JNE Menembus Batas, UMKM Lepas Landas

images

FOTO ISTIMEWA : Komisaris Moko Garment Indonesia, Budi Turmoko, membantu proses penyiapan paket pesanan pakaian sebelum dikirim melalui layanan JNE ke pelanggan di berbagai wilayah Indonesia.

Jateng

Bintang

03 Jun 2026


Oleh : Bintang Diega Pratama

SEMARANG (Jatengreport.com) - UMKM masih menjadi fondasi utama perekonomian Indonesia. Dari sekitar 30,19 juta unit usaha yang beroperasi di berbagai sektor, lebih dari 99 persen merupakan usaha mikro, kecil, dan menengah.

Di tengah besarnya jumlah tersebut, hanya sebagian yang mampu bertahan dan berkembang hingga menjangkau pasar nasional bahkan internasional.

Salah satu kisah itu datang dari Semarang.

Di sebuah kamar berukuran 2 x 3 meter, Moko Garment Indonesia memulai perjalanan usahanya pada 2012. Tidak ada pengalaman panjang di industri garmen.

Tidak ada fasilitas produksi yang memadai. Yang ada hanya tekad untuk menjaga kualitas dan keberanian mengambil risiko di tengah keterbatasan modal.

Empat belas tahun kemudian, usaha yang lahir dari ruang sederhana itu berkembang menjadi produsen seragam kerja yang melayani perusahaan swasta, BUMN, hingga pelanggan mancanegara. Hampir 100 tenaga kerja kini menggantungkan hidupnya pada perusahaan tersebut.

Perjalanan Moko Garment menjadi potret bagaimana sebuah UMKM tumbuh melalui proses panjang, kemampuan beradaptasi, dan dukungan ekosistem usaha yang saling terhubung.

Komisaris Moko Garment Indonesia, Budi Turmoko, mengisahkan bahwa perusahaan yang dipimpinnya tidak lahir dari pengalaman di industri tekstil.

Sebelum mendirikan Moko Garment, ia bersama rekan-rekannya lebih dahulu menjalankan usaha advertising yang melayani berbagai kebutuhan promosi perusahaan.

Dari usaha tersebut, permintaan seragam kerja terus berdatangan. Namun, kualitas hasil produksi dari pihak ketiga kerap sulit dikendalikan. Di sisi lain, pelanggan menuntut kualitas produk yang baik dan ketepatan waktu pengiriman.

"Kami ingin memastikan kualitas tetap terjaga dan produksi bisa tepat waktu. Dari situ akhirnya muncul pemikiran untuk memiliki fasilitas produksi sendiri," kata Budi, Selasa (2/6)

Keputusan itu menjadi titik awal perjalanan baru.
Dengan modal terbatas dan minim pengalaman di bidang garmen, Budi bersama tim mulai mempelajari seluruh proses produksi dari nol.

Mereka belajar memahami karakter bahan, teknik jahit, bordir, pewarnaan, hingga proses pengendalian kualitas yang dibutuhkan pelanggan.

Seiring waktu, sistem produksi dibangun semakin terstruktur. Moko Garment merekrut tenaga profesional untuk memperkuat kemampuan teknis sekaligus menyusun standar kualitas yang lebih ketat.

Potret suasana kerja di ruang produksi PT Moko Garment. Terlihat mesin-mesin canggih dan para pekerja yang sedang fokus melakukan tugas mereka.

Langkah tersebut menjadi fondasi penting bagi perkembangan perusahaan.

Alih-alih bermain di pasar produksi massal, Moko Garment memilih fokus pada segmen seragam kerja dan uniform korporasi. Segmen ini membutuhkan standar kualitas tinggi karena produk yang digunakan bukan sekadar pakaian kerja, melainkan bagian dari identitas perusahaan.

Karena itu, setiap tahapan produksi mendapat perhatian khusus. Mulai dari pemilihan bahan, kualitas jahitan, ketahanan warna, hingga detail bordir.

"Produk yang kami hasilkan harus nyaman dipakai, aman, dan mampu mencerminkan identitas perusahaan yang menggunakannya," ujar Budi.

Strategi tersebut membuahkan hasil.

Saat ini sekitar 90 persen penjualan Moko Garment berasal dari pasar domestik. Sisanya telah menjangkau sejumlah negara, termasuk Oman, Cyprus, dan beberapa negara di Eropa.

Pertumbuhan usaha juga berdampak pada penyerapan tenaga kerja. Selain mempekerjakan hampir 100 karyawan, perusahaan secara rutin menerima siswa praktik kerja lapangan (PKL) dari sejumlah sekolah kejuruan.

Salah satunya adalah SMK Negeri 1 Kendal yang setiap tahun mengirim puluhan siswa untuk belajar langsung di lingkungan industri.

Menurut Budi, dunia kerja saat ini tidak hanya membutuhkan keterampilan teknis, tetapi juga kemampuan beradaptasi terhadap perkembangan teknologi dan perubahan pasar.

Karena itu, para peserta PKL tidak hanya diperkenalkan pada proses produksi, tetapi juga pengendalian kualitas, manajemen operasional, hingga pemanfaatan teknologi dalam kegiatan usaha.

Di tengah pertumbuhan bisnis tersebut, tantangan lain muncul dari sisi distribusi.

Salah satu pemilik (owner) Moko Garment memperlihatkan contoh baju keselamatan kerja (safety wear) untuk mendukung keamanan pekerja

Semakin luas jangkauan pasar, semakin tinggi pula kebutuhan terhadap layanan logistik yang mampu menjamin ketepatan waktu pengiriman.

Dalam industri seragam kerja, keterlambatan pengiriman dapat berdampak langsung terhadap operasional pelanggan.

