Sampai Tujuan, Travoy Bikin Pengalaman Mudik Lebih Berkesan
Nasional
Bintang
18 Apr 2026
Oleh : Bintang Diega Pratama
Jarum jam menunjukkan pukul 03.45 WIB, udara dini hari masih dingin ketika Arif menyalakan mesin mobil di halaman rumahnya di pinggiran Jakarta.
Istri dan dua anaknya sudah duduk di dalam mobil. Koper, kardus oleh-oleh, dan bingkisan Lebaran tertata rapi di bagasi.
Seperti jutaan masyarakat Indonesia lainnya, Arif bersiap pulang ke kampung halaman di Jawa Tengah.
Mudik selalu menjadi momen yang ditunggu. Ada rindu yang ingin dituntaskan, ada tangan orang tua yang ingin disalami, ada masakan rumah yang selalu dirindukan.
Namun di saat bersamaan, mudik juga sering menghadirkan kecemasan seperti macet panjang, rest area penuh, perjalanan melelahkan, dan ketidakpastian di jalan.
Tahun ini, Arif ingin perjalanan berbeda.
Sebelum berangkat, ia membuka satu aplikasi di telepon genggamnya yaitu Travoy Apps.
Di layar ponsel, Arif melihat rute perjalanan lengkap, mulai dari ruas tol yang akan dilalui, estimasi waktu tempuh, tarif tol, hingga pilihan gerbang keluar.
Ia juga mengecek kamera CCTV yang menampilkan kondisi lalu lintas secara real-time. Salah satu ruas tampak mulai padat. Jalur lain masih lengang.
Arif memutuskan berangkat lebih cepat 15 menit dari rencana semula.
“Dulu kalau mudik itu berangkat ya berangkat saja. Sekarang saya bisa tahu situasi jalan dulu, jadi lebih tenang,” ujarnya, saat menceritakan mudiknya diwaktu itu.
Keputusan kecil itu terasa penting, sebab dalam perjalanan jauh selisih beberapa menit bisa menentukan apakah seseorang melaju lancar atau justru terjebak antrean panjang.
Di sinilah Travoy bekerja sebagai asisten digital perjalanan: membantu pengguna membuat keputusan sebelum masalah datang.
Perjalanan berlangsung lancar hingga memasuki tengah hari dan matahari mulai terik. Anak bungsu Arif mulai gelisah dan meminta berhenti. Sang istri juga mengusulkan beristirahat sejenak.
Disaat itu Arif kembali membuka Travoy, melalui fitur informasi rest area, ia melihat lokasi terdekat sedang padat. Area parkir hampir penuh. Ia lalu memilih rest area berikutnya yang jaraknya sedikit lebih jauh, tetapi lebih lengang dan memiliki fasilitas lengkap.
Keputusan itu membuat keluarganya bisa beristirahat dengan nyaman. Tidak perlu berputar mencari parkir. Tidak perlu antre panjang ke toilet.
Anak-anak bisa makan dengan tenang. Mobil pun bisa diisi bahan bakar sebelum perjalanan dilanjutkan.
“Disaat itu, saat mudik beberapa waktu lalu, saya benar-benar merasakan bagaimana Travoy menjadi teman perjalanan yang sangat membantu,” kata Arif.
Bagi sebagian orang, hal seperti itu mungkin terlihat sederhana. Namun bagi keluarga yang menempuh ratusan kilometer, kenyamanan kecil bisa menjaga suasana sepanjang perjalanan.
Mudik sering kali bukan melelahkan karena jaraknya, melainkan karena ketidakpastian.
Tidak tahu apakah jalan di depan macet. Tidak tahu rest area penuh atau tidak. Tidak tahu berapa biaya tol yang harus disiapkan. Tidak tahu kapan waktu terbaik untuk berhenti.
Travoy menjawab kegelisahan itu melalui informasi yang praktis dan cepat diakses.
Kepala Komunikasi Korporat dan Pengembangan Komunitas Jasa Marga, Lisye Octaviana, mengatakan Travoy telah terintegrasi dengan Google Maps dan menyediakan fitur perencanaan perjalanan, pilihan ruas tol, gerbang tol, estimasi durasi perjalanan, serta total tarif tol.
