Ukir Ceria Anak Negeri, Lamipak Hadir Menjaga Gizi

images

FOTO ISTIMEWA : Dua anak menikmati susu UHT dalam kemasan aseptik produksi Lamipak, yang dirancang menjaga kualitas dan kandungan gizi tetap terlindungi hingga sampai ke tangan konsumen.

Jateng

Bintang

20 Feb 2026


Oleh: Bintang Diega Pratama

Di sebuah rumah sederhana di sudut Kota Semarang, suara tawa Qiya (3) dan Zea (4) mengisi pagi. Di sela permainan mereka, ada satu kebiasaan yang tak pernah terlewat yiatu segelas susu sebelum beraktivitas.

Bagi sang ibu Asrof, susu bukan sekadar minuman ia adalah bagian dari tanggung jawab.

“Anak-anak saya sejak kecil minum susu karena saya tidak bisa memberikan ASI secara optimal. Jadi saya betul-betul perhatikan kualitasnya,” ujarnya, saat di jumpai Jurnalis Jatengreport.com, Kamis (19/2).

Qiya dan Zea tumbuh sebagai anak yang aktif dan periang, mereka gemar bermain di luar rumah, berlari di bawah matahari, bahkan tak jarang kehujanan. Imunitas menjadi perhatian utama.

“Saya tidak asal pilih. Kandungan gizinya harus jelas. Saya ingin imun mereka kuat,” kata Asrof.

Apa yang dilakukan Asrof adalah potret kecil kesadaran gizi keluarga Indonesia. Namun jika ditarik ke skala nasional, persoalannya jauh lebih kompleks.

Konsumsi Susu: Tantangan yang Masih Nyata

Dilansir dari laman resmi media Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, rata-rata konsumsi susu masyarakat Indonesia saat ini baru mencapai 16,6 liter per kapita per tahun.

FOTO ISTIMEWA : Dua anak menikmati susu kotak sebagai bagian dari asupan harian mereka, simbol pentingnya pemenuhan gizi sejak usia dini untuk mendukung tumbuh kembang generasi masa depan.

Angka tersebut masih jauh di bawah standar yang direkomendasikan Food and Agriculture Organization (FAO), yakni 30 liter per kapita per tahun.

Jika dibandingkan dengan negara ASEAN lain, Indonesia juga tertinggal. Malaysia mencapai 50,9 liter per kapita per tahun, Singapura 46,1 liter, dan Vietnam 20,1 liter.

Rendahnya konsumsi dan produksi dalam negeri berdampak pada tingginya ketergantungan impor. Sekitar 80 persen kebutuhan susu nasional masih dipenuhi dari luar negeri.

Ini bukan sekadar isu perdagangan, melainkan persoalan kemandirian pangan dan kualitas sumber daya manusia jangka panjang.

Susu, sebagai sumber protein hewani, kalsium, vitamin D, dan berbagai mikronutrien, memegang peran penting dalam pertumbuhan anak, penguatan tulang, hingga sistem imun.

FOTO ISTIMEWA : Dua anak menikmati susu UHT dalam kemasan kotak sebagai pelengkap asupan gizi harian, mendukung tumbuh kembang optimal sejak usia dini.

Dalam konteks pembangunan manusia, ia adalah bagian dari fondasi generasi masa depan.
Namun kualitas susu tak hanya ditentukan oleh kandungan gizinya, melainkan juga bagaimana ia diproses dan dijaga hingga sampai ke tangan konsumen.

Menjaga Nutrisi Tanpa Kompromi

Produk susu cair sangat rentan terhadap kontaminasi. Paparan udara, cahaya, dan mikroorganisme dapat merusak kualitasnya. Di sinilah teknologi kemasan aseptik memainkan peran penting.

Kemasan aseptik memungkinkan produk yang telah melalui proses pemanasan suhu tinggi waktu singkat (UHT) dikemas dalam kondisi steril.

Hasilnya, produk dapat bertahan hingga berbulan-bulan tanpa pengawet dan tanpa perlu pendinginan, cukup pada suhu ruang.

Salah satu produsen kemasan aseptik yang beroperasi di Indonesia adalah PT Lami Packaging Indonesia atau LamiPak.

Direktur Utama Hongbiao Li menjelaskan, kemasan aseptik memiliki sejumlah keunggulan dibanding kemasan biasa.

“Sterilitas produknya tinggi, sehingga memungkinkan makanan dan minuman tahan lebih lama tanpa pengawet dan tanpa perlu pendinginan. Teknologi ini juga menjaga nutrisi, rasa, dan aroma lebih baik karena proses UHT, sekaligus menghemat biaya distribusi,” ujarnya.

Menurutnya, keunggulan ini menjadi faktor penting dalam negara dengan wilayah geografis luas seperti Indonesia, di mana distribusi tidak selalu didukung rantai dingin yang merata.

Kapasitas Besar, Dukungan untuk Negeri

Beroperasi sejak 2024 di Serang, Banten, LamiPak memiliki kapasitas produksi hingga 21 miliar kemasan aseptik per tahun. Kapasitas tersebut memungkinkan pemenuhan kebutuhan kemasan untuk produk minuman maupun makanan, baik untuk pasar domestik maupun ekspor.

“Sebagian besar produk kami memang untuk diekspor. Tetapi bukan berarti pasar domestik bukan target kita. Kami mendukung program pemerintah,” kata Hongbiao Li, belum lama ini.

Pernyataan itu menggarisbawahi bahwa industri kemasan bukan sekadar sektor pendukung, melainkan bagian dari ekosistem ketahanan pangan dan gizi nasional.

Dengan teknologi yang menjaga kualitas susu tanpa ketergantungan pada pendinginan, distribusi menjadi lebih efisien.

Produk bisa menjangkau wilayah yang lebih luas, memperbesar akses masyarakat terhadap sumber nutrisi yang aman dan berkualitas.

Dari Rumah ke Pembangunan Bangsa

Di dapur rumahnya di Semarang, Asrof mungkin tak memikirkan kapasitas produksi miliaran kemasan per tahun atau strategi distribusi nasional.

Baginya, yang penting adalah Qiya dan Zea tumbuh sehat. Namun di balik segelas susu yang diminum anak-anaknya, ada rantai panjang yang bekerja seperti peternak, industri pengolahan, teknologi UHT, hingga kemasan aseptik yang menjaga sterilitas.

Setiap lapisan kemasan, setiap proses sterilisasi, adalah bagian dari upaya memastikan nutrisi tetap utuh hingga dikonsumsi.

Ketika konsumsi susu nasional masih di bawah standar dan ketergantungan impor masih tinggi, penguatan ekosistem industri termasuk kemasan menjadi langkah strategis.

Bukan hanya untuk menjaga kualitas produk, tetapi juga untuk memperluas akses dan mendukung program peningkatan gizi masyarakat.

Di tengah riuh tawa Qiya dan Zea, segelas susu mungkin tampak sederhana. Namun ia menyimpan makna yang lebih dalam tentang kesehatan, tentang harapan, dan tentang masa depan bangsa yang dibangun dari asupan gizi yang terjaga setetes demi setetes.***

tag: berita, Lamipak, Gizi, gizi bangsa


BERITA TERKAIT