Produk yang telah selesai diproduksi harus tiba sesuai jadwal dan dalam kondisi baik.

Untuk mendukung kebutuhan tersebut, Moko Garment menjalin kerja sama jangka panjang dengan JNE.

"Kerja sama dengan JNE sudah cukup lama. Pengirimannya tepat waktu dan keamanan barang juga terjamin. Itu sangat penting untuk menjaga kepercayaan pelanggan," kata Budi.

Bagi Moko Garment, ketepatan distribusi menjadi bagian dari kualitas layanan yang diberikan kepada pelanggan. Sebab, kepercayaan tidak hanya dibangun melalui kualitas produk, tetapi juga melalui kemampuan memenuhi komitmen pengiriman.

Kebutuhan tersebut juga menjadi alasan JNE terus mengembangkan berbagai layanan logistik yang dapat menjangkau beragam segmen pelanggan, mulai dari individu, UMKM hingga korporasi.

Branch Manager JNE Semarang, Wahyu Sangerti Alam, menjelaskan bahwa perkembangan perdagangan digital telah mendorong meningkatnya kebutuhan layanan distribusi yang cepat, aman, dan fleksibel.

Untuk menjawab kebutuhan tersebut, JNE menyediakan berbagai pilihan layanan pengiriman. Mulai dari YES (Yakin Esok Sampai) yang menjamin paket tiba keesokan hari, REG (Reguler) dengan jangkauan ke seluruh Indonesia, OKE (Ongkos Kirim Ekonomis) yang menawarkan tarif lebih terjangkau, hingga SS (Super Speed) dengan estimasi pengiriman maksimal 24 jam.

Namun, bisnis logistik saat ini tidak lagi sekadar mengirim paket.

Menurut Wahyu, kebutuhan pelanggan berkembang ke arah pengelolaan rantai pasok yang lebih menyeluruh. Karena itu, JNE juga menghadirkan layanan melalui JNE Logistics yang melayani pergudangan, distribusi korporasi, manajemen rantai pasok, hingga penanganan kargo khusus seperti alat berat dan kendaraan.

Sementara itu, JNE Freight melayani kebutuhan logistik domestik maupun internasional dalam skala besar, termasuk layanan kepabeanan, angkutan laut, dan angkutan udara.

"Selain itu kami juga memiliki Roket Indonesia, layanan kurir instan berbasis aplikasi yang melayani pengiriman dalam kota dengan waktu pengiriman hanya hitungan jam," ujar Wahyu, belum lama ini.

Menurutnya, kekuatan JNE tidak hanya terletak pada luasnya jaringan distribusi, tetapi juga dukungan sumber daya manusia dan armada operasional yang memadai.

Khusus di wilayah Semarang, JNE didukung sekitar 600 karyawan dan lebih dari 100 armada operasional yang melayani kebutuhan distribusi pelanggan setiap hari.

Dari berbagai layanan yang tersedia, layanan REG masih menjadi pilihan utama masyarakat. Selain menawarkan tarif yang kompetitif, layanan tersebut memiliki jangkauan pengiriman yang luas sehingga mampu menjawab kebutuhan mayoritas pelanggan.

Secara nasional, volume pengiriman JNE mencapai sekitar satu juta paket per hari. Angka tersebut mencerminkan tingginya aktivitas distribusi barang sekaligus meningkatnya kebutuhan layanan logistik di tengah pertumbuhan ekonomi digital Indonesia.

Di balik tingginya volume pengiriman tersebut, sektor UMKM menjadi salah satu kontributor terbesar.

Wahyu menyebut lebih dari 40 persen kontribusi pengiriman berasal dari segmen korporasi, sementara sekitar 30 persen berasal dari retail dan social commerce yang sebagian besar digerakkan oleh pelaku UMKM.

Besarnya kontribusi tersebut mendorong JNE menghadirkan berbagai solusi yang dirancang untuk membantu UMKM berkembang lebih cepat.

Salah satunya melalui layanan fulfillment service atau third party logistics (3PL). Melalui layanan ini, JNE menyediakan fasilitas pergudangan, pengelolaan stok, pengemasan, hingga pengiriman barang kepada pelanggan.

Dengan demikian, pelaku usaha dapat lebih fokus pada pengembangan produk dan perluasan pasar tanpa harus terbebani urusan operasional logistik sehari-hari.

"Layanan fulfillment ini kami hadirkan dengan biaya yang sangat terjangkau dan bahkan tersedia fasilitas free trial sehingga UMKM bisa mencoba terlebih dahulu manfaatnya," kata Wahyu.

Bagi pelaku usaha yang sedang bertumbuh, layanan tersebut menjadi solusi untuk meningkatkan efisiensi sekaligus mempercepat distribusi produk ke konsumen.

Kisah Moko Garment menunjukkan bahwa pertumbuhan UMKM tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menghasilkan produk berkualitas. Dibutuhkan pula dukungan ekosistem yang mampu menghubungkan ruang produksi dengan pasar yang lebih luas.

Dari sebuah kamar berukuran 2 x 3 meter di Semarang, Moko Garment berhasil menjangkau pelanggan di berbagai daerah hingga mancanegara. Sementara di balik setiap produk yang dikirim, terdapat jaringan logistik yang memastikan hasil produksi sampai ke tangan pelanggan secara tepat waktu.

Kolaborasi antara pelaku usaha dan penyedia layanan logistik menjadi salah satu faktor penting yang memungkinkan UMKM terus tumbuh, membuka lapangan kerja, dan memperluas kontribusinya terhadap perekonomian nasional.***

tag: berita, jne, jnecontentcompetition2026, jne35


BERITA TERKAIT