Dokter Alumni UNDIP Pimpin Satgas Medis PBB, Bertugas di Tengah Ancaman Serangan
Jateng
Bintang
07 Apr 2026
SEMARANG (Jatengreport.com) – Kiprah alumni Universitas Diponegoro kembali menembus panggung global. dr. Audrianto, Sp.Rad., lulusan Program Studi Spesialis Radiologi Fakultas Kedokteran (FK) UNDIP, dipercaya memimpin tim medis dalam misi perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa di Lebanon.
Dalam penugasan sebagai Komandan Satuan Tugas (Dansatgas) Hospital XXIX-P pada misi United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) periode 2025–2026, dr. Audrianto menghadapi tantangan kompleks: keterbatasan fasilitas medis hingga situasi keamanan yang dinamis di wilayah konflik.
Ia menegaskan, fondasi pendidikan yang diperolehnya di FK UNDIP menjadi bekal utama dalam menjalankan tugas di lapangan. Kurikulum yang menyeimbangkan teori dan praktik, serta paparan literatur internasional, dinilai membentuk pola pikir adaptif sekaligus standar klinis berkelas global.
“Pendidikan di FK UNDIP sangat suportif dalam membentuk kepercayaan diri kami di kancah internasional. Selain aspek medis teknis, kemampuan komunikasi global dan publikasi ilmiah menjadi modal utama saat berkoordinasi dengan tenaga medis lintas negara di misi PBB,” ujar dr. Audrianto, Selasa (31/3/2026).
Di tengah keterbatasan fasilitas medis di Lebanon, peran radiologi menjadi krusial sebagai penunjang diagnosis. Namun, menurutnya, kecanggihan alat bukanlah faktor utama dalam menentukan ketepatan diagnosis.
“Radiologi adalah unsur penunjang yang vital, namun sebagai spesialis, kita tetap harus mengutamakan anamnesis dan pemeriksaan fisik. Hampir 70 persen diagnosis dapat ditegakkan dari dua proses awal tersebut,” tegasnya.
Kondisi di lapangan kerap hanya menyediakan alat dasar seperti X-Ray dan ultrasonografi (USG). Dengan ketajaman analisis klinis, dr. Audrianto mampu mengoptimalkan fasilitas yang ada untuk penanganan pasien, sebelum menentukan langkah lanjutan seperti CT-Scan atau MRI sesuai urgensi.
Tak hanya berperan sebagai dokter spesialis, ia juga memikul tanggung jawab sebagai komandan yang harus menjamin keselamatan personel di tengah ancaman serangan di sekitar wilayah penugasan. Dalam situasi tertentu, pelayanan medis bahkan dilakukan dari dalam bunker.
Pengalaman tersebut, menurutnya, menjadi ujian nyata profesionalisme dan dedikasi tenaga medis di medan kemanusiaan.
“Di medan tugas, tidak ada zona nyaman. Pendidikan yang kuat di FK UNDIP adalah modal, namun dedikasi setulus hati adalah yang membuat kita mampu bertahan dan memberi manfaat bagi kemanusiaan,” pungkasnya.***
tag: berita