elegan, sesuai standar program pemerintah.

Hunian Rakyat, Mesin Penggerak Ekonomi

Kisah Lia bukan sekadar cerita tentang generasi muda yang cerdas berinvestasi. Ia adalah potret bagaimana peran negara, perbankan, dan pengembang terhubung dalam satu ekosistem hunian rakyat.

FOTO ISTIMEWA : Lia menunjukkan langsung kondisi lingkungan perumahan subsidi yang ia tempati, tempat pulang yang memberi rasa tenang dan aman.

Pemerintah melalui Maruarar Sirait, Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP), menegaskan bahwa sektor perumahan merupakan motor penting pertumbuhan ekonomi nasional.

“Pertumbuhan ekonomi harus terus menuju 8 persen. Salah satu faktor penggeraknya yang utama bahkan paling utama adalah perumahan,” tegasnya dalam sebuah kesempatan belum lama ini.

Komitmen itu diwujudkan melalui skema Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP). Berdasarkan data yang dilansir IDX Channel, pemerintah menargetkan penyaluran KPR subsidi sebanyak 285.000 hingga 350.000 unit pada 2026.

Anggaran yang digelontorkan pun tidak kecil: DIPA Rp25,1 triliun, dana bergulir Rp10,4 triliun, serta saldo awal Rp1,6 triliun. Program ini juga diperkuat dengan skema bedah rumah (BSPS) dan insentif PPN DTP untuk rumah komersial.

Hingga Januari 2026, realisasi FLPP telah mencapai 7.312 unit dengan nilai pembiayaan Rp912,4 miliar, sebagaimana dirilis Badan Pengelola Tabungan Perumahan Rakyat (BP Tapera).

BTN di Garda Terdepan

Di antara bank-bank penyalur, BTN mencatat kinerja paling dominan. Dari total 7.312 unit nasional pada Januari 2026, BTN menyalurkan 4.160 unit—tertinggi dibandingkan bank lain dalam kelompok Himbara.

Data internal BTN bahkan menunjukkan angka lebih besar, yakni 6.749 unit hingga akhir Januari 2026. Selisih itu terjadi karena sebagian akad kredit masih dalam proses penagihan ke BP Tapera.

Direktur Utama BTN, Nixon LP Napitupulu, menegaskan capaian awal tahun ini melanjutkan konsistensi sepanjang 2025, ketika BTN berhasil menyalurkan 192.208 unit KPR Sejahtera FLPP.

“Dominasi BTN pada Januari 2026 menunjukkan kesiapan sistem, jaringan, dan kemitraan yang telah kami bangun secara konsisten. Kami berkomitmen untuk terus memperluas akses pembiayaan hunian bagi masyarakat berpenghasilan rendah sebagai bagian dari peran BTN sebagai mitra strategis pemerintah,” ujarnya, baru-baru ini.

Angka-angka itu menjelaskan satu hal bahwa kisah Lia bukan kebetulan. Ia bagian dari ribuan keluarga muda yang kini memiliki akses nyata terhadap hunian layak.

Rumah sebagai Titik Balik

Bagi Lia, dampaknya terasa langsung. Cicilan per bulan tidak membebani gajinya sebagai karyawan swasta. Fasilitas perumahan sesuai standar subsidi pemerintah lingkungan tertata, akses jalan memadai, dan kualitas bangunan yang layak.

Lebih dari itu, ada rasa bangga yang sulit diukur angka. Di usia muda, ia telah memiliki aset yang nilainya cenderung meningkat. Ia tidak lagi memikirkan kenaikan harga sewa kos setiap tahun.

Di balik pintu rumah kecilnya, tersimpan makna besar yaitu kemandirian.

Keberanian Mengambil Langkah

Kisah Lia menjadi refleksi penting bagi generasi muda Indonesia. Investasi tidak selalu harus dimulai dengan modal besar atau latar belakang keluarga mapan.

Keberanian mengambil keputusan, ditopang kebijakan pemerintah dan dukungan lembaga keuangan seperti BTN, membuka jalan bagi hunian yang lebih inklusif.

Dalam konteks yang lebih luas, perumahan bukan hanya tentang tembok dan atap. Ia menciptakan efek berantai yang menggerakkan sektor konstruksi, industri bahan bangunan, jasa keuangan, hingga membuka lapangan kerja.

Di persimpangan antara mimpi individu dan kebijakan negara, BTN berdiri sebagai jembatan menghubungkan pemerintah, pengembang, dan masyarakat.

Dan di ujung jembatan itu, ada Lia. Dengan kunci rumah di tangannya, ia membuktikan bahwa usia muda bukan penghalang untuk memiliki masa depan yang kokoh.***

tag: berita, btn, 76tahunbtn, anugerahjurnalistikdanfotobtn, hgcth


BERITA TERKAIT