Lamipak Berpijak Tegak, Menguatkan Gizi 2024 yang Gemerlap

images

FOTO ISTIMEWA : Dina menunjukkan menu makan siang bergizi di ruang kelasnya, terdiri dari nasi, lauk pauk, sayuran, buah, dan susu kemasan sebagai sumber protein tambahan.

Jateng

Bintang

21 Feb 2026


Oleh : Bintang Diega Pratama

Bel istirahat berbunyi di sebuah SMA di Semarang. Di sudut koridor, Dina (16) membuka bekalnya diantaranya nasi, lauk, dan sayur, ada satu yang selalu ia cari lebih dulu yaitu susu UHT dalam kemasan kotak kecil.

Bagi siswi yang aktif di organisasi sekolah itu, hari-hari berjalan nyaris tanpa jeda. Rapat, kegiatan kelas, hingga persiapan lomba membuat energinya terkuras.

Namun kebiasaan minum susu bukan sekadar rutinitas, ia tumbuh dari pengalaman masa kecil yang tak mudah.

“Waktu SD aku sering sakit. Berat badan sempat turun drastis. Sejak itu orang tua jadi sangat perhatian soal makan dan susu,” tuturnya, saat di jumpai Jurnalis Jatengreport.com, Jumat (20/2).

Orang tua Dina bekerja di lingkungan pasar, sudah jelas waktu bersama anak terbatas oleh ritme kerja yang dimulai sejak dini hari. Namun ketika kondisi Dina menurun, pola makan keluarga berubah. Bekal disiapkan dari rumah, jajanan sekolah dikurangi, dan susu menjadi bagian tak terpisahkan dari asupan harian.

Kini, saat Dina duduk di bangku SMA, kebutuhannya akan gizi tak lagi hanya bertumpu pada dapur rumah. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diterapkan di sekolahnya ikut menopang kebutuhan tersebut.

“Menurutku makanannya sudah cukup dan enak. Ada susu juga, jadi lebih lengkap,” katanya.

Susu Menjadi Isu Nasional

Cerita Dina berdiri di atas fakta yang lebih luas. Kepala Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana, mengungkapkan kenyataan yang memprihatinkan, 60 persen anak Indonesia tidak mampu membeli susu.

FOTO ISTIMEWA : Petugas dapur menyiapkan dan mengemas makanan beserta susu dalam wadah stainless di ruang produksi berstandar higienis.

“60 persen anak Indonesia itu tidak mampu beli susu. 60 persen itu tidak minum susu karena memang orang tuanya tidak mampu beli susu, ini adalah satu kenyataan yang ada,” ujarnya, belum lama ini.

Menurut Dadan, MBG yang dilengkapi susu menjadi salah satu jalan keluar untuk membuka akses gizi yang lebih merata.

Dalam konteks itu, segelas susu bukan sekadar pelengkap menu, melainkan instrumen intervensi sosial.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2020, konsumsi susu masyarakat Indonesia tercatat sekitar 16,27 kilogram per kapita per tahun, jauh di bawah sejumlah negara Asia Tenggara.

Produksi susu dalam negeri bahkan baru mampu memenuhi sekitar 22–23 persen kebutuhan nasional. Artinya, tantangan Indonesia bukan hanya rendahnya konsumsi, tetapi juga kapasitas produksi dan distribusi.

Gizi untuk Generasi Emas

Rendahnya konsumsi susu juga menjadi perhatian kalangan industri. Direktur Utama PT Lami Packaging Indonesia, Hongbiao Li, menilai angka konsumsi sekitar 16,3 kilogram per kapita per tahun masih tertinggal dibanding Thailand, Malaysia, dan Singapura.

Ia menilai situasi ini berpotensi menghambat cita-cita Indonesia menuju generasi emas 2045.

“Kami mendukung program susu gratis yang disisipkan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG). Susu bukan sekadar pelengkap, melainkan instrumen vital untuk memerangi stunting dan meningkatkan kecerdasan kognitif generasi muda. Melalui AJL 2026, kami ingin jurnalis menjadi jembatan informasi untuk mengawal kebijakan ini agar tepat sasaran,” kata Hongbiao Li, baru-baru ini.

Pernyataan tersebut menempatkan susu dalam kerangka pembangunan manusia. Kandungan kalsium, fosfor, dan vitamin D berperan dalam pembentukan kepadatan massa tulang di usia sekolah fase penting untuk menentukan kualitas kesehatan jangka panjang.

Industri di Balik Kotak Susu

Di balik susu yang diminum Dina, ada rantai industri yang bekerja senyap. Salah satu simpulnya adalah Lamipak, produsen kemasan aseptik yang menyuplai industri susu UHT.

Teknologi kemasan aseptik memungkinkan susu diproses secara steril dan bertahan lama tanpa pendinginan.

Bagi program berskala nasional seperti MBG, efisiensi distribusi menjadi kunci. Kemasan yang ringan, higienis, dan tahan simpan mempermudah penyaluran hingga ke sekolah-sekolah di berbagai daerah.

Ketika permintaan susu meningkat karena program publik, industri pengolahan susu dan kemasan ikut terdorong meningkatkan kapasitas.

Dampaknya merambat ke kebutuhan bahan baku naik, tenaga kerja terserap, distribusi bergerak, dan aktivitas ekonomi daerah menguat.

Program gizi, dalam konteks ini, tidak berdiri sendiri. Ia terhubung dengan peternak sapi perah, pabrik pengolahan, produsen kemasan, hingga sektor logistik. Setiap kotak susu menyimpan mata rantai ekonomi yang panjang.

Investasi yang Tak Terlihat

Bagi Dina semua itu mungkin terasa jauh, yang ia rasakan adalah tubuh yang lebih stabil untuk mengikuti kegiatan sekolah. Namun di balik kesederhanaan itu, ada kebijakan publik, data statistik, dan denyut industri yang saling terkait.

MBG menghadirkan dua wajah sekaligus, memastikan anak-anak dari keluarga rentan memperoleh akses gizi, dan menggerakkan sektor industri dalam negeri. Di ruang kelas Semarang, keduanya bertemu dalam satu kotak susu.

Pada akhirnya, investasi terbesar sebuah bangsa tidak selalu tampak megah. Ia bisa hadir dalam bentuk sederhana, bekal makan siang yang lebih lengkap, segelas susu yang diminum saat istirahat, dan kesempatan bagi seorang siswi untuk tumbuh lebih sehat, lebih kuat, dan lebih siap menyongsong masa depan.***

tag: berita, makanan bergizi, Lamipak, mbg


BERITA TERKAIT