Selain itu, pengguna juga dapat memantau kondisi lalu lintas melalui lebih dari 3.500 CCTV dan sensor lalu lintas yang tersebar di ruas tol.
“Informasi fasilitas di rest area juga tersedia, termasuk toilet, SPBU, dan stasiun pengisian kendaraan listrik, sehingga pengguna bisa mengatur titik berhenti agar tidak menumpuk di satu lokasi,” kata Lisye, belum lama ini.
Artinya, pengguna tidak hanya dibantu sampai tujuan, tetapi juga dibantu menikmati proses menuju tujuan.
Dari seluruh fitur yang tersedia, layanan paling diminati pengguna ternyata adalah CCTV jalan tol real-time.
Disisi lain, Direktur Utama Jasa Marga, Rivan A. Purwantono, mengungkapkan fitur tersebut diakses sebanyak 3,59 juta kali.
Angka itu menunjukkan satu hal: pengguna jalan ingin melihat kondisi sebenarnya sebelum mengambil keputusan.
“Fitur CCTV jalan tol real time menjadi fitur yang paling favorit dengan 3,59 juta kali diakses. Ini menunjukkan kebutuhan pengguna jalan untuk memantau kondisi lalu lintas secara real time sehingga dapat menentukan waktu dan rute perjalanan yang lebih optimal, terutama saat arus mudik dan balik Lebaran,” ujar Rivan, Sabtu (18/4).
Selain CCTV, fitur tarif tol diakses sebanyak 500 ribu kali, fitur peta 240 ribu kali, informasi rest area 138 ribu kali, dan resi digital 103 ribu kali.
Data tersebut memperlihatkan perubahan perilaku pengguna jalan tol. Mereka kini semakin cerdas, aktif, dan terbiasa merencanakan perjalanan dengan dukungan teknologi.
Menjelang sore, mobil Arif memasuki jalan desa menuju rumah orang tuanya. Di teras rumah, sang ibu sudah berdiri menunggu. Anak-anak langsung berlari turun dan memeluk nenek mereka.
Dari dapur, aroma opor ayam dan ketupat menyambut hangat. Arif tersenyum. Perjalanan ratusan kilometer itu akhirnya selesai.
Namun kali ini ia tiba dalam kondisi berbeda. Tidak terlalu lelah. Tidak emosional karena macet. Tidak pusing karena perjalanan berantakan.
Ia justru masih punya energi untuk bercengkerama, tertawa, dan menikmati momen bersama keluarga.
“Biasanya mudik bikin capek duluan. Kali ini saya lebih nyaman dan bisa menikmati perjalanan,” ujarnya.
Travoy bukan sekadar aplikasi penunjuk jalan.
Ia adalah teman perjalanan. Ia hadir saat pengguna ingin tahu kondisi lalu lintas, saat keluarga membutuhkan tempat istirahat, saat pengemudi perlu menghitung biaya, dan saat perjalanan harus diatur ulang karena situasi di lapangan berubah.
Teknologi seperti ini penting karena mudik bukan hanya soal berpindah kota. Mudik adalah perjalanan emosional. Dan perjalanan emosional seharusnya tidak dirusak oleh stres yang sebenarnya bisa dicegah.
Indonesia akan selalu memiliki tradisi mudik. Setiap tahun, jutaan orang akan kembali pulang membawa rindu.
Namun cara orang menempuh perjalanan kini berubah. Dengan bantuan teknologi, mudik bisa dijalani dengan lebih tenang, lebih nyaman, dan lebih siap.
Travoy Apps menunjukkan bahwa perjalanan terbaik bukan sekadar yang cepat sampai tujuan.
Perjalanan terbaik adalah yang membuat setiap kilometer terasa berarti. Bukan hanya tiba di rumah, tetapi menikmati seluruh proses untuk pulang.***
tag: berita, Jasa Marga, Travoy apps, travoy rest, travoy